Jika kamu berdiri diberanda belakang, maka sejauh mata memandang yang akan kamu temui adalah hamparan sawah yang menghijau dan beberapa pepohonan yang tersembul diantara pematangnya, nun jauh diujung timur, sebuah bangunan rumah tersamar ditutup kabut. Orang2an sawah berdiri membisu, terkadang melambai tertiup angin. Jika senja tiba, lukisan alam kembali tercipta seperti goresan warna sempurna yang semburat dalam lembar kanvas, indah....sangat indah.
Diberanda belakang ini sering kuhabiskan waktuku di pagi atau sore hari saat lukisan alam tercipta dalam mozaik yang begitu rupawan dan sempurna, segelas kopi hitam manis dan sebungkus rokok menjadi teman setiaku. Seperti sore ini, sepulang kerja untuk melepas penat yang serasa meremukkan badan, kumanjakan tubuhku menikmati hembusan angin yang bertiup lembut menyapa pucuk2 padi yang menguning, hmmm..what a wonderful moment. Ditengah kekhusyukanku menikmati suasana, aku dikejutkan oleh suara langkah kaki.
"sore mas..."
"sore...." aku menjawab lirih sambil membalas senyumannya, kuikuti perempuan yang menyapaku tadi dengan ekor mataku sampai dia menghilang dibalik pintu.
Beruntungnya aku, selain mendapat tempat kost yang asyik dan strategis, aku juga mendapat bonus dua tetangga molek, bohai, semok, geulis dll, ini cewek lho....perlu diingat CEWEK. Aku tidak tertarik dengan jenis kelamin yang : sesama, plin plan (tergantung situasi), apalagi yg hermaprodit...hi amit-amit.
Kamar mereka berada tepat disebelah kanan dan kiriku, artinya aku ditengah2 (kamarku maksudnya), sebagai makhluk hidup yang berpredikat makhluk sosial, rugi dong kalau tidak memanfaatkan keadaan, tepatnya dikemas dalam program simbiosis mutualisme, ibaratnya : jika mereka bunga aku lebahnya, jika mereka kuda aku penunggangnya, jika mereka TV rusak aku tukang servisnya (heleh....intine ra gelem rugi). Oke gini, biar tak menimbulkan praduga bersalah, aku beberkan peristiwanya, jika ada plafon bocor, kompor rusak, perlu tukang angkat lemari, tukang angkat elpiji, relawan megangin kawat jemuran, megangin antena diatas genteng, sepeda motor carteran, sasaran utama mereka adalah aku. Untuk mengimbangi ketidakbermakhlukan mereka, aku cuma memanfaatkan dua hal (hayo...kurang baik apa aku), hal itu adalah secangkir air panas untuk kopi jika komporku ngadat atau kehabisan gas, dan yang kedua...ini asyik, sangat asyik....menikmati pemandangan yang terhampar begitu saja didepan mata, tak kalah indah dan uniknya dengan panorama beranda belakang, yaitu cara berpakaian mereka yang menganut aliran "minimalis style", eits..... tunggu dulu, aku bukan parafilia, apalagi voyeurisme, meski aku hidup berjauhan dengan istriku, tapi kehidupan seksku normal...sangat normal. Jadi jangan berpikiran yg macam2, aku cuma tidak ingin menyia-nyiakan sesuatu yg telah tersedia, sayang...mubazir...(mubazir itukan dosa, hehheh cari pembenaran).
Aku tak habis pikir dan kagum atas kekebalan imun tuh cewek2, aku saja yg terbiasa dengan kaos oblong dan celana boxer, bisa2 kena penyakit angin duduk, kembung, jika terlalu lama membuka pintu belakang yang berhadapan langsung dengan persawahan, apalagi disaat cuaca tak bersahabat. Tapi mereka sungguh luar biasa, bukan main perkasanya, tak peduli subuh, terik menyengat, malam menggigit, dengan santainya hanya mengenakan baju "you can see" separo...(of course i can see), dan dipadu dengan bawahan celana pendek yang mungkin lambat laun bisa dikategorikan kegolongan "cawat-cawatan". Setahuku mereka slalu prima, ga pernah masuk angin, kembung, ga pernah terlihat bekas kerokan dipunggungnya, tempelan koyo' atau sejenisnya, ajaibnya juga kostum mereka tak pernah mengenal yang namanya musim dan acara. Mau musim penghujan, kemarau, angin ribut, angin puting beliung, musim duren, musing rambutan, musim mangga...huahh...begitupun acaranya, mau acara masak, nyuci, nyari kutu (petanan), manjat pohon jambu, godain tukang sayur lewat, kawinan (yg ini ngarang, ga pernah diajak sih)...aku jadi curiga, jangan2 koleksi pakaian mereka yg selemari isinya cuma dua model saja.
Sebagai lelaki normal, kebanyakan, pada umunya dan bukan hipokrit, aku suka melihatnya, hanya suka, hiburan semata, tak pernah ada keinginan lebih. Kalaupun, andaikata, seandainya mereka gelap mata menawarkan diri secara suka rela, aku akan menolaknya, sungguh....bukan karna terbebani tanggung jawab moral yg hrs kupertanggung jawabkan kepada Tuhan dan istriku, tapi terlebih karna aku adalah lelaki yang hidup dengan tantangan, aku lebih suka mendaki gunung, menuruni ngarai, menjelajah samudra, merambah rimba hanya untuk mendapatkan yg kuinginkan. Bukan juga congkak, tapi jika terlalu mudah didapatkan, akan kehilangan esensi kenikmatan dari proses mencapainya, "aku ini tipe penyerang, bukan diserang".
Tapi setan tak pernah letih menghasut manusia, sebagai lelaki yg hidup berjauhan dgn pasangan, yg baru bisa bertemu dua bulan sekali, dan terlahir sebagai lelaki normal yang memiliki tingkat keimanan dibawah rata2, tak kupungkiri terkadang molekul2 hormon testosteronku membelesak, membuncah.....awalnya aku panik, tidak siap dgn keadaan genting spt ini, namun waktu menempaku, pengalaman mengajariku untuk menguasai keadaan spt ini secepatnya. biasanya aku alihkan dengan menelpon istri dan anak2ku, canda tawa dan celoteh si bungsu menghapus semua gejolak, atau aku alihkan perhatianku dengan menonton siaran bola. Putus asakah setan??? jawabnya tidak....ditengah upayaku yg mati2an meredam dorongan birahi, tanpa sopan santun sedikitpun para setan menghasut lingkunganku, tidak percaya??? tengoklah dibesi jemuran yang terpancang tepat didepan pintu masuk kamarku, berpuluh-puluh underwear perempuan dengan aneka corak warna dan jenis, berkibar kibar mengerling padaku, busyet dah....knapa sih harus dipajang ditempat yg mudah dijangkau oleh mata hiii........semoga Tuhan masih melindungiku, jangan sampai tergiur rayuan underwear yg melambai.....
So...ada yg tertarik berkunjung ke tempat kost ku??? terutama bagi kalian para lelaki tulen, saranku bawalah celemek untuk menadah air liur yg kemungkinan besar akan menetes......
tempat kost sing penak, pemandanganne apik2....hehehe...
BalasHapus