INI SERABI AROMA PANDAN, KAWAN

IMPERIUM OF ME



Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERPEN. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Juni 2012

CINTA DALAM SEPOTONG AYAM TEPUNG


Emak terkantuk-kantuk diatas ambin bambu, tiduran dengan posisi miring, tangan kanannya menopang berat kepalanya, sedang tangan kirinya menepuk-nepuk pantat si kecil rohim, anak bungsunya yang umurnya belum genap dua tahun. Sebelah payudaranya dikeluarkan menggelantung, sedang putingnya membelesak kedalam bibir mungil si bocah. Didalam hati emak merasa kesal, sudah hampir sejam Rohim mengisap dan menguras air susunya, tapi anak itu belum jua terlelap nyenyak, padahal puting susunya sudah terasa bengkak dan ngilu. Mungkin karena cuaca diluar terik dan panas, sehingga udara dalam rumahpun terasa panas dan gerah, terbukti dari banyaknya keringat yang bercucuran disela-sela tubuhnya, begitupun pada tubuh mungil disampingnya. Bocah itu sedikit gelisah, meski matanya terpejam, tapi tangan dan kakinya kerap bergerak-gerak. Sesekali emakpun mengipas-ngipas berusaha menangkap udara dengan ujung kain gendongan yang sebagian masih melilit ditubuhnya.
Tiba-tiba sayup terdengar suara derap langkah kaki bergegas mendekat, kian lama kian terasa dekat, lalu kemudian terdengar suara pintu depan dibuka dengan keras dan serampangan.
“Mak….mak….” suara serempak berbarengan menyeruak masuk dengan keras.
Ssttt….sssttt….emak menangkupkan jari telunjuknya dibibir, matanya sedikit melotot kearah dua pemilik suara itu. Nur dan soleh, anak pertama dan keduanya itu seketika terdiam, mengerti. Namun dengan tersenyum-senyum simpul, soleh mengacung-acungkan sebuah bungkusan ditangannya, Nur pun tak kalah sumringahnya. Lalu keduanya berjingkat-jingkat menuju kursi kayu disebelahnya, dan meletakkan bungkusan yang dibawanya diatas meja. Kedua kakak beradik itu duduk saling berhadapan, mata mereka tak lepas dari bungkusan didepannya. Bungkusan itu berupa sebuah tas kresek bening transparan, yang didalamnya berisi kotak kardus kecil warna merah, seperti kotak nasi pengajian tapi lebih kecil.
“tunggu emak dulu…” kata Nur dengan suara pelan, sang adik menganggukkan kepala masih dengan senyum mengembang penuh dibibirnya. Tak lama, terdengar suara ambin berderit dibelakang, akhirnya emak berhasil juga menidurkan si kecil, emak beringsut turun dari ambin sambil menjejalkan sebelah payudaranya kedalam kutang hitam buluknya, lalu mengancingkan bajunya. Dengan langkah sedikit terhuyung karena efek dari terlalu lama tidur miring, emak menghampiri kedua anaknya yang masih juga lekat menatap bungkusan didepannya.
“apa yang kalian bawa itu??”
“ga tau mak, bu Edi yang ngasih, katanya mbak Vina yang bawa tadi malam sepulang kerja, dan katanya juga, dirumah bu Edi sudah ga ada yang mau memakannya, bosan” sahut Nur.
Emak mendekat lalu menghempaskan tubuhnya dikursi kayu disamping Nur, ikut menatap lekat bungkusan itu.
“Emak, saja yang buka….cepetan mak, itu pasti makanan” soleh sudah tak sabar ingin mengetahui apa gerangan isi dalam kotak merah itu.
Suara pintu terbuka, bersamaan dengan dikeluarkannya kotak merah itu dari dalam tas kresek, serentak ketiganya menoleh, ah rupanya bapak pulang. Seorang laki-laki paruh baya hitam legam dengan baju yang basah oleh keringat, masuk sambil mengucapkan salam perlahan.
“sedang apa kalian?” Tanya laki-laki itu
“sini pak, duduk dekat soleh, yang dimeja itu makanan pak….makanan orang kaya”. Bapak tak segera duduk, melainkan membuka baju lusuhnya lalu menggantungkan bajunya pada paku yang tertancap didinding dekat pintu kamar. Sekilas dilihatnya rohim anak bungsunya tertidur pulas diatas ambin. Ruangan itu memang tak bersekat, dibagian depan terdapat kursi-kursi kayu yang ditata sedemikian rupa, dan dibagian belakangnya sebuah ambin bambu diletakkan menempel kedinding yang juga terbuat dari bambu. Disamping ambin diletakkan sebuah meja kecil, dan diatas meja itu ada sebuah kendi air minum yang terbuat dari tanah liat, air dalam kendi itu selalu terasa sejuk terutama ketika cuaca sedang panas.
Bagi keluarga miskin itu, ruangan tak bersekat berlantai tanah dan berdinding bambu ini, memiliki arti tersendiri dan memiliki banyak fungsi.  Sebagai tempat menerima tamu saat lebaran, karena pada hari-hari biasa tak ada orang yang mau bertandang ke rumah reot itu, mungkin takut jika tiba-tiba saja rumah itu ambruk dikarenakan posisinya yang memang agak doyong. Kedua sebagai ruang makan, karena selain dapur mereka sempit, juga karena satu-satunya meja dan kursi yang mereka miliki ya diruang tamu itu. Ketiga sebagai tempat berkumpulnya keluarga, tempat Nur dan soleh belajar, tempat bapak membersihkan arit dan cangkulnya, tempat emak mengeroki punggung bapak ketika masuk angin dll. Hampir seluruh aktivitas keluarga itu dilakukan diatas kursi-kursi kayu lapuk dan ambin bambu di ruangan itu. Rumah itu hanya memiliki satu kamar saja, yang didalamnya terdapat sebuah ambin bambu cukup besar, tempat  emak, Nur, Soleh, dan Rohim tidur, sedang bapak tidur di ambin luar.
                Akhirnya bapak duduk disamping Soleh, tangannya sibuk melinting tembakau. Nur dan Soleh dari tadi bergerak-gerak gelisah, tak sabar ingin segera melihat isi bungkusan. Dan akhirnya emak membukanya juga, semua kepala merubung mendekat. Dalam kotak merah itu terdapat satu potong utuh penganan dan yang satunya lagi hanya separuh. Mungkin sisa bu Edi yang tak habis memakannya karena bosan. Emak mencuil kulit penganan itu, Nur dan Solehpun ikut-ikutan.
“ini tepung, tapi rasanya enak dan gurih” ujar emak, Nur dan soleh mengiyakan. Lalu emak mencuil bagian dalamnya, Nur dan Solehpun ikut-ikutan.
“ayam mak…ini ayam…”Soleh terlonjak sambil berseru keras, matanya nyata sekali berbinar-binar
“sstt….pelankan suaramu, nanti Rohim bangun” Nur mengingatkan adiknya itu, yang saking girangnya sampai lupa bahwa ada Rohim yang sedang tertidur di ambin belakang.
“wah…rejeki nomplok, kebetulan sekali hari ini emak hanya masak oseng genjer sebagai pauk”
“tapi jangan dihabiskan semua ya mak….yang utuh kita bagi berempat, dan yang separuh untuk Soleh nanti malam ya mak…” ujar Soleh sedikit merengek
“iya mak, Nur juga mau..” Nur menimpali, emak mengangguk dan tersenyum. Kemudian mata emak bersiborok dengan mata bapak, ada cakap bahasa yang hanya mereka pahami berdua saja, bapak menghisap rokok lintingnya dalam-dalam, dan emak kemudian berlalu ke dapur untuk menyiapkan hidangan, Nur mengekor dibelakangnya untuk membantu. Sejurus kemudian, didalam piring seng keempat orang itu, ada menu tambahan istimewa yang biasanya hanya mereka dapatkan pada hari-hari tertentu---lebaran misalnya---itupun hasil dari pemberian tetangga. Ayam adalah lauk istimewa buat mereka, dan sekarang mereka sedang menikmati lauk istimewa itu---bukan di hari Lebaran--- meski masing – masing hanya mendapat bagian yang ukurannya tak sampai dua kali ukuran jempol orang dewasa. Bahkan Emak dan bapak, porsi kulit tepungnya lebih besar dari isi dagingnya. Ah…tak apalah yang penting daging untuk Nur dan Soleh cukup. Melihat kedua anaknya lahap menyantap makanan siang itu, mata emak langsung berkaca-kaca, dadanya sesak dan serasa tak mampu mengunyah makanan dimulutnya. Bapak menangkap gundah itu, dengan isyarat matanya seakan bapak ingin berkata:  “sudahlah…tak perlu bersedih, nikmati dan syukuri saja apa yang diberikan Tuhan hari ini”.
                Hari hampir petang, sebentar lagi matahari terhisap batas langit di sebelah timur. Di sebelah timur pula awan-awan berwarna oranye mengambang sempurna. Semburat cahaya membilah-bilah langit dengan indahnya, dan burung-burung plekok membuat formasi anak panah hilir mudik untuk kembali kesarang, menambah sempurnyanya tampilan cakrawala. Emak menimba air di perigi, meski terpisah tapi letaknya hanya sepelemparan pandangan dari rumah. Suara timba ditarik berderit keras, ini karena kumparannya jarang diminyaki. Emak mengisi air ke dalam gentong lumutan yang bagian samping bawahnya sudah dilubangi, lubang kecil itu disumpal dengan potongan kayu yang tentunya disesuaikan dengan ukuran lubang, agar air tak mancur keluar. Dan gentong itu sendiri diletakkan disebuah batang kayu yang dipasang berdiri sebagai penopang, kira-kira tingginya setengah badan orang dewasa. Sehari-hari gentong itu dijadikan tempat menampung air untuk berwudhu.
“Nuurrr….Leeehhh….cepetan ambil wudhu, gentongnya sudah mak isi…” dengan sedikit berteriak emak memanggil kedua anaknya itu. Lalu tak lama dari pintu belakang rumah, muncullah Nur dan soleh. Nur yang menggendong Rohim adiknya, segera mengangsurkan bocah kecil itu kepada emaknya kembali. Setelah mengambil air wudhu, kedua anak itu kembali memasuki rumah, melewati dapur yang kecil dan berjelaga disana-sini. Sampai di ruangan utama, Soleh menyempatkan diri menengok ayam tepung “separuhnya” yang emak sisihkan diatas meja kecil dekat ambin. “Ayam tepung” itu berada dalam piring seng, berdampingan dengan kendi air minum. Mata Soleh mengerjap riang, terbayang olehnya nanti sepulang dari mengaji di Langgar, daging ayam berbumbu itu menari-nari dilidahnya, ah…..tak sabar rasanya….ia tak mengerti mengapa hari ini rasa lapar begitu cepat hinggap diperutnya. Adzan maghrib sudah bergema dari arah Langgar, sebelum berlalu Soleh mengerlingkan matanya kearah ayam tepung itu.
                Maka di Langgar, bocah laki-laki berusia 8 tahun itu gelisah sangat. Duduknya tak bisa diam, huruf-huruf Hija’iyah yang ia lafalkan dari bibirnya, tak mengena di hatinya. Pelajaran Tajwid dari ustad Rasyid, tak satupun hinggap diotaknya. Benak Soleh dipenuh dengan gambaran-gambaran ayam tepung itu. Dan ketika sholat Isya’ sampai pada akhir salam, Soleh langsung mengendap-ngendap kabur untuk pulang. Sampai dirumah, dengan nafas memburu dan ngos-ngosan Soleh langsung menuju ke meja kecil tempat ayam tepungnya tadi diletakkan. Tapi….apa yang didapatinya, piring sengnya kosong. Soleh mencari emak didapur, siapa tahu ayam itu sedang dihangatkan oleh emak, tapi emak tak ada di dapur. Lalu ia kembali bergegas mencari emak dikamar, dijumpainya emak tertidur disamping Rohim adiknya. Dengan perlahan Soleh menggoyang-goyangkan kaki emaknya.
“mak….mak…” sedikit tersentak emak bangun, lalu menoleh.
“ayamnya mana mak…???”
“ayam apa…??”
“ayam tepung…”
“kan di samping kendi…”
“gak ada mak…!!”, emak langsung bangkit, perasaannya tak enak, karena emak baru ingat bahwa tadi ia lupa menaruh penutup untuk ayam tepung itu. Jangan….jangan….
Mata Soleh berkaca-kaca, hidungnya kembang kempis, dadanya naik turun menahan isak ketika didapatinya emakpun tak menemukan ayam itu. Nur dan Bapak yang baru pulang dari Langgarpun tak mampu berkata, ketika mengetahui bahwa ayam tepung itu raib. Bapak masuk kamar mengambil senter kecil, lalu bergegas keluar rumah. Dengan bantuan cahaya senter, mata tua bapak berusaha menyisir halaman gelap didepan rumah, menyingkap rumpun-rumpun daun beluntas yang tumbuh sebagai pagar rumah, menyibak tumbuhan kemangi dan kenikir, tapi apa yang dicarinya tak jua ia dapati. Ini pasti ulah kucing, bathin bapak geram. Bapak harus segera menemukannya, siapa tau belum terlambat, maka laki-laki tua itu menuju samping rumah, menyinari tiap sudutnya.
Sampai dibagian belakang rumah dekat perigi, disanalah bapak menemukan jawabannya. Seekor kucing kurus belang coklat lahap menyantap potongan ayam tepungnya. Bapak terlambat, karena kucing itu tak menyisakannya sedikitpun, hanya satu serpihan tulang kecil, bapak menghela nafas berat.
                Sudah tiga hari ini Soleh murung. Senyumnya menghilang, tak bersemangat, dan ia menjadi pendiam. Tak kurang kata Bapak, Emak dan Nur membujuknya, namun durja dimata bocah laki-laki itu tak mau sirna. Emak merutuki dan menjadi benci sebab mula kejadian ini, gara-gara ayam tepung “sialan” yang memiliki nama susah dilafalkan lidah itu, anak laki-laki kesayangannya sekarang menjadi bersusah hati.
Coba bapak baca apa namanya ayam tepung itu, nanti emak coba kerumah bu Edi untuk menanyakan dimana membelinya”, meski tak buta huruf, emak tak pandai membaca. Bapak meraih kardus merah kecil itu, sejak kedatangannya dan meski isinya sudah tak ada, kardus merah itu tak dibuangnya, Nur melipatnya rapi dan memajangnya disamping kendi.
Kentukki….fri…et…ce-hi-ken…” begitu bapak mengejanya. Tak paham pula apa itu artinya. Tak habis mengerti pula, kenapa ada orang memberi nama makanan begitu susahnya. Bapak hanya menggeleng-geleng, emak makin dongkol demi mendengar nama dari ayam tepung itu.
Ke-esokan paginya, sambil menggendong Rohim, emak pergi kerumah bu Edi, untuk menanyakan dimana tempat untuk membeli ayam tepung itu. Emak tak peduli meski malamnya bapak sudah memperingatkan bahwa itu akan sia-sia saja, makanan itu makanan orang kaya, dan harganyapun takkan mampu terbeli. Emak kekeh, tak ada ruginya untuk mencoba menanyakannya. Dan karena emak tak pandai melafalkan nama makanan itu, maka kardus merah bungkus ayam tepung itu dibawanya serta.
Sepulang dari rumah bu Edi, sepanjang perjalanan, serasa tak berpijak kaki emak melangkah. Pikiran emak melesat tak tentu arah, namun sayangnya hanya terpantul-pantul dalam kepalanya saja. Kata bu Edi satu potong ayam tepung itu harganya dua puluh ribu, itu berarti upah kerja bapak membersihkan ladang orang selama dua hari, itupun jika ada yang menyuruh. Jika upah dua hari itu dibelikan ayam tepung yang memiliki nama aneh itu, berarti selama dua hari pula mereka tak bisa membeli beras. Terus mau makan pakai apa...masak ayam saja, yang tentu tak kan mungkin mengenyangkan perut, dan habis sekali kunyah saja. Selebihnya terpaksa harus berpuasa. Mau ngutang beras di warung emak malu, catatan bonnya sudah panjang seperti ular, mau menjual barang.....ga ada  satupun barang berharga  yang bisa dijual. Emak pusing tujuh keliling, kalau ia tak bisa membeli ayam tepung itu, berarti emak akan kehilangan senyum ceria anak lelaki kesayangannya dalam waktu yang entah sampai kapan, dan emak tak mau itu. Sepanjang jalan, emak berpikir keras bagaimana caranya untuk mendapatkan uang tambahan, berkali-kali kakinya terantuk batu karena emak tak fokus jalannya. Dalam gendongannya Rohim tertidur terpantul-terpantul, bibir mungilnya tak mau lepas dari puting emaknya.
Dalam kegalauannya tiba-tiba ada suara lelaki yang memanggil emak. “mak Munah...mak Munah...”, rupanya laki-laki itu pak Sanip, juragan kacang. Emak datang menghampiri pak sanip yang berdiri di samping pick up hitamnya.
“ada apa gan...??”
“gini mak....Romlah pegawai saya ijin pulang kampung tiga hari, jadi saya kekurangan orang untuk ngupas kacang, kalau mak Munah mau, emak bisa gantiin Romlah sementara, gimana mak...” tanya juragan Sanip. Tanpa berpikir dua kali emak langsung setuju mengiyakan, dan dengan hati-hati sedikit meminta pada juragan Sanip untuk bersedia membayarkan upahnya dimuka. Emak menceritakan peristiwa “ayam tepung” yang menyusahkan hatinya saat ini. Untunglah juragan Sanip orang yang baik, ia mengabulkan permintaan emak, bahkan juragan memberi tambahan lima ribu. Emak senang bukan kepalang dan berkali-kali mengucapkan terima kasih pada juragan Sanip.
Emak tak jadi pulang, dengan sedikit bergegas emak kembali menuju rumah bu Edi, ia harus segera, dalam benaknya emak takut warung yang menjual ayam tepung itu keburu tutup, karena hari telah memasuki waktu Ashar. Tangannya saat ini menggenggam uang sejumlah dua puluh lima ribu rupiah. Emak tak peduli bahwa untuk itu tiga hari kedepan jemari tangannya akan melepuh karena harus mengupas biji-biji kacang. Lima ribu rupiah untuk 10 kg biji kacang, Ah....biarlah, itu urusan belakang. Sesampai dirumah bu Edi, emak kembali memohon agar bu Edi bersedia membantunya. Bu Edi tersenyum, lalu segera menelpon Vina anaknya, agar membelikan titipan mak Munah sepulang kerja nanti.
“jangan khawatir mak, nanti sekalian saya suruh Vina mengantarnya kerumah emak, sekalian lewat bukan...!!”
Emak tak tahu harus berkata apa lagi, hatinya mengharu biru, sepanjang jalan pulang dari rumah bu Edi, tak henti air matanya mengalir, Rohim si bungsu dalam gendongan belum mengerti apa yang telah terjadi, mata mungilnya hanya bisa menatap wajah tua emaknya basah oleh air mata.

Kamis, 01 Maret 2012

KETIKA WAKTU MENGGENANG

Ada suara jerejak seperti pelepah dan ranting pohon yang diseret, ada derit suara timba yang ditarik diperigi. Kelopak mataku bergerak-gerak hendak menuruti telinga yang lebih dulu terjaga....lalu sunyi.....seorang laki-laki bertelanjang dada, dengan caping bambu dikepalanya sedang duduk menepi disebuah dangau ditepi sawah, sebelah tangannya menarik-narik seutas tali yang rupanya terhubung pada orang-orangan sawah yang terbuat dari gumpalan jerami yang dibentuk, sebelah tangannya lagi memegang sebuah buku yang sedang terbuka. Sesekali ada suara seperti siulan yang kasar, desahan serampangan yang keluar dari mulutnya sejalan dengan orang-orangan sawah yang bergerak-gerak, membuat takut segerombolan burung emprit yang berpijak pada pucuk-pucuk padi yang mencari celah untuk mencuri bulirnya. Namun mata lelaki itu, tekun tertuju pada buku ditangan satunya. Tiba-tiba....ia menoleh kepadaku lalu tersenyum.....kelopak mataku kembali bergerak-gerak, kali ini dibarengi kepalaku yang mencoba menjejak dan menerobos batas jagaku. Lalu kembali ada suara seperti air yang dijerang, ditingkahi suara desau angin yang membuat gemerisik rumpun bambu. Aku seperti mendapati tubuhku berbaring diranjang empuk kesayanganku di Surabaya, kuraba ruang kosong disampingku yang harusnya ada sepotong tubuh suamiku disana....namun tak kudapati....sunyi.....sekejap kudapati tubuhku terpental-pental dikursi penumpang kereta jurusan Surabaya-Jember, didepanku duduk seorang laki-laki yang rupanya serupa dengan lelaki yang kujumpai di dangau....dia tersenyum padaku....
Aku tersentak...nafasku berkejaran tak teratur, mengedarkan pandangan, mengumpulkan kesadaran....ini bukan ranjangku, bukan kamarku....aku melenguh seperti kerbau, menggeliatkan tubuh untuk mengendorkan urat yang tegang. Suara air terjerang, kusangka pasti dari dapur, aku menuju....seorang perempuan tua duduk pada sebuah dingklik kayu kecil, didepan sebuah tungku yang menyala, ia membelakangiku. Aku menyentuh bahunya dari belakang.
“eh, sudah bangun kau mar....sholatlah segera, sebentar lagi matahari mengintip”
Aku mengangguk, bergegas menuju perigi disamping rumah. Huh...airnya sedingin es, tak seperti air dirumah, yang selalu hangat setiap waktu, mau pagi buta, mau malam, tetap saja terasa hangat.
                Seusai sholat, sholat yang terlambat....aku duduk dikursi pentil yang ada diberanda. Ah...kokoh nian ini kursi, dari aku kecil sampai sekarang, tak reot rangkanya, hanya warnanya yang tentu saja memudar, dan kulit besinya sudah banyak yang mengelupas, seingatku dulu kursi ini berwarna biru, namun sekarang berubah menjadi putih bening. Aku memandang kosong ke jalan aspal kecil yang membujur dihadapanku, tak banyak kendaraan maupun orang berlalu lalang. Tak seriuh dan tak sepadat di Surabaya, tentu saja...ini hanyalah sebuah kampung yang masih merangkak-rangkak mengejar segala ketertinggalan, ketertinggalan yang diam-diam aku syukuri dikarenakan rasa bosanku pada gedung-gedung pencakar langit yang berhimpitan dan udara yang selalu saja kelabu. Malah dalam hati, aku berharap kampungku tetaplah menjadi sebuah kampung yang jika pagi tiba, aroma tanah yang segar dan embun-embun yang merambati pucuk dedaunan menyebarkan aroma kesegaran yang melonggarkan setiap rongga tubuh. Yang jika senja datang, langit dipadati serombongan burung plekok yang membentuk formasi V terbang berjejer untuk kembali pulang kesarang. Yang jika malam tiba, suara orang mengaji di surau timbul tenggelam bersahutan lirih, dan kunang-kunang bisa dijumpai dengan mudah menyembul riang diantara kelopak-kelopak bunga sepatu. Aku tak berharap kampungku cepat bertransformasi menjadi sebuah perkotaan dengan segala kegaduhannya.
Aku menyesap secangkir kopi hitam, merasakan aromanya, lalu kehangatan yang mulai merambat dalam rongga dada. Suara kliningan kalung sapi menarik perhatianku, kudapati sebuah gerobak yang dihela seekor sapi melintas, diatas gerobak seorang lelaki paruh baya sehitam arang menjadi saisnya. Gerobak itu meninggalkan setumpuk tahi sapi yang jatuh berceceran seakan memberi jejak. Tak lama... kumbang tahi dan lalat hijau berebut tempat mengerubuti tumpukan tahi itu. aku mengalihkan pandangan untuk mengalihkan rasa jijik, karna tak terbiasa. Seorang perempuan sedikit muda, bersarung dan berkaus biru memanggul sekeranjang sayuran dikepalanya, ia menoleh dan mengangguk kepadaku....amiittt.....aku membalasnya dengan anggukan dan senyuman. Keramahan khas kampung yang tak lekang, adab yang mengajarkan untuk sekedar menyapa atau mengangguk jika melintas didepan rumah orang. Sejurus kemudian sebuah pick up hitam merayap dengan kecepatan sedang, didalamnya duduk dua orang... laki-perempuan...tanpa obrolan. Si lelaki yang duduk dibelakang kemudi, ketika tepat berada didepan rumah...menoleh....aku terkesiap, sepertinya tak asing dimataku, tatapan mata yang sangat familiar. Kurasa dia pun merasakan yang sama, dahinya mengerut, ujung alisnya beradu, sampai pick up nya menjauh tak lepas tatapannya ke arahku, perempuan disampingnya tak mengetahuinya, ia tetap duduk kaku menatap kedepan. Pick up itupun menghilang dibalik pepohonan perindang dilajur jalan....menyisakan degup yang muncul tiba-tiba.
“wak....”
“hmmm....”
“apa kabar si Yusuf..???” sunyi...tak ada jawaban, lalu derap langkah kaki perlahan mendekat. Perempuan pemilik kaki rapuh itu menjejalkan pantatnya di kursi pentil yang berada disebelahku.
“ku kira kau tak akan menanyakannya....enggan mungkin...”
“tadi kulihat laki-laki serupa dengan dia...”
“pakai motor, apa pick up?”
“pick up....”
“hitam...?”
Aku mengangguk, kujumput sepotong ubi jalar rebus yang masih mengepulkan asap disebuah piring seng yang terdapat di meja kecil disampingku. Uwak memang merebuskannya untukku, katanya mencabut dari kebun yang ada dibelakang rumah. Aroma ubi itu khas, dan rasanya sangat manis.
“anaknya sudah tiga sekarang Mar, sukses dia sekarang. Sawahnya banyak, belum lagi dua buah toko kelontong di pasar semanding...”
“kau ingat Haji saleh...juragan gabah di kampung krajan?? Dialah mertua Yusuf. Kau ingat pula Zubaidah, anak keenamnya, yang dulu kalau sekolah tak pernah bersisir rambutnya, dan kau bilang baunya seperti terasi dibakar....” aku dan uwak tergelak pelan.
“itulah istri Yusuf, Mar....” uwak menarik nafas panjang, dijumputnya selembar sirih yang lalu diatasnya ditaruh sejumput kapur sirih, pecahan biji pinang dan sedikit taburan cengkeh, digulungnya dengan sedemikian rupa lalu dijejalkannya kedalam mulutnya, suara kunyahan parau terdengar.
“meski tak kerap, sesekali Yusuf menengokku Mar.....kedatangannya selalu membawa buah tangan, tak enak hati aku jadinya. Sebagai imbalan, aku kerap menceritakan perihalmu Mar, meski tak sekalipun ia menanyakan...”. uwak menyemburkan cairan dari ludahnya, berwarna merah menyala.
“sebagai orang tua yang telah banyak menyesap ragam kehidupan, aku tahu Mar...sangat tahu...Yusuf tak pernah menyisihkanmu dalam hatinya”
“ah....sudahlah wak....masa lalu...”
“bagaimana dengan istrinya wak....pernahkah Yusuf membawanya kemari, untuk sekedar dikenalkan??”. Uwak menggelengkan kepalanya.
“kudengar, tiga tahun yang lalu Yusuf hendak menceraikan istrinya...” aku menoleh ke arah uwak yang tatapannya justru tertumpu pada setumpuk kayu kering yang tersusun rapi di para-para. Sejurus kemudian uwak menyemburkan cairan berwarna merah, meludahkannya tandas, membuat cipratan-cipratan merah ditanah. Lalu kembali menjejalkan segulung kecil tembakau kedalam mulutnya, digosok-gosokkanya tembakau itu keseluruh permukaan giginya.
“aku maklum....orang kampungpun maklum....tabiat istrinya seburuk rupanya. Aku tak habis pikir, apa yang Yusuf lihat dari wanita itu, padahal sedari muda sudah terang benar tabiatnya. Kusangka....dulu Yusuf menikahinya karena melarikan diri dari sesuatu, tapi entah apa....”. keriuhan menyela, keokan ayam betina yang terbirit-birit dikejar ayam jantan yang menanggung birahi, mengalihkan percakapan. Ayam betina itu memberontak ketika paruh ayam jantan mematuk kepalanya. Si betina meloncat dan terbang keatas tumpukan kayu dipara-para, sang jantan tak menyerah, disusulnya si betina...si betina tersudut lalu tak dapat berkutik ketika beban tubuh sang jantan menindih kuat tubuhnya.
“sudahlah wak.....tak baik membicarakan rumah tangga orang lain...”
“astaghfirullaahhh.....kau ni yang cari gara-gara, kenapa pula kau menanyakan Yusuf yang membuatku akhirnya tak dapat menjaga lidahku” uwak melemparkan kesalahan padaku, aku tergelak pelan.
“tandaskan kopimu, segeralah ke makam, tuntaskan keinginanmu menyesap kampung ini, sebelum kepulanganmu ke kota esok....” aku mengiyakan perkataan uwak, menyisakan cangkir dengan ampas kopi, lalu beranjak meninggalkan perempuan tua itu.
**********
                Bukit hijau kecil itu masih menggunduk dibalik persawahan dan rimbunan pohon asam yang banyak tercecer di sepanjang jalan. Meski kudapati tak seterjal dulu, tapi keindahannya tetaplah tak dapat dipudarkan usia dan waktu. Dikaki bukit itulah kedua orang tuaku terbaring, bersama tubuh-tubuh tak bernyawa lainnya yang namanya hanya dikenali lewat batu-batu nisan yang telah lumutan.Tiga hari yang lalu orang tuaku menyambangiku lewat mimpi, meski hanya menyodorkan senyuman, namun ada semacam pertanda dengan makna tersembunyi yang kutangkap. Ada rasa bersalah yang lambat kusadari, bahwa sudah tiga tahun lebih aku tak menjenguk makam orang tuaku. Maka keesokan harinya aku cudak dari kantor dan pamit pada suamiku untuk pulang kampung dua hari saja, dengan tujuan menengok makam kedua orang tuaku.
Disinilah aku sekarang, setelah menaburkan irisan daun pandan bercampur dengan bunga kenanga, bunga gemitir dan bunga kantil diatas kedua pusara, aku takzim menundukkan kepala, memanjatkan doa kepada sang pencipta agar arwah kedua orang tuaku ditempatkan ditempat yang layak. Selesai berdoa, kuusap perlahan nisan putih yang memudar, mengharu biru dalam pendar sketsa wajah kedua orang tuaku. Tiba-tiba dari kejauhan kudengar suara deru sepeda motor melaju, suaranya mendekat, semakin mendekat, mendekat, lalu berhenti seperti tepat dibelakangku, terdengar suara motor dimatikan. Aku palingkan wajah mencari asal sumber suara, didepan pintu makam yang letaknya hanya sepelemparan batu dari tempatku jongkok, berdiri seorang laki-laki tegap dengan bertopi hitam. Aku tak mengenalnya, namun tatapan mata lelaki itu mengarah kepadaku....ya kepadaku, karena kulihat sekeliling tak tampak keberadaan orang lain di area pemakaman selain aku. Dan ketika lelaki itu membuka topinya....teranglah penglihatanku....darahku berdesir perlahan, dan aku sedikit mengumpat dalam hati. Kuhampiri laki-laki itu yang kini tengah bersandar pada sepeda motornya.
“kau kah itu Yusuf..???”
“apa kabar Mar....” suaranya tersangkut ditenggorokan, tingkahnya secanggung anak Tk yang baru pertama kali tampil kedepan, tangannya memilin-milin topi hitamnya. Aku tersenyum....sama kikuknya.
“tadi pagi waktu hendak kepasar, saat melintas didepan rumah uwak....kusangka ada yang silap pada penglihatanku, hatiku tak tenang ingin memastikan. Aku kembali ke rumah uwak kemudian untuk bertanya, dan uwak membenarkan bahwa pandanganku tak salah. Dan kesinilah aku menyusulmu....”.
Disisi kiri dekat pintu makam, ada sebuah tempat duduk semen setinggi lutut, yang sengaja dibuat untuk para peziarah yang ingin menikmati panorama bukit atau hamparan sawah yang menghijau seusai ziarah kubur. Panjang tempat duduk itu cukup untuk diduduki tiga atau empat orang, mirip halte namun tak beratap, dibawahnya...tepatnya disisi belakangnya, melajur selokan kecil yang airnya tak menutupi isi dan dasar selokan, seperti aquarium sehabis dibersihkan. Disanalah kami duduk, sedikit membuat jarak, sehasta mungkin....
“kira-kira 20 tahun ya suf....??” laki-laki itu tak menjawabku, kucuri pandang lewat ekor mataku, tak banyak perubahan yang kudapat, mungkin sedikit lemak yang menggantung di pipi dan perutnya, namun justru itu membuatnya kelihatan lebih segar daripada yang kujumpai dalam mimpi.
“berapa anakmu sekarang, Mar?”
“dua...”
“kenapa tak kau ajak anak dan suamimu ?...aku ingin mengenalnya..”
“aku hanya sekejap, esok pagi sudah balik lagi...”. lelaki itu memandangku, mengerjap...lalu bangkit.
“aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, mumpung kau disini....mumpung kita diberi kesempatan untuk bertemu, yang mungkin tak kan pernah lagi”. ia meraih tanganku, sedikit menyeretku untuk mengikutinya. Aku menepis genggamannya perlahan...mata kami saling beradu....diam...lalu ia meneruskan langkahnya, dan aku mengekor dibelakangnya. Kami melewati beberapa pematang sawah yang arahnya ketimur, sedikit berbelok untuk melingkari bukit. Setiba dibawah pohon asam yang besarnya dua kali lipat pelukan orang dewasa, ada bayangan dua remaja tanggung...laki perempuan....duduk bertumpu pada akarnya yang mencuat keluar. Si lelaki menyelipkan setangkai bunga bakung pada lipatan rambut sebelah kiri wanitanya....wajah lelaki remaja itu serupa Yusuf, dan wanitanya serupa denganku. Lalu kemudian bayangan remaja itu bias dan pecah, terberai oleh hembusan angin yang tiba-tiba berdesir menerpa wajahku. Ku terka Yusuf pun melihat bayangan yang sama, ada helaan nafas yang berat tersendat-sendat dari rongga hidungnya. Yusuf tak bersuara....aku menelan ludahku perlahan.
Kami terus melanjutkan perjalanan ke arah timur, dalam diam. Kira-kira lima puluh langkah, tibalah kami pada tanah lapang yang ketika kuperhatikan letaknya berada diantara bukit dan jalan raya.
“Masih ingat tempat ini Mar..?”
“ya....tempat kita dulu kerap menghabiskan waktu seusai Madrasah. Benteng-bentengan, sodor pasang, kasti....” aku tergelak mengingat semua.
“sekarang ini tanahku Mar....”
“sukses kau sekarang Suf....”
“tidak....aku terpuruk, pengecut, pecundang...”Yusuf menghentak sebatang rumput dengan kasar, meremasnya, lalu membuang mukanya dariku.
“ketika kau tak lagi membalas surat-suratku Mar, aku bertekad selepas SMA akan menyusulmu kekota. Namun tak kudapati kau disana, kata tetanggamu yang berwajah bulat itu, kau telah pindah. Aku kebingungan, tersesat dalam rimba kota yang sama sekali tak pernah kukenal. Berbekal ijasah SMA ku, aku mencoba bertahan dikota, mengais pekerjaan sambil berharap jejakmu dapat kutemukan. Namun kau seperti menghilang ditelan bumi, dan kota tak memperlakukanku dengan baik. Aku frustasi Mar....ke-tidakramahan kota masih bisa kutanggung, namun menyadari kehilanganmu untuk selamanya membuatku merasa terdepak dan tak diinginkan oleh dunia...”
Aku hanya mampu diam, tak dapat kujelaskan bagaimana dulu kudapati kedua orang tuaku menyita dan membakar surat-surat yang Yusuf kirimkan.
“aku kembali kekampung Mar, kuyu seperti seorang panglima yang kehilangan panji dan dipermalukan diarena pertempuran. Di kampung aku mengolah sebidang tanah warisan emak yang tak seberapa, merintis usaha kelontong kecil-kecilan. Lalu ada seorang Haji kaya raya yang mencari lelaki untuk dijadikan menantunya, untuk menutup aib yang dicorengkan anak perempuannya didahinya. Aku terima Mar, karena bagiku hidupku adalah kehampaan, dan jiwaku sudah lama mati...”. suara Yusuf bergetar....ada setitik air disudut mataku yang kutahan agar tak tumpah. Yusuf meraih pundakku, saling berhadapan, saling menatap lekat.....
“aku membeli tanah ini Mar, semata untuk mengekalkan kenangan akan kamu yang masih tersisa. Karna sampai saat inipun tak beres-beres ingatanku untuk menghapusmu. Ditanah ini aku berencana membangun sekolah Taman kanak-kanak, menampung bocah tak berpunya, tanpa memungut iuran wajib. Seperti cita-citamu dulu Mar.....”. bulir-bulir air itu tak mampu kutahan lagi, ia luruh perlahan menelanjangi perasaanku yang kututup-tutupi. Ibu jari dari sebuah tangan kasar menghapusnya....sunyi....aku tak ingin memperpanjangnya.
Ketika senja hampir usai, aku beranjak meninggalkan Yusuf, laki-laki itu terjejer dibelakangku dengan segala diamnya, sepanjang jalan pulang tak ada percakapan, seakan tak ada udara yang dihirup dan dilepas. Jika sesekali kakiku terpeleset ketika melintasi pematang, tangan Yusuf menyanggaku...sesaat, kami saling menepis....diam....
Sesampai didepan pintu pemakaman, dimana motor Yusuf terparkir semula. Aku hanya bisa menyeru namanya perlahan...
“Suf....ak...” sebuah bibir melumat ujung bibirku lembut, menghentikan kata yang ingin kuujar. Untuk sesaat jantungku serasa berhenti berdetak.
“tak usah kau katakan apa-apa Mar....aku tahu semua adalah masa lalu, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tak pernah berhenti mencintaimu, sampai saat ini’
“maaf Mar, aku tak bisa mengantarmu pulang....aku tak ingin orang kampung mendapat bahan obrolan untuk mereka gunjingkan, tahu sendiri tabiat mereka. Salam ya buat uwak.....salam juga buat keluargamu dikota”. Kami berpisah....dalam ketercanggungan....sama seperti tadi ketika kami kembali bertemu. Motornya menjauh meninggalkanku.
                Keesokan paginya, sebuah becak mengantarku ke terminal. Ketika melintas didepan sebuah toko kelontong yang besar, ditengah riuhnya suasana pasar. Seorang laki-laki memanggul bocah perempuan kecil dipundaknya. Laki-laki itu melambai dan tersenyum padaku....aku membalasnya, lalu membuang pandangan kedepan dan tak lagi menoleh kebelakang. Suara derit becak terngiang-ngiang ditelingaku, berkejaran dengan deru nafas  sang pengayuh yang tersendat-sendat karena beban muatan.

Minggu, 21 Agustus 2011

DJOYO "THE EXPLORER"

Duduklah, siapkan segelas kopi dan sedikit camilan untuk menemani, aku akan menceritakan sebuah kisah yang hanya tercatat dalam satu buku sejarah, yaitu hanya dalam buku sejarahku saja, ya…karena saat ini aku akan menceritakan potongan-potongan cerita hidupku berkaitan dengan pekerjaanku yang penuh dengan lika liku laki-laki, manis, asam, asin, pahit, getir, dan aku jamin kawan, jika kalian membacanya kalian tak kan bisa melupakannya….he….
Aku bekerja di sebuah perusahaan BUMN berlambang “petir” sebagai salah satu petugas  pelayanan tekhnis di sebuah sub rayon kecil di salah satu kota di pulau bali. Sebagai petugas lapangan, kerjaku sangat berat kawan dan beresiko tinggi, tiap detik dalam pekerjaanku selalu diintai oleh kematian, maka kehati-hatian dan kosentrasi tinggi wajib digaris bawahi. Sebagai petugas yang berdiri di garda depan yang melakukan kontak langsung dengan pelanggan, aku pun dituntut memiliki beragam kemahiran. Selain harus mahir berzigzag ria dijalanan, cekatan berakrobat diatas genteng, bergelantungan diatas tiang, akupun harus mampu menjadi public relation, complain handling dan juga negotiator. Hmmm….kelihatannya keren ya kawan, padahal tak seindah yang kalian bayangkan. Public relation berarti aku harus pasang mulut cadangan, mengoceh ria menjelaskan cara kerja produk kepada pelanggan yang tidak mengerti dan sedikit lemot, complain handling berarti aku harus siap-siap menebalkan telinga, membajakan mental, membanting harga diri dan sedikit memasang tampang memelas, jika pelanggan yang kuhadapi termasuk dalam golongan “hard customer” (bebal, cerewet, sok tahu, keras kepala, gemuk, tua, bibir menyeringai tipis, alis celurit, pakai daster dan suka memamerkan telunjuk), maka terkadang kawan, beraneka ragam macam nama binatang ia sebutkan satu-satu, beragam jenis sumpah serapah ia semburkan, terasa sampai memanaskan telinga, membakar hati. Namun jika itu termasuk “easy customer”, tak jarang setelah komplin yang diucapkan secara lemah lembut, aku mendapat sedikit bonus tambahan, suguhan segelas kopi, sepotong dua potong kue dan….selarik senyum manis dari anak gadis sang pemilik rumah, kalau sudah begini kawan…amboi….lupa aku akan bini…ups. Dan terakhir sebagai Negotiator berarti aku harus pandai pandai mengambil hati pelanggan, menawarkan sedikit jalan keluar agar tak terjadi komplin. Rumit namun menyenangkan, keras namun melunakkan…aihh…apaan sih.
Kurang lebih sudah dua belas tahun aku bekerja dikantor ini kawan, jika itu besi maka sudah karatan, jika itu batu kali maka sudah lumutan, jika itu baju rendaman maka sudah sangat jamuran. Jangan kau sangka aku betah bertahan karena gaji yang besar kawan (sstt…gaji disini kukira berbanding lurus dengan gaji SPG swalayan, dan berbanding terbalik, sangat dibalikkan oleh penghasilan dari seorang pemilik warung lalapan), tapi semata dikarenakan karena aku sangat mencintai pekerjaanku, sungguh….selain itu aku suka pembagian waktu kerjanya yang berupa shift, sehingga memungkinkanku mempunyai banyak waktu untuk melakukan kerja tambahan diluar. Namun yang paling penting dari itu kawan, yang sangat membuatku tak bisa lepas dari pekerjaan ini adalah terletak pada tantangan-tangannya, setiap hari menghadapi keluhan, kasus dan masalah yang berbeda, kian hari kian rumit seiring dengan makin canggihnya tekhnologi kelistrikan, dan semua itu menuntut jiwa-jiwa petualang, jiwa-jiwa yang gemar akan tantangan untuk terus belajar meningkatkan ilmunya, aku menyerap semua ilmu itu secara otodidak, dengan aneka masalah yang berkembang dan kuhadapi setiaphari, otomatis ilmuku bertambah, kepiawaian dan pengalamankupun meningkat, itu bisa kujadikan sedikit bekal untuk menghadapi kepungan tehnologi yang semakin tak terbendung.
Dengan rentang kerja yang sudah cukup lama dan karatan itu kawan, maka aku cukup mumpuni dalam hal pengalaman dilapangan, kenyang dengan peristiwa membahagian dan menyedihkan, bahkan mengenaskan sekalipun sudah pernah terlewati. Berbagai jenis masalah, aneka karakter pelanggan dari yang sangat biasa sampai luar biasa pernah kutangani, peristiwa menggelikan, menakutkan, dan meremangkan bulu kuduk pernah juga kualami. Mari kuceritakan sebagian saja pengalamanku kawan, supaya kalian tahu betapa aku sangat menyukai pekerjaanku, dalam kejadian sulit sekalipun, aku tetap mencintai pekerjaan ini.
Aku ini pegawai senior, kalau tidak mau dibilang paling tua dikantor, maka wajar bila predikat yang disematkan didadaku adalah “pelupa alias pikun bin alzhaimer”, setiap habis melakukan perbaikan dirumah pelanggan, selalu ada saja alat kerja yang kutinggalkan, baik itu sengaja maupun tak sengaja…loh, kok bisa?, mari kujelaskan. Jika peralatan kerja itu tertinggal secara tak sengaja, itu memang murni akibat dari penyakit lupaku. Namun jika disengaja, itu bisa disebabkan dua kemungkinan, karena kejahilanku atau rasa penasaran.
Latar belakang masalah:
Perbaikan gangguan listrik dirumah pelanggan, tuan rumah seorang kakek atau nenek yang lambat dan ramah. Berbasa basi, atau mengajak ngobrol santai sang tuan rumah, dan ketika hati tuan rumah telah terpikat oleh cara kerja dan keramahanku, maka hukum “apa yang kau tanam, itulah yang kau petik” segera berlaku. Keluarlah si anak gadis sang empu rumah, membawa nampan berisi segelas kopi dan sepiring kue, lenggak lenggok tersenyum maniissss sekali,  baju lekat selekat-lekatnya, rok sependek pendeknya, dan aku menelan ludah sedalam dalamnya…he…kalau sudah seperti ini kawan, konsentrasiku buyar, 10 etos kerja morat marit, diganti dengan menajamnya sensor syaraf motorik “donjuan”ku. Aku ini tipe laki-laki yang sangat menghargai ciptaan Tuhan, pengagum segala keindahan yang telah diciptakan_Nya. Bukankah wanita itu ciptaan yang indah kawan? Maka tak salahkan jika aku menagumi dan menikmati keindahan itu? Sekedar selingan untuk penghibur saja, tak lebih dari itu….dan ketika Si gadis tersenyum, aku balas tersenyum pula. Si gadis mengerling, aku mengerjap. Maka ketika pekerjaan rampung, tangga terlipat, peralatan dikemas, insting kelimaku bekerja memprovokasi. Lalu dengan diam-diam, serapi mungkin, sepelan mungkin, sewajar mungkin dengan pasti sengaja ku tinggalakan salah satu peralatan kerjaku, yang pasti bukan tangga atau mobil lah, terlalu besar dan tak intelek..he…
Nanti setiba di kantor aku akan pura-pura kehilangan, berusaha mengingat-ingat, lalu aku menebak mungkin aku meninggalkannya di rumah gadis itu, jadi aku akan punya alasan untuk kembali kerumah itu dengan harapan yang menyambutku langsung  anak si empunya rumah, intermezo sedikit, dua tiga jurus rayuan dikeluarkan, aku yakin…haqqul yaqin…nama dan no telphone dapat kukantongi..hi….tabiat seperti ini bukan sebuah tabir kawan, hampir semua rekan kerjaku memiliki motto serupa “jangan biarkan keindahan terlewati”, merekapun tak bisa melihat sesuatu yang indah indah itu menganggur tanpa pengagum, Cuma caranya saja yang berbeda-beda, tapi sungguh….semua itu hanya keisengan belaka, insting nakal dari seorang laki-laki saja, tanpa berniat berbuat lebih jauh.
            Pengalamanku yang lain yang berkaitan langsung dengan pelanggan kawan, tak kalah lucu dan menegangkan. Pernah suatu hari aku menerima laporan gangguan listrik dari salah satu pelanggan, aku catat namanya, jenis gangguan, alamat jelas dan nomor telponnya. Berbekal informasi yang kudapat aku dan kawanku (satu shift terdiri dari dua petugas)  segera meluncur kelokasi, kala itu siang menjelang sore, terik mentari masih tak surut meniupkan hawa panas yang menyengat. Kututup kaca mobil rapat, menyalakan AC mobil untuk mengusir hawa panas dan rasa gerah, namun sial….baru beberapa menit aku menikmati kesejukan itu, hidungku disergap bau busuk nan mencurigakan. Kulirik temanku yang sedang menyetir mobil, raut mukanya datar, sepertinya ia tak terganggu oleh bau itu. Aku mengendus-endus, menajamkan sensor penciumanku, mencari-cari asal sumber bau busuk itu…dan disanalah ia kutemukan, dibawah dashboard, dekat sebuah kaki telanjang yang kapalan, terselip diantara pijakan rem, teronggok sepasang kaos kaki kumal, hitam, dekil, melambai-lambai tersenyum padaku. Aku melotot menatap temanku yang akhirnya nyengir juga. Mualku dibuatnya, dengan bersungut-sungut, menggerutu panjang lebar, kumatikan kembali AC mobil dan kubuka jendela mobil lebar-lebar. Ah….segarnya, akhirnya aku terbebas juga dari aroma tak menyedapkan itu. Setelah hampir 30 menit mencari-cari lokasi, akhirnya kutemukan juga alamat si pelanggan. Rumah terlihat sepi dan lengang, temanku celingukan mencari tombol bel, dengan sedikit mengeraskan suara, aku mengucapkan salam dan memanggil sang pemilik rumah, tak ada jawaban…”ga ada bel” ujar temanku, aku berteriak kembali, sepi. Tak ada satupun tetangga yang bisa kutanyai, akhirnya aku dan dan temanku memutuskan untuk memanggilnya sekali lagi, jika tak ada jawaban jua, maka akan ditinggalkan dan tunggu lapor ulang. Setelah pada teriakan ketiga tetap tak ada sahutan, aku segera masuk kembali ke mobil, namun…belum sempat kututup pintu mobil, pintu rumah berderak dan terbuka, muncullah sepasang laki perempuan tergopoh-gopoh menyuruhku berhenti, deru nafas mereka ngosngosan seperti habis ikut lari marathon. Aku dan temanku melongo demi melihat penampilan mereka. Si lelaki hanya mengenakan celana boxer, dadanya naik turun, rambut acak-acakan. Si perempuan hanya berbalut secarik kain menutup dada sampai ujung kaki, tak kalah semerawutnya, rambut mekar seperti rambut singa, mata masih merem melek berkejaran dengan nafas yang masih memburu…aw…aw…aku paham, pahaaaamm sekali, rupanya siang ini, baru saja terjadi pertempuran yang sengit sekali, namun tak terselesaikan…time out sejenak, dan akan dilanjutkan nanti setelah jeda iklan. Aku dan temanku mengulum senyum, merekapun tersipu. Itu peristiwa lucunya kawan, sekarang mari kucerikan peristiwa yang menegangkan, dan membuat merinding bulu kudukku. Beginilah ceritanya……
Ketika itu malam turun, aku dan temanku menerobos pekatnya demi sebuah tugas kerja yang mulia, membantu orang yang sedang berada dalam kegelapan, menolong orang yang terjebak dalam ruang gelap gulita, karena…listrik mati…he…, sebuah laporan gangguan masuk, melalui radio yang disampaikan operator, aku dan temanku bergegas, maka disinilah aku sekarang, berkendara di pekatnya malam di tengah jalanan yang lengang, sambil menyetir sekali-kali kulirik lampu jalan yang rupanya banyak yang tak berfungsi, temanku sibuk mengutak atik hapenya, kuputar radio mencari-cari gelombang yang pas dan musik yang enak, demi mengusir rasa kantuk. Rumah pelanggan kali ini terletak agak jauh dari kota, jalan menuju rumahnya terhampar persawahan, hanya satu dua rumah terselip diantaranya. Mobil kuhentikan di depan sebuah rumah bertingkat bergaya minimalis, suasana rumah sepi dan gelap, karena memang listriknya mati. “masuk saja pak” terdengar suara perempuan dari dalam, yang memang menunggu kedatangan kami, aku menyuruh temanku menyalakan senter dan menyiapkan peralatan. Dalam keremangan, hanya diterangi cahaya senter, seorang perempuan dengan rambut sebahu menuntun kami kearah tempat KWH meter terletak, rupanya terjadi konsleting di KWH yang menyebabkan lampu rumah padam, dengan cekatan kuperbaiki, kuteliti sejenak panel dan kabel kecil didalamnya, temanku dibelakangku memegang senter, membantuku dengan memberi sedikit penerangan. Tidak ada sepuluh menit, masalah bisa kuatasi, ku ON kan MCB lampu langsung menyala sempurna. Lampu senter dimatikan, terasa ada colekan keras dipunggungku, aku refleks menoleh, ternyata itu berasal dari tangan temanku, wajahnya pias matanya nanar melihat sesuatu, ada sesuatu yang tak wajar rupanya…..kuikuti pandangan matanya, aku menelan ludah, matakupun tak mau berkedip. Rupanya nun disana, tak ada semeter, berdiri perempuan sang pemilik rumah ditengah pintu, tangan kanannya sedikit terangkat bertopang pada bibir pintu, dan tangan kirinya bertelekan pinggang. Dia tersenyum padaku…pada kami maksudku… …dan amboi…lihatlah pakaian yang dikenakannya, baju tidur tipiiiiss banget, kurasa kalau ada lalat terbang nyasar bisa langsung robek dan menembusnya. Ssttt…..dan tahu tidak kawan, apa yang terpampang dibalik gaun tidur itu, jelas sekaliii….sepasang buah dada yang ditutupi bra berenda dan dibawahnya secarik G-string likat melekat, aku dan temanku serentak menelan ludah dengan kompak, “su sudah bu” suara temanku terdengar serak, aku diam tak bicara, untuk sepersekian detik mata kami lekat tak lepas menatap nya. “makasih ya mas…” ujarnya, posisinya tak bergeming, bias cahaya lampu menembus tipisnya gaunnya, entah ia sengaja atau tidak, namun yang jelas kutangkap dari rautnya, tak sedikitpun rasa risih yang tersirat, pun mimiknya tak menampakkan rasa keberatan sedikitpun karena kami telah dengan terang benderangnya, dengan lancangnya menggerayangi tubuh dibalik gaunnya dengan tatapan mata seperti singa yang hendak menerkam mangsa. Sedang diseberang sana, dalam kepala dua orang laki-laki yang terjebak fantasi ilegal, yang kebingungan memetakan warna hitam atau abu-abu, berada dalam dilema, pertarungan bathin, kekuatan baik dan buruk saling adu argumentasi dalam hati, meributkan sesuatu yang jelas tak halal dilakukan, sedang nun jauh dibawah sana, hormon testoteron mendesak-desak meniupkan propaganda dan provokasi. Cuping telinga temanku kembang kempis, jakunnya naik turun tanpa henti. Ini harus dihentikan…harus, aku menarik nafas panjang, tersenyum dan pamit permisi secara sopan. Sampai didalam mobil, sumpah serapah, ceracau tak jelas saling bersahutan dari kita berdua. “Sial…sial…sial…kamu lihat tadi, montok dan mulus….shit…”.
Hei…kami lelaki tulen, temanku seorang bujangan, meski lapuk bukan berarti testoteronnya tak berfungsi, sedang aku sendiri jauh dari istri, baru pulang dua bulan sekali, wajarkan jika kelabakan dan tergagap melihat sesuatu yang begitu dekat jaraknya dengan sesuatu yang berbau “seks”. Itu baru sebagian ceritaku kawan, belum cerita yang lain. Bagaimana aku pernah hampir kejang-kejang karena dicolak colek pelangganku yang bencong…hi…belum lagi jika aku menangani gangguan di area pedesaan, dimana hal-hal biasa bisa menjadi sebuah kejutan yang luar biasa seperti: nenek-nenek tua, bersanggul, berkebaya, tiba-tiba mengangkat kainnya (seweg rek…) dibawah pohon dan dengan cuek bebeknya kencing sambil berdiri, hi aku bergidik. Belum lagi masalah kendala bahasa, menghadapi pelanggan yang tak bisa sedikitpun bahasa indonesia, bisanya hanya bahasa daerahnya. Sedang kemampuan bahasa daerah setempatku pun sangat mengenaskan, entahlah kawan…meski bertahun-tahun lamanya aku tinggal dipulau ini, tapi tetap saja kemampuan memahami bahasa daerah setempatku jongkok dan dibawah rata-rata. Maka jika sudah seperti itu kawan, senjata utamaku adalah mencampur adukkan semua bahasa yang kukuasai, setengah bahasa jawa, seperempat bahasa madura dan seperlapan bahasa bali, jika tak mempan juga, kupakai bahasa isyarat…gelap kawan, sangat gelap…hehehe…
            Pengalaman paling dekat dengan kematianpun pernah kualami. Kerjaku ini berbahaya, penuh resiko dan suka mengundang malaikat maut untuk turun. Pernahkah kalian berada diatas tiang listrik, bergelantungan dengan akrab dan bercengkrama denga kabel-kabel bertegangan tinggi, ditengah ancaman terik mentari yang menyengat, angin kencang yang lancang, ditengah hujan badai memancing-mancing petir? Aku pernah kawan. Pernahkah kalian tanpa sengaja bersenggolan dengan kabel listrik berkekuatan tinggi, yang mampu menghanguskan tubuhmu, mempresto belulangmu? Aku pernah kawan, dan karena saking kagetnya aku terpeleset dari tiang setinggi 10 meter, sedang dibawahku jalanan aspal, trotoar beton siap menjadi peraduan, seperti mulut buaya yang mangap menunggu mangsa. Namun rupanya malaikat maut masih tak menginginkanku, disaat genting itu, aku sempat menyambar besi lampu jalan, bergelantungan dengan gemetar, otak blank, perasaan campur aduk tak karuan, dan terselamatkanlah aku. Sedikit saja kawan, sedikit saja aku memprovokasi malaikat maut, maka tamatlah riwayatku, menghantam trotoar beton yang telah menantiku, dan tentu saat ini aku takkan bisa menuliskan kisahku, sejarahku yang gilang gemilang ini kawan….he…. Itulah sekelumit kisahku kawan. Dan seperti yang kukatakan dari awal, sekeras apapun, seberat apapun keadaan yang harus kualami, aku tetap mencintai pekerjaanku

Jumat, 12 Agustus 2011

WHEN “IPUNG” FALLIN’ LOVE

Ipung dan cinta, hmm….rumit dan complicated, aku tak tahu harus mulai dari mana kawan. Antara ipung dan cinta, terlalu banyak ironi, kejutan-kejutan, dan…..aib. mari kuceritakan dan simaklah…maka akan kalian temukan bahwa terkadang tak selamanya cinta bisa mempermainkan perasaan seseorang, tak selamanya cinta menjadi pongah dengan menyita sesuatu yang bernama hati. Itu tidak berlaku bagi Ipung adikku. Ditangan adikku cinta serupa permainan karet gelang, sesakit apapun tangannya kena jepret, dia tak kan berhenti memainkannya, dengan gembira.
Seingatku, ketika pertama kali ia mulai begitu dekat dengan sesuatu yang bernama cinta…ah tidak, kuralat, aku tidak berani mengatakan itu cinta, kuganti saja dengan sesuatu “perasaan akan ketertarikan pada lawan jenis” itu lebih tepat. Ketika itu ia duduk dibangku SMA kelas dua. Mudik lebaran dikampung, sore hari ketika orang-orang masih hilir mudik saling berkunjung dari satu rumah kerumah lain. Disanalah ia bertemu dengan gadis itu, diujung teras rumah tetangga. Gadis itu mungil, hitam manis dan sedang asyik bercakap dengan kawannya. Ipung tergagap tertancap panah Cupid, wajahnya meriah menahan pesona, malu dan rasa minder. Namun dengan gagah berani ia akhirnya menghampiri gadis itu, mengajaknya berkenalan lalu berujung pada obrolan. Dilihat dari sorot matanya, gadis itu sebenarnya tak tertarik pada adikku, mungkin ia hanya sedikit tersanjung hatinya karena merasa ada yang naksir padanya (sifat dasar perempuan, yang suka menjadi pusat perhatian). Entah apa yang mereka perbincangkan, sepertinya sesuatu yang seru, yang kutahu kemudian Ipung merogoh sakunya, mengeluarkan uang dan memberikannya pada gadis itu, adegan selesai.
Keesokan sorenya, kasak kusuk terjadi di ruang depan rumah, ayah ibu dan saudara-saudara yang lain saling terbahak dan tergelak membicarakan sesuatu, aku terpikat dan ingin tahu, maka bergabunglah aku. Rupanya mereka sedang membicarakan Ipung dan gadis itu. Tahu tidak kawan hal apakah yang terjadi? Ternyata setelah adegan pemberian uang sore itu, keesokan paginya, ketika Ipung sedang duduk sendiri di teras depan, ia melihat gadis pujaannya dibonceng lelaki lain (entah itu kekasih, kakak atau saudara gadis itu), Ipung meradang, hatinya panas karena merasa di khianati, ia terbakar cemburu secara sepihak. Maka tanpa ba bi bu, dengan rasa amarah mencapai ubun-ubun siang harinya ia menemui gadis itu dirumahnya, dan aib pun terjadi…apa yang dilakukannya? Ia, dengan wajah memerah dan bersungut-sungut meminta kembali uang yang telah ia berikan kemarin, uang “sebelas ribu rupiah” itu, sangat memalukan bukan? Itulah kenapa kusebut itu sebuah aib. Ternyata bagi Ipung, uang itu bukan hanya sekedar uang pemberian saja, namun baginya adalah serupa mahar, uang pengikat dan kesepakatan tak tertulis akan perasaan cintanya, meski sebenarnya tanpa ada suatu komitmen apapun yang terjadi. Maka baginya itu adalah hubungan “asmara” tersingkat yang pernah ada dalam hidupnya. Seiring didapatkannya kembali uang “mahar” itu, seketika itupun menguaplah segala rasanya pada gadis itu, perasaan suka, merona, marah, benci, kecewa merasa dikhianati pias menghilang terhapus oleh perasaan bahagia karena uang “sebelas ribu rupiah” itu kembali ketangan, ia mengerjap dan tersenyum, di kepalanya sudah tergambar semangkuk soto di warung sebelah. Begitulah Ipung, simple dan sederhana, tak masalah tak mendapatkan cinta, yang penting ia bisa mempunyai uang untuk makan diwarung.
Pengalaman asmara berikutnya terjadi ketika ia sudah tak lagi sekolah, ia bekerja di sebuah toko grosir sembako, tugasnya menjadi kurir pengantar pesanan konsumen, gas elpiji, gallon air, beras dan sebagainya. Ia menjadi pegawai kesayangan bos nya, mengapa? Dengan berbekal tubuh yang besar seperti Obelix, tenaga sekuat Samson, namun memiliki otak yang “sederhana” seperti Bernard (tak pernah menanyakan ia digaji berapa, yang penting ia diberi makan. Namun syukurlah bosnya itu orang yang baik), maka ia bak prajurit yang bertarung di garda depan, ulet dan dapat diandalkan. Si bos harus pintar membaca sinyal batere dalam perut Ipung, tinggal setengah saja harus segera di charge, karena kalau tidak, bisa menghambat kelancaran traffic kirim mengirim pesanan.
Sore itu, selepas bekerja, ia mampir ke rumahku, ibu menyuruhnya mengirim sesuatu padaku. Ucapan salamnya riang dan bersemangat, wajahnya sumringah dan sedikit cengengesan, bau keringat badannya menebar menusuk hidung, aku mendengus sambil menutup hidung, dia cekikikan.
“napa sih, kok kayaknya seneng banget…” tanyaku heran
“aku punya pacar, ntar habis Maghrib janjian mo keluar…” jawabnya sambil menaik turunkan alis dan tersenyum.
Bola mataku berputar, “ya sudah, hati-hati bawa anaknya orang” pesanku, meski dalam hati aku yakin seratus persen, siapapun anak gadis yang bersama adikku, pasti akan aman terkendali, karena kutahu adikku sangat menguasai tata cara pacaran yang baik dan benar, tanpa rayuan, tanpa sentuhan, apalagi lebih jauh dari itu, paling banter mereka hanya mengobrol saja, itu yang ada dalam benakku, dan aku tak perlu mengkhawatirkan sesuatu.
Seminggu berselang, dan aku tak mendapat kabar apapun darinya. Namun, ketika malam minggu kedua tiba, tepat jam 10 malam, disaat mataku terkantuk-kantuk menatap layar teve, aku dikejutkan oleh suara hapeku yang menjerit, dengan kesal kuangkat telpone, sekilas kulihat dilayarnya tertera nama adikku.
“apa….!!!!”
“mbak…ayah ni lho! masak aku lagi enak-enak pacaran di telponin terus, disuruh pulang” terdengar suara Ipung dengan nada mengadu dari seberang.
“ya udah pulang aja, lagian ini kan udah jam sepuluh, emang kamu tadi keluarnya jam berapa?” Tanyaku geli.
“jam 4 sore…” jawabnya datar dan tanpa ada rasa bersalah dalam nada suaranya.
“hadehhh….ya jelas kamu disuruh pulang, udah cepet pulang, besok lagi pacarannya “ ujarku geregetan.
“ya…” suaranya terdengar lesu.
Aku menarik nafas, tak habis pikir bercampur rasa geregetan. Ipung anak laki-laki satu satunya, segala tindak tanduknya sangat mengkhawatirkan, sebesar apapun ia tumbuh sekarang, tetap saja ayah ibu menganggapnya sebagai anak kecil yang harus dipantau dan dilindungi, ya semua karena “keistimewaanya” itu. Maka wajar jika ayah ibuku merepet, ribut seperti induk ayam kehilangan anaknya, ketika menyadari anaknya raib dari pukul 4 sore, dan sampai jam 10 malam belum pulang jua. Aku sangat bisa mengerti itu.
Keesokan harinya Ipung ke rumah, hatinya masih dongkol dan belum plong tentang kejadian semalam, ditambah lagi ia merasa aku tak berada dipihaknya. Pelan dan dengan menggunakan bahasa yang mudah ia mengerti, sedikit dibumbui sanjungan, ia mulai manggut-manggut, entah mengerti atau bosan mendengar petuahku. Ku alihkan topik pembicaraan, kuungkit sedikit program pacarannya.
“nama pacarmu siapa? “
“kasih…” jawabnya cepat dan penuh semangat
“kemaren kemana aja” aku nyinyir sedikit mengorek.
“muter-muter, trus duduk-duduk dilapangan”
“trus, pacarmu ga kamu ajak makan? Traktir sesuatu gitu…!!” ini semacam interogasi kawan.
“enggak, Cuma beli Aqua sebotol aja…” eh dia nyengir kuda….
Aku mendelik menatapnya “whatttt……kamu ajak anak orang dari jam 4 sore, hanya kamu beliin minuman sebotol?”
“la wong aku Cuma bawa uang 10 ribu” jawabnya ringan, enteng. Aku menggeram seperti anjing, ingin rasanya kuterkam dan ku jambak rambutnya, kubelah kepalanya, kucuci otaknya, dan akan kubersihkan panel-panel yang tersumbat agar hilang lemotnya.
“kamu tuh laki-laki, bersikaplah selayaknya laki-laki, pacaran tuh harus modal, berani ngajak anak gadis orang, berarti berani mengeluarkan uang, dengar pung….” Aku muntab.
“masak anak orang kamu biarkan kelaparan, lima jam lebih diajak keluar cuma dibeliin sebotol minuman. Penilaiannya akan buruk sama kamu, kamu ga akan punya nilai lebih dimatanya..” dadaku naik turun, emosi meletup dibuatnya.
“kalau dia minta dibeliin makan, kan berarti dia wanita matre…” sanggahnya tenang, rautnya datar, tak beriak tak bermimik.
“bukan begitu…..” aku tercekat, habis kataku dibuatnya, hilang kesabaranku dibikinnya, aku bingung harus mulai dari mana untuk menjelaskan kata “matre” yang kutaksir ia mengerti artinya hanya sepotong. Aku mengurut dada, mengelus-elus hipertensi agar tak kumat, pikirannya masih kanak-kanak bathinku menenangkan hati.
Beberapa purnama berlalu, belum ada cerita terbaru tentang Ipung yang kudengar. Aku berharap jalinan asmaranya lancar dan mulus-mulus saja. Jujur ada sedikit ketakutan dalam hatiku, dengan kondisi dirinya yang “istimewa” dan serba terbatas, aku takut ia jatuh pada perempuan yang tak tepat, dan memanfaatkan kelemahannya. Meski untuk hal semacam itu “menikah”, kami sekeluarga masih belum mau memikirkan, masih terlalu jauh, sangat jauh bagi ipung kami yang sederhana.
Lalu suatu hari, ia tiba-tiba muncul kembali ke rumah, diiringi ucapan salam singkat, ia ngeloyor langsung menuju dapur. “laperrrr” katanya sambil cengengesan seperti biasa, ia mengambil dua bungkus mie goreng instant dan sebutir telur. Menjerang air, dan dengan cekatan tangannya merobek bumbu yang tersedia. Aku bersandar pada palang pintu dapur, memperhatikannya. Sambil mengunyah “marning” camilan jagung, aku mengajaknya bicara.
“apa kabar Kasih..?”
“udah putus kemaren.…”
“loh kok..!!!”
“gara-gara ibu tuh….setiap aku janjian mo ketemuan, selalu saja diminta untuk nganter-nganter, ke pasar lah, ke rumah tante lah….udah, Kasih marah, dibilang aku tak menepati janji dan aku diputusin…” tanpa beban dia menceritakannya padaku, wajahnya tak menampakkan kesedihan seperti orang yang sedang patah hati, tangannya sibuk mengaduk-aduk mie dalam panci kecil.
“tapi tenang….” Sambungnya, “ aku mau dikenalin ke cewek sama temenku, do’ain aja…. “ alisnya naik turun, senyumnya mengembang, tak kusangka tak kuduga playboy juga nih orang. Aku pun tersenyum, mengangkat bahu, sudah kuduga bagaimana akhirnya. Namun yang tak kusangka, perlakuaanya terhadap cinta bisa begitu mudah, ringan dan ga pake ribet. Rupanya aku harus banyak belajar tentang manajemen hati padanya, bagaimana menguasai rasa terluka karena cinta, betapa rasa sakit karena cinta itu tak mampu membuatnya terhempas. Jika banyak orang yang merana dan terluka karena cinta, itu tak berlaku pada adikku. Jika cinta dengan mudah mempermainkan hati seseorang, maka Ipung malah dengan sesuka hati memainkan cinta.

Ipung adalah sosok yang penuh dengan kejutan dan kontroversi, seperti tak pernah habis episode menggelikan dibuatnya. Ipung remaja bukannya tambah dewasa dalam berpikir, namun kian memusingkan kepala ayah ibu. Sehabis menutup bab sebelumnya, maka dibukalah bab selanjutnya, kali ini sampai membuat kalang kabut ayah dan ibu.
Ibu menelponku panik, “Ipung udah seminggu ga pulang, ngambek!”
“emang ada apa ? “ tanyaku, terbersit kekhawatiran juga dlm hati, ini baru pertama kali terjadi.
“minta kawin…” aku tersedak kopi, terbatuk-batuk karena terkejut. Ibu memintaku untuk menasehati Ipung jika kerumah, karena hanya aku yang mampu menjinakkannya. Tapi sayangnya Ipung tak muncul-muncul jua, kuhubungi handphonenya tidak aktif. Aku tak kehabisan akal, aku menghubungi tempatnya bekerja, meminta mengirim satu tabung elpiji, kebetulas gas di rumah juga hampir habis, dan aku meminta supaya Ipung yang mengantarnya, tidak boleh yang lain.
Maka datanglah ia, suara motornya menderu, tanpa mengucapkan salam ia langsung nyelonong ke dapur. Kubiarkan saja, kuperhatikan ia sibuk membongkar pasang tabung gasku. Ku Tanya apa ia sudah makan, ia menjawabnya hanya dengan anggukan. Aku tak boleh hilang kesempatan, momen ini memang kutunggu, agar aku bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Menghela nafas sebentar, lalu ku mulai dialogku.
“mas pung katanya mau kawin ya…?” sengaja kutambahkan kata “mas” agar terkesan lebih indah dan menghargai, panggilan itu “mas” sebenarnya adalah panggilan anak-anakku kepadanya.
“iya…tapi dilarang sama ayah dan ibu, mau kawin kok dilarang..” gerutunya, bibirnya manyun, air mukanya cemberut, terlihat sekali ia sedang kesal.
Aku terdiam sejenak, mencari-cari kata yang tepat untuk mengorek informasi.
“anak mana? Sudah berapa lama pacaran?”
Ia melirikku sejenak “anak jawa, Balung (nama kota), pacarannya sudah sebulan ini”
Aku mencium bau ketidak beresan dalam otaknya, “terus kapan ketemunya? Kamu sudah tahu rumahnya gak? Pacarannya gimana?
“ketemunya pas waktu ke jawa kemarin, aku sudah diajak kerumahnya kok, pacarannya ya lewat telpon dan sms aja lah…”
“berapa kali kamu kerumahnya…?”
“satu kali…”, betul kan kawan, ada ketidakberesan pada panel otak adikku, aku mencium bau gosong karena konsleting.
“mas pung….kamu baru sebulan pacaran, baru sekali kerumahnya, ayah sama ibu belum tau seperti apa pacarmu, kok sudah minta kawin sih…” aku berkacak pinggang, ya Tuhan apalagi yang tersangkut dalam otak adikku ini.
“dia yang minta diikat, lagian kan mumpung ada yang mau sama aku mbak….?” Gdubrak…klontang…klontang, ooohhh….rupanya alasan ini “mumpung ada yang mau” yang membuat ia kebelet kawin, yang membuat ia minggat dari rumah, aku benar-benar tak bisa bicara. Kupandangi ia, lama….ia hanya menunduk, lihatlah wajah polos kekanakannya itu, wajah innocent yang terperangkap dalam tubuh yang besar, perut tambun, kulit sedikit hitam karena sering terpanggang sinar matahari, rambut acak-acakan dengan bertaburan ketombe, bau badan yang masam, kecut dan campuran aroma lainnya, ditambah rasa malas merawat diri. Maka wajarlah ia jika merasa kehilangan kepercayaan diri, dan ketika ada celah, kesempatan yang menghampirinya…tanpa berpikir panjang ia menyambut, menangkap, dan hendak menggenggamnya erat.
“mas pung….perkawinan itu ga main-main, akan dibawa seumur hidup, kalau kamu memang serius, setidaknya kenalin dulu pacarmu sama ayah dan ibu, biar mereka tau seperti apa calonmu…” aku berkata selembut mungkin, rasa marah yang tadi hampir memuncak, mereda, menguap oleh kesadaranku sendiri akan keadaannya yang “istimewa”.
“kata ayah ibu disuruh kenalin pas lebaran nanti, lebaran kan masih lama mbak…!!” katanya sambil mengerjapkan mata, aku menarik nafas panjang, panjaaaang sekali.
“sudahlah, kalau dia jodohmu pasti nanti bisa kawin, kalau bukan….kamu ga usah khawatir, ibu bilang sama mbak, nanti kamu mau dicariin jodoh, anak saudara-saudara ibu kan banyak yang cantik-cantik, kamu tinggal pilih saja….” Aku membesarkan hatinya, memberikan sedikit harapan agar ia tak terlalu khawatir takut tak laku.
“ bener ya….cariin aku jodoh…” ia kembali menuntut penegasan
“iya…iya, tenang aja….ingat ntar habis kerja kamu pulang, biar ayah ibu ga khawatir “
“okey….pacarku tak putusin ah…kan nanti bisa kenalan sama anak saudaranya ibu…” aku terperanjat, terkejut oleh perubahan yang sangat drastis itu. Lihatlah ia…..betapa semena menanya, betapa kurang ajarnya memperlakukan cinta dan asmara. Seminggu kabur dari rumah demi mempertahankan cinta, berani berseteru dengan ayah ibu demi cinta, bahkan sepuluh menit yang lalu bersikukuh dengan alasannya mengapa ia harus segera kawin, namun tak ada semenit kemudian ia begitu mudahnya mencampakkan cinta itu, seperti membuang kulit pisang ke tong sampah saja…..
Kawan, sungguh aku tak mampu berkata-kata.

Rabu, 10 Agustus 2011

ANTARA IPUNG, MAKANAN DAN PESANTREN

Kawan, masih ingat akan ceritaku tentang adikku ipung yang “istimewa” itu ? kali ini aku akan menecritakan sedikit lagi tentangnya, tentang betapa sangat dekatnya hubungan ia dengan sesuatu yang bernama “makanan”, dan betapa jauh niannya dengan sesuatu yang bernama “pelajaran”.
Sedari kecil ipung sangat gemar makan, makanan apapun itu pasti akan disantapnya, ia tak kan berhenti menggiling sebelum kantung perutnya berontak karena terlalu penuh dijejali makanan. Dan sangat wajar jika tubuhnya menjadi lekas besar melebihi aku kakaknya. Dalam hal makanan, seluruh syaraf pengecap dan radar perasa yang dimilikinya hanya akan menangkap dua hal dan membaca dua sinyal saja, yaitu “enak dan enak sekali”. Lidahnya tidak mengenal kata “tidak enak”, kalaupun ia tidak berselera pada suatu makanan, itu bukan karena ia tidak menyukainya, melainkan karena perutnya sudah tak mampu lagi menampung makanan yang masuk. Kalian kira makanan itu akan diacuhkannya atau bahkan akan ditolaknya? Jangan salah…ia akan menyimpan makanan itu, sambil menunggu sedikit celah agar ia bisa memakannya. Dan kalau sudah begitu, maka moment yang paling ia tunggu adalah sakit perut karena ingin buang air besar, sebab itu berarti muatan dalam perutnya akan berkurang, dan ia akan punya alasan untuk mengisinya kembali.
Ibu adalah sosok yang sangat keras dan otoriter dalam beberapa hal, kami anak-anaknya tidak ada yang berani membantah setiap kata yang keluar dari mulutnya. Maka demi melihat perilaku yang tidak wajar pada anak laki-lakinya terhadap makanan, ibu menerapkan satu kebijakan yang sangat tidak boleh ditolak oleh adikku. Kebijakan itu adalah setiap porsi nasi yang ibu sajikan, adikku harus menghabiskannya tanpa sisa. Padahal tahu tidak kawan, seberapa banyak porsi yang disuguhkan ?…menggunung dan padat….kurasa itu porsi cocok untuk kuli bangunan yang bekerja keras dan sudah dua hari tidak makan. Aku sering bergidik melihatnya. Dan, kebijakan itu membawa petaka bagi adikku, sekuat apapun ia berusaha menjejalkan nasi itu kedalam perutnya, namun tetap saja ruang dalam perutnya tidak cukup besar untuk menampungnya. Sering kulihat ia tersengal-sengal sehabis makan, wajahnya memerah dan matanya berair. Dan jangan coba-coba untuk menyisakan makanan itu, bola mata ibu melotot seperti hendak keluar saja, mulutnya merepet tak karuan, jika ia masih melihat ada sebutir saja nasi yang tertinggal. Adikku meringkuk menopang perutnya yang sakit karena kekenyangan, aku meringis iba karena tidak bisa menolongnya dan ayah hanya menggeleng-gelengkan kepala. Jika ada satu patah kata pembelaan yang keluar dari mulutku atau ayahku untuk adik, maka tak segan-segan ibu akan meledak seperti dinamit, ribut bak petasan, dan kami memilih jalan aman yaitu diam. Sejak saat itu, jam makan adalah jam paling mengerikan namun tak mampu dihindari olehnya, terkadang saat ibu lengah, saat adikku berbisik seperti meringkik “mbak…aku ga kuat!!”, aku memindahkan nasi itu kepiringku, lalu pura-pura kebelakang mengambil sesuatu, padahal nasi itu kucampakkan kesaluran air pembuangan, kusiram dengan air sebanyak mungkin agar tak meninggalkan jejak, walau sebutirpun. Terkadang aku berpikir, ini bukan keberkahan namun kekejaman, meski aku tahu semua itu didasari oleh kasih sayang ibuku yang sangat besar pada adik laki-lakiku itu.
Menginjak Sekolah Menengah Pertama (SMP), ayah memutuskan untuk mengirim ipung ke sebuah Pondok Pesantren di sebuah kota kecil di Banyuwangi, itu artinya kita akan berpisah dalam waktu yang cukup lama. Ibu merana membayangkan akan ditinggal anak lelaki kesayangannya. Ayahku berat hati, penuh harapan dan sedikit lega. Berat hati karena akan tinggal berjauhan dengan putra mahkotanya, penuh harapan untuk mengenalkan dan mengajarkan pada anak lelakinya bagaimana kehidupan diluar agar ia bisa mandiri, sambil berharap waktu akan menempa dan mengikis sifat kekanak-kanakannya, dan ayah sedikit lega hatinya karena itu berarti uang jatah belanja buat ibu bisa berkurang, sebab ditinggal satu anggota keluarga….hi…
Liburan semester pertama, ibuku menangis meraung-raung ketika melihat anak lelakinya pulang dengan tubuh kurus, wajah tirus, kaki dan tangan penuh dengan koreng dan bau badan seperti lem kaleng. Adikku mengerjap-ngerjapkan mata sambil tersenyum “ kalau ga korengan bukan santri namanya” katanya enteng, aku mendengus “dasar jorok” dia tergelak. Bagaimana tidak gatal-gatal dan korengan, kalau tempat mandi untuk ratusan santri, ponpes hanya memiliki kamar mandi yang terbatas dan satu kolam besar pemandian yang tidak memiliki sistem saluran pembuangan yang layak, walhasil tuh kolam airnya bisa sangat kecoklatan bahkan hampir menghitam tercemari daki ratusan santri, dan hanya sebulan sekali dikuras, itupun secara manual. Ayahku tersenyum simpul, memandang putra kesayangannya yang kelihatan sedikit dewasa, sedikit berwibawa, meskipun memang terlihat kurus. Disimaknya adikku dari ujung kepala sampai kaki, peci hitam beludru, kemeja lengan panjang yang sedikit lecak, sarung putih tergulung rapi. Demi melihat sebuah buku bersampul kuning, yang rupanya sebuah kitab kecil tergenggam dalam selipan jemarinya, hati ayah membuncah, bahagia meletupkan dadanya, ada pancaran kebanggan dalam sorot matanya, ah…tak sia-sia aku mengirim anakku jauh-jauh untuk menuntut ilmu, begitulah suara bathinnya. Maka digamitlah tangan adikku, direngkuh pundaknya dan diajaknya duduk bersama.
“kitab apa tuh pung…coba tunjukkan, ayah pengen liat”
“kitab kuning yah…” maka kian bersinarlah mata ayahku saat melihat deretan huruf arab gundul centang berenang dalam lembarannya, wah hebat nian anakku nih, baru semester pertama sudah bisa baca huruf arab gundul.
“coba baca pung…ayah ingin tahu”, wajah adikku pias, matanya mengerjap-ngerjap.
“a a aku ga bisa yah, la wong ini nemu dekat mesjid pondok…he…” ayah lesu kecewa namun tetap tersenyum, adikku nyengir menahan malu. Kawan, kami (terutama ibu) sangat memahami bagaimana lemotnya sulur-sulur panel di otak ipung dalam menangkap sinyal pengetahuan, maka harusnya ayah menyadari dari awal, bahwa ada ketidakberesan pada kitab kuning yang tergenggam dijemarinya, namun euforia kebahagian rupanya terlebih dulu membutakannya…siapa tahu…kata ayah sambil mengedikkan bahu.
Selama menimba ilmu di pondok pesantren, ada banyak harapan dan juga pesimisme yang ayah ibu kembangkan, namun apapun hasilnya kami tidak ingin mendahului rencana Tuhan, hanya satu harapan ayah ibu, adikku mampu jadi orang yang bermanfaat, setidaknya bagi dirinya sendiri.
Tiap dua bulan sekali ayah mengunjungi pondok untuk menjenguk adik. Dan setiap pulang selalu saja ada cerita yang membuat kami tersenyum dan geleng-geleng kepala.
“Ipung tuh bikin pusing aja, habis kataku dibuatnya”, ayah bercerita sambil mengelus dada, bahwa di pondok ipung tak mau ikut kegiatan ekstra kurikuler apapun, kegiatannya diluar kelas dan kegiatan pondok hanya makan dan tidur. Jika teman-temanya menghabiskan waktu dengan bermain sepak bola, voli atau kegiatan lainnya, adikku lebih memilih mendengkur di sudut masjid, terlentang dengan baju digulung sampai kedada hingga terhamparlah perutnya. Jika temannya membelanjakan uang sakunya untuk membeli baju atau perlengkapan sekolah lainnya, adikku lebih memilih membelanjakannya di warung yang terletak agak jauh dari pondok, yang menyediakan menu lebih bervariasi daripada menu diasrama. Jika adzan subuh bertalu, semua berbondong ke mesjid untuk menunaikan sholat, namun adikku kepergok sedang pulas dekat ruang kelas kosong oleh penjaga asrama, maka kena hukumlah ia.
Ketika awal semester kedua ada kompetisi pidato antar kelas, tiap kelas mengutus dua orator untuk jadi wakilnya, entah karena tak ada yang berani atau memang terpaksa tak punya pilihan lagi, adikku terpilih menjadi salah satu orator. Adikku menyanggupi, karena merasa tersanjung diberi kepercayaan, ia berlatih dengan giat, siang dan malam mencoba belajar berpidato dan menyamarkan aksen gagapnya. Teman-temannya mulai optimis, mulai merasa tak salah menjatuhkan pilihan, dan adikku kian bangga dan sedikit membusungkan dada karena yakin akan hasil yang akan dicapai. Namun kawan, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih....saat hari kompetisi tiba, bencana melanda. Acara dimulai dari jam 9 pagi, begitu banyak peserta, begitu beragam cerita. Ketika matahari tepat diatas ubun-ubun, ketika keringat dan rasa kelelahan bercampur kecemasan mulai melanda para peserta, ketika itulah giliran adikku tiba. Host acara memanggil nama adikku dengan lantang, adikku tak tampak, panggilan kedua, teman-temannya celingukan mencari-cari adikku, adikku tak diketemukan. Panggilan ketiga dan terakhir, teman-temannya panik, adikku raib. Dan karena tak memenuhi panggilan ketiga, maka didiskualifikasilah adikku dari kompetisi, teman-temannya lemah dan lesu.
Tahukah kalian kawan kemanakah adikku menghilang? Disana, disudut mesjid, tempat persinggahan rutinnya, disanalah ia mendengkur, lupa akan kompetisi, lupa akan draft pidato yang dihafalkannya siang dan malam, lupa akan yel yel semangat dari teman-temannya dan lupa dari jam berapa ia terlentang disana dengan baju tergulung sampai di dada, seperti biasa. Itulah adikku kawan, sosok yang tak mudah diterka, tak mudah diraba.
Selama tiga tahun menimba ilmu di pesantren, kurasa tak banyak ilmu pengetahuan yang mampu diserapnya, tak banyak ilmu agama yang mampu dicernanya. Ayah pusing tujuh keliling, ibu mengurut dada namun tersenyum mengerling, berharap anak lelaki kesayangannya segera dipulangkan. Dan akhir ajaran kelas tiga, lulus dengan nilai yang sangat paspasan, ayahku memutuskan untuk membawanya pulang. “Biarlah ia sekolah dekat sini saja, biar lebih mudah dipantau” kata ayah pasrah….dan kawan, bukan ipung namanya jika tak membuat masalah. Ketika ayah mengurus ijazah sekolahnya, pegawai bagian administrasi menyodorkan kartu SPP yang menunggak selama 5 bulan, ayah berkilah bahwa ia selalu rajin mengirim uang sekolah pada adikku. Petugas administrasi tersenyum sambil berkata “coba bapak tanya sama Ipung pak, kemana uangnya…kalau saya tak salah lihat, dia sering berkunjung di warung makan diluar sana”. Ayahku mencoba tersenyum menahan marah, giginya gemerutuk menahan emosi “ awas kau pung, bikin malu ayah saja”