Wanita itu mematahkan sebelah sayapnya utk diberikan pada kekasihnya, karna sayap sang kekasih retak di sisi kiri. Direkatkannya sayap itu dengan lembut sambil berkata lirih pd sang kekasih "terbanglah kau bersama sayapku ini, dan jangan lupa kembalilah pulang saat pundi2 cintamu mengering". Saat sang kekasih terbang bergumul diantara kapas putih diangkasa, lewat kilat matanya dia berjanji "percayalah,aku pasti pulang", wanita itu tersenyum sambil melambaikan tangan, meski sebenarnya ada gelombang besar dalam hatinya. Dan, kulihat laki2 bersayap itu duduk termenung, kakinya menjuntai dipeluk bulan sabit yg tersembul malu-malu, mungkin dia kesepian, lelah mengelana sendirian. Aku sentuh sayapnya, dia terpana, merona dan tersenyum. Aku raih sayapnya, dia merentangkannya lalu merengkuhku "ikut aku" ujarnya, bersamanya ak terbang mengintip gugusan bintang, mencumbu angin, meliuk dalam rona senja. Saat laki2 itu kian erat menggenggamku, sayap kirinya gemeretak, berdarah dan dia merintih.
aku tak ingin membuat sayap laki2 itu kembali patah, maka kulepaskan genggamanku, namun laki2 itu kembali menggapaiku dengan sayap kanannya sambil berujar " jika aku melepaskanmu, maka sayapku tak mampu kurentangkan utuh, bersabarlah....suatu saat, saat pundi2 cintaku kering, aku harus kembali pulang. Namun saat ini temani aku agar saat aku kembali pulang tak ada cacat dikedua sayapku ". Aku terhunjam luruh dan hanya mampu berkata "pulanglah sekarang, sebelum kedua sayapmu benar2 patah, karna aku tak mampu mengisi pundi2 cintamu sebesar wanita itu mengisinya". Dan genggaman laki2 bersayap itu kian lemah.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar