Duduklah, siapkan segelas kopi dan sedikit camilan untuk menemani, aku akan menceritakan sebuah kisah yang hanya tercatat dalam satu buku sejarah, yaitu hanya dalam buku sejarahku saja, ya…karena saat ini aku akan menceritakan potongan-potongan cerita hidupku berkaitan dengan pekerjaanku yang penuh dengan lika liku laki-laki, manis, asam, asin, pahit, getir, dan aku jamin kawan, jika kalian membacanya kalian tak kan bisa melupakannya….he….
Aku bekerja di sebuah perusahaan BUMN berlambang “petir” sebagai salah satu petugas pelayanan tekhnis di sebuah sub rayon kecil di salah satu kota di pulau bali. Sebagai petugas lapangan, kerjaku sangat berat kawan dan beresiko tinggi, tiap detik dalam pekerjaanku selalu diintai oleh kematian, maka kehati-hatian dan kosentrasi tinggi wajib digaris bawahi. Sebagai petugas yang berdiri di garda depan yang melakukan kontak langsung dengan pelanggan, aku pun dituntut memiliki beragam kemahiran. Selain harus mahir berzigzag ria dijalanan, cekatan berakrobat diatas genteng, bergelantungan diatas tiang, akupun harus mampu menjadi public relation, complain handling dan juga negotiator. Hmmm….kelihatannya keren ya kawan, padahal tak seindah yang kalian bayangkan. Public relation berarti aku harus pasang mulut cadangan, mengoceh ria menjelaskan cara kerja produk kepada pelanggan yang tidak mengerti dan sedikit lemot, complain handling berarti aku harus siap-siap menebalkan telinga, membajakan mental, membanting harga diri dan sedikit memasang tampang memelas, jika pelanggan yang kuhadapi termasuk dalam golongan “hard customer” (bebal, cerewet, sok tahu, keras kepala, gemuk, tua, bibir menyeringai tipis, alis celurit, pakai daster dan suka memamerkan telunjuk), maka terkadang kawan, beraneka ragam macam nama binatang ia sebutkan satu-satu, beragam jenis sumpah serapah ia semburkan, terasa sampai memanaskan telinga, membakar hati. Namun jika itu termasuk “easy customer”, tak jarang setelah komplin yang diucapkan secara lemah lembut, aku mendapat sedikit bonus tambahan, suguhan segelas kopi, sepotong dua potong kue dan….selarik senyum manis dari anak gadis sang pemilik rumah, kalau sudah begini kawan…amboi….lupa aku akan bini…ups. Dan terakhir sebagai Negotiator berarti aku harus pandai pandai mengambil hati pelanggan, menawarkan sedikit jalan keluar agar tak terjadi komplin. Rumit namun menyenangkan, keras namun melunakkan…aihh…apaan sih.
Kurang lebih sudah dua belas tahun aku bekerja dikantor ini kawan, jika itu besi maka sudah karatan, jika itu batu kali maka sudah lumutan, jika itu baju rendaman maka sudah sangat jamuran. Jangan kau sangka aku betah bertahan karena gaji yang besar kawan (sstt…gaji disini kukira berbanding lurus dengan gaji SPG swalayan, dan berbanding terbalik, sangat dibalikkan oleh penghasilan dari seorang pemilik warung lalapan), tapi semata dikarenakan karena aku sangat mencintai pekerjaanku, sungguh….selain itu aku suka pembagian waktu kerjanya yang berupa shift, sehingga memungkinkanku mempunyai banyak waktu untuk melakukan kerja tambahan diluar. Namun yang paling penting dari itu kawan, yang sangat membuatku tak bisa lepas dari pekerjaan ini adalah terletak pada tantangan-tangannya, setiap hari menghadapi keluhan, kasus dan masalah yang berbeda, kian hari kian rumit seiring dengan makin canggihnya tekhnologi kelistrikan, dan semua itu menuntut jiwa-jiwa petualang, jiwa-jiwa yang gemar akan tantangan untuk terus belajar meningkatkan ilmunya, aku menyerap semua ilmu itu secara otodidak, dengan aneka masalah yang berkembang dan kuhadapi setiaphari, otomatis ilmuku bertambah, kepiawaian dan pengalamankupun meningkat, itu bisa kujadikan sedikit bekal untuk menghadapi kepungan tehnologi yang semakin tak terbendung.
Dengan rentang kerja yang sudah cukup lama dan karatan itu kawan, maka aku cukup mumpuni dalam hal pengalaman dilapangan, kenyang dengan peristiwa membahagian dan menyedihkan, bahkan mengenaskan sekalipun sudah pernah terlewati. Berbagai jenis masalah, aneka karakter pelanggan dari yang sangat biasa sampai luar biasa pernah kutangani, peristiwa menggelikan, menakutkan, dan meremangkan bulu kuduk pernah juga kualami. Mari kuceritakan sebagian saja pengalamanku kawan, supaya kalian tahu betapa aku sangat menyukai pekerjaanku, dalam kejadian sulit sekalipun, aku tetap mencintai pekerjaan ini.
Aku ini pegawai senior, kalau tidak mau dibilang paling tua dikantor, maka wajar bila predikat yang disematkan didadaku adalah “pelupa alias pikun bin alzhaimer”, setiap habis melakukan perbaikan dirumah pelanggan, selalu ada saja alat kerja yang kutinggalkan, baik itu sengaja maupun tak sengaja…loh, kok bisa?, mari kujelaskan. Jika peralatan kerja itu tertinggal secara tak sengaja, itu memang murni akibat dari penyakit lupaku. Namun jika disengaja, itu bisa disebabkan dua kemungkinan, karena kejahilanku atau rasa penasaran.
Latar belakang masalah:
Perbaikan gangguan listrik dirumah pelanggan, tuan rumah seorang kakek atau nenek yang lambat dan ramah. Berbasa basi, atau mengajak ngobrol santai sang tuan rumah, dan ketika hati tuan rumah telah terpikat oleh cara kerja dan keramahanku, maka hukum “apa yang kau tanam, itulah yang kau petik” segera berlaku. Keluarlah si anak gadis sang empu rumah, membawa nampan berisi segelas kopi dan sepiring kue, lenggak lenggok tersenyum maniissss sekali, baju lekat selekat-lekatnya, rok sependek pendeknya, dan aku menelan ludah sedalam dalamnya…he…kalau sudah seperti ini kawan, konsentrasiku buyar, 10 etos kerja morat marit, diganti dengan menajamnya sensor syaraf motorik “donjuan”ku. Aku ini tipe laki-laki yang sangat menghargai ciptaan Tuhan, pengagum segala keindahan yang telah diciptakan_Nya. Bukankah wanita itu ciptaan yang indah kawan? Maka tak salahkan jika aku menagumi dan menikmati keindahan itu? Sekedar selingan untuk penghibur saja, tak lebih dari itu….dan ketika Si gadis tersenyum, aku balas tersenyum pula. Si gadis mengerling, aku mengerjap. Maka ketika pekerjaan rampung, tangga terlipat, peralatan dikemas, insting kelimaku bekerja memprovokasi. Lalu dengan diam-diam, serapi mungkin, sepelan mungkin, sewajar mungkin dengan pasti sengaja ku tinggalakan salah satu peralatan kerjaku, yang pasti bukan tangga atau mobil lah, terlalu besar dan tak intelek..he…
Nanti setiba di kantor aku akan pura-pura kehilangan, berusaha mengingat-ingat, lalu aku menebak mungkin aku meninggalkannya di rumah gadis itu, jadi aku akan punya alasan untuk kembali kerumah itu dengan harapan yang menyambutku langsung anak si empunya rumah, intermezo sedikit, dua tiga jurus rayuan dikeluarkan, aku yakin…haqqul yaqin…nama dan no telphone dapat kukantongi..hi….tabiat seperti ini bukan sebuah tabir kawan, hampir semua rekan kerjaku memiliki motto serupa “jangan biarkan keindahan terlewati”, merekapun tak bisa melihat sesuatu yang indah indah itu menganggur tanpa pengagum, Cuma caranya saja yang berbeda-beda, tapi sungguh….semua itu hanya keisengan belaka, insting nakal dari seorang laki-laki saja, tanpa berniat berbuat lebih jauh.
Pengalamanku yang lain yang berkaitan langsung dengan pelanggan kawan, tak kalah lucu dan menegangkan. Pernah suatu hari aku menerima laporan gangguan listrik dari salah satu pelanggan, aku catat namanya, jenis gangguan, alamat jelas dan nomor telponnya. Berbekal informasi yang kudapat aku dan kawanku (satu shift terdiri dari dua petugas) segera meluncur kelokasi, kala itu siang menjelang sore, terik mentari masih tak surut meniupkan hawa panas yang menyengat. Kututup kaca mobil rapat, menyalakan AC mobil untuk mengusir hawa panas dan rasa gerah, namun sial….baru beberapa menit aku menikmati kesejukan itu, hidungku disergap bau busuk nan mencurigakan. Kulirik temanku yang sedang menyetir mobil, raut mukanya datar, sepertinya ia tak terganggu oleh bau itu. Aku mengendus-endus, menajamkan sensor penciumanku, mencari-cari asal sumber bau busuk itu…dan disanalah ia kutemukan, dibawah dashboard, dekat sebuah kaki telanjang yang kapalan, terselip diantara pijakan rem, teronggok sepasang kaos kaki kumal, hitam, dekil, melambai-lambai tersenyum padaku. Aku melotot menatap temanku yang akhirnya nyengir juga. Mualku dibuatnya, dengan bersungut-sungut, menggerutu panjang lebar, kumatikan kembali AC mobil dan kubuka jendela mobil lebar-lebar. Ah….segarnya, akhirnya aku terbebas juga dari aroma tak menyedapkan itu. Setelah hampir 30 menit mencari-cari lokasi, akhirnya kutemukan juga alamat si pelanggan. Rumah terlihat sepi dan lengang, temanku celingukan mencari tombol bel, dengan sedikit mengeraskan suara, aku mengucapkan salam dan memanggil sang pemilik rumah, tak ada jawaban…”ga ada bel” ujar temanku, aku berteriak kembali, sepi. Tak ada satupun tetangga yang bisa kutanyai, akhirnya aku dan dan temanku memutuskan untuk memanggilnya sekali lagi, jika tak ada jawaban jua, maka akan ditinggalkan dan tunggu lapor ulang. Setelah pada teriakan ketiga tetap tak ada sahutan, aku segera masuk kembali ke mobil, namun…belum sempat kututup pintu mobil, pintu rumah berderak dan terbuka, muncullah sepasang laki perempuan tergopoh-gopoh menyuruhku berhenti, deru nafas mereka ngosngosan seperti habis ikut lari marathon. Aku dan temanku melongo demi melihat penampilan mereka. Si lelaki hanya mengenakan celana boxer, dadanya naik turun, rambut acak-acakan. Si perempuan hanya berbalut secarik kain menutup dada sampai ujung kaki, tak kalah semerawutnya, rambut mekar seperti rambut singa, mata masih merem melek berkejaran dengan nafas yang masih memburu…aw…aw…aku paham, pahaaaamm sekali, rupanya siang ini, baru saja terjadi pertempuran yang sengit sekali, namun tak terselesaikan…time out sejenak, dan akan dilanjutkan nanti setelah jeda iklan. Aku dan temanku mengulum senyum, merekapun tersipu. Itu peristiwa lucunya kawan, sekarang mari kucerikan peristiwa yang menegangkan, dan membuat merinding bulu kudukku. Beginilah ceritanya……
Ketika itu malam turun, aku dan temanku menerobos pekatnya demi sebuah tugas kerja yang mulia, membantu orang yang sedang berada dalam kegelapan, menolong orang yang terjebak dalam ruang gelap gulita, karena…listrik mati…he…, sebuah laporan gangguan masuk, melalui radio yang disampaikan operator, aku dan temanku bergegas, maka disinilah aku sekarang, berkendara di pekatnya malam di tengah jalanan yang lengang, sambil menyetir sekali-kali kulirik lampu jalan yang rupanya banyak yang tak berfungsi, temanku sibuk mengutak atik hapenya, kuputar radio mencari-cari gelombang yang pas dan musik yang enak, demi mengusir rasa kantuk. Rumah pelanggan kali ini terletak agak jauh dari kota, jalan menuju rumahnya terhampar persawahan, hanya satu dua rumah terselip diantaranya. Mobil kuhentikan di depan sebuah rumah bertingkat bergaya minimalis, suasana rumah sepi dan gelap, karena memang listriknya mati. “masuk saja pak” terdengar suara perempuan dari dalam, yang memang menunggu kedatangan kami, aku menyuruh temanku menyalakan senter dan menyiapkan peralatan. Dalam keremangan, hanya diterangi cahaya senter, seorang perempuan dengan rambut sebahu menuntun kami kearah tempat KWH meter terletak, rupanya terjadi konsleting di KWH yang menyebabkan lampu rumah padam, dengan cekatan kuperbaiki, kuteliti sejenak panel dan kabel kecil didalamnya, temanku dibelakangku memegang senter, membantuku dengan memberi sedikit penerangan. Tidak ada sepuluh menit, masalah bisa kuatasi, ku ON kan MCB lampu langsung menyala sempurna. Lampu senter dimatikan, terasa ada colekan keras dipunggungku, aku refleks menoleh, ternyata itu berasal dari tangan temanku, wajahnya pias matanya nanar melihat sesuatu, ada sesuatu yang tak wajar rupanya…..kuikuti pandangan matanya, aku menelan ludah, matakupun tak mau berkedip. Rupanya nun disana, tak ada semeter, berdiri perempuan sang pemilik rumah ditengah pintu, tangan kanannya sedikit terangkat bertopang pada bibir pintu, dan tangan kirinya bertelekan pinggang. Dia tersenyum padaku…pada kami maksudku… …dan amboi…lihatlah pakaian yang dikenakannya, baju tidur tipiiiiss banget, kurasa kalau ada lalat terbang nyasar bisa langsung robek dan menembusnya. Ssttt…..dan tahu tidak kawan, apa yang terpampang dibalik gaun tidur itu, jelas sekaliii….sepasang buah dada yang ditutupi bra berenda dan dibawahnya secarik G-string likat melekat, aku dan temanku serentak menelan ludah dengan kompak, “su sudah bu” suara temanku terdengar serak, aku diam tak bicara, untuk sepersekian detik mata kami lekat tak lepas menatap nya. “makasih ya mas…” ujarnya, posisinya tak bergeming, bias cahaya lampu menembus tipisnya gaunnya, entah ia sengaja atau tidak, namun yang jelas kutangkap dari rautnya, tak sedikitpun rasa risih yang tersirat, pun mimiknya tak menampakkan rasa keberatan sedikitpun karena kami telah dengan terang benderangnya, dengan lancangnya menggerayangi tubuh dibalik gaunnya dengan tatapan mata seperti singa yang hendak menerkam mangsa. Sedang diseberang sana, dalam kepala dua orang laki-laki yang terjebak fantasi ilegal, yang kebingungan memetakan warna hitam atau abu-abu, berada dalam dilema, pertarungan bathin, kekuatan baik dan buruk saling adu argumentasi dalam hati, meributkan sesuatu yang jelas tak halal dilakukan, sedang nun jauh dibawah sana, hormon testoteron mendesak-desak meniupkan propaganda dan provokasi. Cuping telinga temanku kembang kempis, jakunnya naik turun tanpa henti. Ini harus dihentikan…harus, aku menarik nafas panjang, tersenyum dan pamit permisi secara sopan. Sampai didalam mobil, sumpah serapah, ceracau tak jelas saling bersahutan dari kita berdua. “Sial…sial…sial…kamu lihat tadi, montok dan mulus….shit…”.
Hei…kami lelaki tulen, temanku seorang bujangan, meski lapuk bukan berarti testoteronnya tak berfungsi, sedang aku sendiri jauh dari istri, baru pulang dua bulan sekali, wajarkan jika kelabakan dan tergagap melihat sesuatu yang begitu dekat jaraknya dengan sesuatu yang berbau “seks”. Itu baru sebagian ceritaku kawan, belum cerita yang lain. Bagaimana aku pernah hampir kejang-kejang karena dicolak colek pelangganku yang bencong…hi…belum lagi jika aku menangani gangguan di area pedesaan, dimana hal-hal biasa bisa menjadi sebuah kejutan yang luar biasa seperti: nenek-nenek tua, bersanggul, berkebaya, tiba-tiba mengangkat kainnya (seweg rek…) dibawah pohon dan dengan cuek bebeknya kencing sambil berdiri, hi aku bergidik. Belum lagi masalah kendala bahasa, menghadapi pelanggan yang tak bisa sedikitpun bahasa indonesia, bisanya hanya bahasa daerahnya. Sedang kemampuan bahasa daerah setempatku pun sangat mengenaskan, entahlah kawan…meski bertahun-tahun lamanya aku tinggal dipulau ini, tapi tetap saja kemampuan memahami bahasa daerah setempatku jongkok dan dibawah rata-rata. Maka jika sudah seperti itu kawan, senjata utamaku adalah mencampur adukkan semua bahasa yang kukuasai, setengah bahasa jawa, seperempat bahasa madura dan seperlapan bahasa bali, jika tak mempan juga, kupakai bahasa isyarat…gelap kawan, sangat gelap…hehehe…
Pengalaman paling dekat dengan kematianpun pernah kualami. Kerjaku ini berbahaya, penuh resiko dan suka mengundang malaikat maut untuk turun. Pernahkah kalian berada diatas tiang listrik, bergelantungan dengan akrab dan bercengkrama denga kabel-kabel bertegangan tinggi, ditengah ancaman terik mentari yang menyengat, angin kencang yang lancang, ditengah hujan badai memancing-mancing petir? Aku pernah kawan. Pernahkah kalian tanpa sengaja bersenggolan dengan kabel listrik berkekuatan tinggi, yang mampu menghanguskan tubuhmu, mempresto belulangmu? Aku pernah kawan, dan karena saking kagetnya aku terpeleset dari tiang setinggi 10 meter, sedang dibawahku jalanan aspal, trotoar beton siap menjadi peraduan, seperti mulut buaya yang mangap menunggu mangsa. Namun rupanya malaikat maut masih tak menginginkanku, disaat genting itu, aku sempat menyambar besi lampu jalan, bergelantungan dengan gemetar, otak blank, perasaan campur aduk tak karuan, dan terselamatkanlah aku. Sedikit saja kawan, sedikit saja aku memprovokasi malaikat maut, maka tamatlah riwayatku, menghantam trotoar beton yang telah menantiku, dan tentu saat ini aku takkan bisa menuliskan kisahku, sejarahku yang gilang gemilang ini kawan….he…. Itulah sekelumit kisahku kawan. Dan seperti yang kukatakan dari awal, sekeras apapun, seberat apapun keadaan yang harus kualami, aku tetap mencintai pekerjaanku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar