INI SERABI AROMA PANDAN, KAWAN

IMPERIUM OF ME



Jumat, 15 Juli 2011

ABI

 Aku memanggilnya Abi, dia adalah suami dr bibi ibuku, perawakannya dan warna kulitnya seperti kebanyakan org asia, sedang, agak kurus dan kuning langsat. Daya tarik dr Abi adalah senyum tulusnya, ketegasan tatapannya dan sifat pendiamnya. Pekerjaan utama Abi adalah sebagai guru Madrasah di siang hari dan guru mengaji dimalah hari, profesi laen yg ditekuninya adalah sbg tukang cukur. Saban hari Abi memulai aktifitas pd pukul 4 pagi, hal pertama yg dia lakukan adalah membangunkan para santri yg menginap di langgar (musholla) kecil miliknya utk sholat subuh. Langgar butut itu terdiri dr dua lantai, dan terbuat dr kayu, lantai atas buat anak perempuan dan laki2 yg dibawah. Jika ada anak yg msh tertidur Abi akan mengeluarkan senjata utama yg slalu ia selipkan pd kopiah hitam bututnya yaitu selembar bulu ayam, Abi akan menggelitik telinga atau hidung anak itu, jika pd hitungan kesepuluh blm jg bangun, maka abi akan menyuruh salah satu muridnya mengambil air segayung, tiga kali percikan tdk bangun, walhasil wajahnya akan basah kuyup seperti ayam kecemplung dicomberan. Sehabis sholat subuh ada pengajian kecil kira2 30 mnt lamanya, lalu semua akan bubar pulang utk memulai aktifitas masing2. Sedang Abi akan mengeluarkan sepeda jengki warna birunya yg dibeberapa bagiannya sdh mulai karatan, dilapnya sepeda itu dgn hati2 dan lembut, setahuku benda itu satu2nya hasil tekhnologi modern yg dia miliki, oh iya selain alat cukurnya tentunya. Pukul 7.15 dia akan mengayuh sepedanya ke los cukurnya dipasar Sukorejo yg kira2 jaraknya 1 km, seingatku dulu ada tiga potong stel pakaian yg selalu ia kenakan saat dinas : kemeja batik abu2 tangan panjang dan celanan panjang coklat, baju koko krem dan celana panjang coklat, kemeja garis2 dua saku dipadankan dgn celana panjang coklat pula, aku curiga celana panjang itu satu2nya celana panjang yg dimilikinya. Dilos tpt dia bekerja hanya da 4 item barang yg dijejalkan pada space yg hanya berukuran 120x150 cm yaitu meja kaca, kursi tinggi bulat utk pelanggan yg sedang dicukur, bangku panjang utk pelanggan yg nunggu giliran, dan sebuah jam dinding bulat. Pelanggan setia Abi hanya terdiri dr dua jenis usia, anak laki2 kecil usia 6-9 th dan laki2 renta usia diatas 60 th, jd jgn heran jika model rambut yg abi kuasai hanya 3 model potongan rambut saja, cepak spt tentara, model batok kelapa dan gundul. Untuk tarif jangan kau tanya brapa kisarannya, Abi memasang tarif "seikhlasnya, seadanya, sepunyanya", paling tinggi dua ribu perak, selebihnya seribu dgn senyuman atau lima ratus dgn gerutuan. Abi tak pernah mengeluh, menghela nafas panjangpun jarang dia hanya tersenyum dan bergumam "trimakasih". Aku pernah menyarankan Abi utk pasang tarif tertentu yg lbh masuk akal, demi kemajuan usahanya, tp Abi berkata" tdk smua pelangganku org berpunya, siapa tahu mereka lbh tdk beruntung dr aku, yg penting mreka puas dgn hasil kerjaku". Bagi anak hasil karbitan zaman yg disebut modern, spt aku ini, Abi terlalu nrimo, terlalu pasrah pd keadaan, terlalu patuh pd garis edarnya. Bagaimana tdk, utk hasil krjnya sebagai tukang cukur dia pasang tarif seikhlasnya, kpd murid2 madrasah dan ngajinya ia hanya memungut iuran 200 perak utk membeli minyak tanah pengisi lampu minyak yg digunakan utk kegiatan mengaji, dan itupun tdk semua anak mematuhinya, dan abi pun tak pernah menanyakannya. Dan yg lebih mengherankanku, umi istrinya menjadi partner yg kompak dlm mengukuhkan rasa nrimo itu. Umi berjualan nasi pecel dipagi hari, kebetulan letak rumahnya hanya sepelemparan batu dari sebuah sekolah dasar. tahu tdk berapa rupiah yg hrs dikeluarkan demi utk mendapatkan sepincuk nasi pecel plus tempe goreng ditambah dua lembar krupuk nasi hanya 500 perak, ya lima tratus perak. menurut perhitungan ekonomiku harga itu tidak akan cukup menutupi setengah dari biaya produksi, tapi Abi dan Umi adalah sebuah ikon dari ketulusan dan kesederhanaan. Niatan utama mereka adalah memberi meskipun sebenarnya mereka pun butuh diberi.

Mereka menikmati semua kesederhanaan itu, kemiskinan tepatnya, tapi mereka paling tidak suka bila dikasihani. Bagi Abi, kemiskinan akan menjadi beban yang menyakitkan bila dijalani dengan penuh rasa penderitaan, dan ketidak bersyukuran, tapi Abi merasa bahagia, dia tidak menjadikan kemiskinan sebagai beban. Abi bahagia menjalani kemiskinan dan kesederhanaan itu. Rejeki baginya adalah apa yang habis dimakan hari ini, apa yang bisa dikenakan hari ini dan apa yang bisa dilakukan untuk orang lain hari ini.

Esok.. hari esok adalah milik Allah, Abi sangat yakin Tuhan tidak akan pernah menelantarkan hambanya. Bagi Abi, dia hanya punya dua tugas penting saja di dunia ini yaitu menjalani masa hidupnya di dunia dengan sebaik-baiknya dan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk kelak yang akan dibawa dihari akhirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar