Hujan kembali mengguyur malam ini, saat kutiba dirumah, hujan mulai mereda, kuucapkan salam terdengar jawaban lirih, kulirik jam yang tergantung di dinding, jarum menunjuk angka 22.20. Suamiku masih terjaga, sedang asyik di depan computer, ku longok kedalam kamar dua malaikat kecilku mendengkur pulas, ku duduk ditepi ranjang, kuciumi mereka bergantian, terutama si besar Naura…ku dekap dia erat, tak henti kucium pipi mungilnya, teringatku akan kejadian siang tadi, kita berdua sempat bersitegang yang lalu berujung pada hancurnya egoku yang makin menggaris bawahi ketidakmampuanku menjadi seorang ibu. Semua berawal dari kepanikanku sendiri, ketidakbecusanku mengatur waktu, aku adalah ibu rumah tangga sekaligus wanita pekerja, otomatis waktuku tersita pada dua tempat, rumah dan kantor. Dan pagi ini aku terlambat bangun, padahal pekerjaan rumah sangat menumpuk, masak, nyuci, setrikaan segunung, panic…sampai tdk tahu harus yang mana dulu aku kerjakan, ku hela nafas panjang seperti biasa, berusaha menenangkan pikiranku…..pertama yang kulakukan menjerang air, kusiapkan peralatan masakku, kulirik sekilas tumpukan baju kotor menggunung pula “giliranmu menyusul” gumamku dalam hati. Naura terbangun, dia langsung mencariku kedapur, ku sapa dia seperti biasa
“Pagi sayang, anak ibu paling hebat sudah bangun rupanya”, naura menguap lalu memelukku.
“Bu, hari ini naura ga sekolah ya”, ujarnya
“Kan kemaren kakak udah ga sekolah, masak hari ini ga sekolah lagi” jawabku sambil melanjutkan pekerjaanku.
“Kan hujan bu, nanti basah gimana?”
“Kan kakak bias pake raincoat” sanggahku, masih tetap berkutat dengan masakanku.
“Pokoknya Naura ga mau sekolah”, dia mulai merajuk, kubujuk dia dengan berbagai alas an, kurayu dia dengan kata kata indah dan iming iming hadiah, rajukannya mulai menjadi tangis, aku menyerah, kubiarkan dia dengan tangisnya, tanganku sibuk memilah milah pakaian kotor, sekali-kali kulirik masakanku diatas kompor.
“Ibu….boleh ya Naura ga sekolah” Naura masih pantang menyerah merayuku, air mata kian mengalir deras dipipinya, kudiamkan saja, aku hilir mudik antara dapur dan kamar mandi untuk merendam cucian, naura mengikuti dari belakang, tangannya menjumput bajuku. Karna merasa tidak dihiraukan, tangisnya kian keras, tarikannya diujung bajuku kian kencang, gigiku gemelutuk, kepalaku terasa berat seakan akan mau pecah, darahku memuncak ke ubun-ubun, tanpa sadar aku membentaknya,
“Ya udah, kalau kakak ga mau sekolah, terserah, jangan jadi anak ibu lagi, jangan ngomong sama ibu lagi”
Balasan yang kuterima ternyata jauh dari dugaanku, telak menohok jantungku, dengan histeris Naura balas berteriak.
“Ibu ga sayang Naura…..Naura kan cuma pengen lama sama ibu”
Aku tersentak, mataku berkunang-kunang, Naura terduduk memeluk lututnya, kepalanya terselip diantara lututnya, punggungnya terguncang-guncang karma isakan. Dan aku….gemetar, kakiku lemas, serasa tak berpijak, seperti ada palu besar menghantam dadaku, ah….dia hanya seorang anak kecil berumur 5 th yang ingin diperhatikan, ingin didengarkan, kenapa aku begitu keras padanya, dadaku naik turun lalu terguncang, air mata luruh dipipiku, aku bersimpuh dilantai, kurengkuh dia, kubawa dalam pangkuanku, kudekap erat, sangat erat.
“Ibu sayang Naura…...ibu sayang Naura, maafin ibu”, tangisnya kian pecah, dan aku kian remuk redam. Tuhan….betapa slama ini aku terlalu banyak mengabaikannya, betapa sedikit waktu yang kuhabiskan bersamanya, jika aku kerja pagi, aku meninggalkannya masih dalam keadaan tertidur dan baru akan bertemu sore harinya, jika aku kerja siang, hanya dua jam waktu yang bias kumanfaatkan yaitu sepulang dia sekolah, karma setelah itu aku akan berada dirumah kembali pukul sepuluh malam dan dia sudah tertidur, anakku sangat merindukan waktu untuk bias bermain bersamaku, seharusnya aku bisa memahaminya, Naura melepaskan pelukkannya, lalu mengusap air mataku.
“Ibu kok ikut nangis sih….” Aku tak mampu berkata-kata, tenggorokanku tersekat, ku gendong dia, kumatikan kompor, kutinggalkan cucianku, masa bodoh dengan semua pekerjaan itu.
“Ayo….ibu temenin main Barbie” dia menatapku sambil tersenyum, ada kilatan bahagia dimatanya, hatiku serasa diremas-remas.
“Main puzzle aja yuk bu…”, aku mengangguk cepat, dia langsung melompat dari gendonganku menuju ke keranjang mainannya.
pengalaman pribadi, tapi cerminan buat kita2 juga yang kadang lupa dengan tugas utama kita sebagai ortu.....saluuuut.....
BalasHapus