INI SERABI AROMA PANDAN, KAWAN

IMPERIUM OF ME



Jumat, 12 Agustus 2011

WHEN “IPUNG” FALLIN’ LOVE

Ipung dan cinta, hmm….rumit dan complicated, aku tak tahu harus mulai dari mana kawan. Antara ipung dan cinta, terlalu banyak ironi, kejutan-kejutan, dan…..aib. mari kuceritakan dan simaklah…maka akan kalian temukan bahwa terkadang tak selamanya cinta bisa mempermainkan perasaan seseorang, tak selamanya cinta menjadi pongah dengan menyita sesuatu yang bernama hati. Itu tidak berlaku bagi Ipung adikku. Ditangan adikku cinta serupa permainan karet gelang, sesakit apapun tangannya kena jepret, dia tak kan berhenti memainkannya, dengan gembira.
Seingatku, ketika pertama kali ia mulai begitu dekat dengan sesuatu yang bernama cinta…ah tidak, kuralat, aku tidak berani mengatakan itu cinta, kuganti saja dengan sesuatu “perasaan akan ketertarikan pada lawan jenis” itu lebih tepat. Ketika itu ia duduk dibangku SMA kelas dua. Mudik lebaran dikampung, sore hari ketika orang-orang masih hilir mudik saling berkunjung dari satu rumah kerumah lain. Disanalah ia bertemu dengan gadis itu, diujung teras rumah tetangga. Gadis itu mungil, hitam manis dan sedang asyik bercakap dengan kawannya. Ipung tergagap tertancap panah Cupid, wajahnya meriah menahan pesona, malu dan rasa minder. Namun dengan gagah berani ia akhirnya menghampiri gadis itu, mengajaknya berkenalan lalu berujung pada obrolan. Dilihat dari sorot matanya, gadis itu sebenarnya tak tertarik pada adikku, mungkin ia hanya sedikit tersanjung hatinya karena merasa ada yang naksir padanya (sifat dasar perempuan, yang suka menjadi pusat perhatian). Entah apa yang mereka perbincangkan, sepertinya sesuatu yang seru, yang kutahu kemudian Ipung merogoh sakunya, mengeluarkan uang dan memberikannya pada gadis itu, adegan selesai.
Keesokan sorenya, kasak kusuk terjadi di ruang depan rumah, ayah ibu dan saudara-saudara yang lain saling terbahak dan tergelak membicarakan sesuatu, aku terpikat dan ingin tahu, maka bergabunglah aku. Rupanya mereka sedang membicarakan Ipung dan gadis itu. Tahu tidak kawan hal apakah yang terjadi? Ternyata setelah adegan pemberian uang sore itu, keesokan paginya, ketika Ipung sedang duduk sendiri di teras depan, ia melihat gadis pujaannya dibonceng lelaki lain (entah itu kekasih, kakak atau saudara gadis itu), Ipung meradang, hatinya panas karena merasa di khianati, ia terbakar cemburu secara sepihak. Maka tanpa ba bi bu, dengan rasa amarah mencapai ubun-ubun siang harinya ia menemui gadis itu dirumahnya, dan aib pun terjadi…apa yang dilakukannya? Ia, dengan wajah memerah dan bersungut-sungut meminta kembali uang yang telah ia berikan kemarin, uang “sebelas ribu rupiah” itu, sangat memalukan bukan? Itulah kenapa kusebut itu sebuah aib. Ternyata bagi Ipung, uang itu bukan hanya sekedar uang pemberian saja, namun baginya adalah serupa mahar, uang pengikat dan kesepakatan tak tertulis akan perasaan cintanya, meski sebenarnya tanpa ada suatu komitmen apapun yang terjadi. Maka baginya itu adalah hubungan “asmara” tersingkat yang pernah ada dalam hidupnya. Seiring didapatkannya kembali uang “mahar” itu, seketika itupun menguaplah segala rasanya pada gadis itu, perasaan suka, merona, marah, benci, kecewa merasa dikhianati pias menghilang terhapus oleh perasaan bahagia karena uang “sebelas ribu rupiah” itu kembali ketangan, ia mengerjap dan tersenyum, di kepalanya sudah tergambar semangkuk soto di warung sebelah. Begitulah Ipung, simple dan sederhana, tak masalah tak mendapatkan cinta, yang penting ia bisa mempunyai uang untuk makan diwarung.
Pengalaman asmara berikutnya terjadi ketika ia sudah tak lagi sekolah, ia bekerja di sebuah toko grosir sembako, tugasnya menjadi kurir pengantar pesanan konsumen, gas elpiji, gallon air, beras dan sebagainya. Ia menjadi pegawai kesayangan bos nya, mengapa? Dengan berbekal tubuh yang besar seperti Obelix, tenaga sekuat Samson, namun memiliki otak yang “sederhana” seperti Bernard (tak pernah menanyakan ia digaji berapa, yang penting ia diberi makan. Namun syukurlah bosnya itu orang yang baik), maka ia bak prajurit yang bertarung di garda depan, ulet dan dapat diandalkan. Si bos harus pintar membaca sinyal batere dalam perut Ipung, tinggal setengah saja harus segera di charge, karena kalau tidak, bisa menghambat kelancaran traffic kirim mengirim pesanan.
Sore itu, selepas bekerja, ia mampir ke rumahku, ibu menyuruhnya mengirim sesuatu padaku. Ucapan salamnya riang dan bersemangat, wajahnya sumringah dan sedikit cengengesan, bau keringat badannya menebar menusuk hidung, aku mendengus sambil menutup hidung, dia cekikikan.
“napa sih, kok kayaknya seneng banget…” tanyaku heran
“aku punya pacar, ntar habis Maghrib janjian mo keluar…” jawabnya sambil menaik turunkan alis dan tersenyum.
Bola mataku berputar, “ya sudah, hati-hati bawa anaknya orang” pesanku, meski dalam hati aku yakin seratus persen, siapapun anak gadis yang bersama adikku, pasti akan aman terkendali, karena kutahu adikku sangat menguasai tata cara pacaran yang baik dan benar, tanpa rayuan, tanpa sentuhan, apalagi lebih jauh dari itu, paling banter mereka hanya mengobrol saja, itu yang ada dalam benakku, dan aku tak perlu mengkhawatirkan sesuatu.
Seminggu berselang, dan aku tak mendapat kabar apapun darinya. Namun, ketika malam minggu kedua tiba, tepat jam 10 malam, disaat mataku terkantuk-kantuk menatap layar teve, aku dikejutkan oleh suara hapeku yang menjerit, dengan kesal kuangkat telpone, sekilas kulihat dilayarnya tertera nama adikku.
“apa….!!!!”
“mbak…ayah ni lho! masak aku lagi enak-enak pacaran di telponin terus, disuruh pulang” terdengar suara Ipung dengan nada mengadu dari seberang.
“ya udah pulang aja, lagian ini kan udah jam sepuluh, emang kamu tadi keluarnya jam berapa?” Tanyaku geli.
“jam 4 sore…” jawabnya datar dan tanpa ada rasa bersalah dalam nada suaranya.
“hadehhh….ya jelas kamu disuruh pulang, udah cepet pulang, besok lagi pacarannya “ ujarku geregetan.
“ya…” suaranya terdengar lesu.
Aku menarik nafas, tak habis pikir bercampur rasa geregetan. Ipung anak laki-laki satu satunya, segala tindak tanduknya sangat mengkhawatirkan, sebesar apapun ia tumbuh sekarang, tetap saja ayah ibu menganggapnya sebagai anak kecil yang harus dipantau dan dilindungi, ya semua karena “keistimewaanya” itu. Maka wajar jika ayah ibuku merepet, ribut seperti induk ayam kehilangan anaknya, ketika menyadari anaknya raib dari pukul 4 sore, dan sampai jam 10 malam belum pulang jua. Aku sangat bisa mengerti itu.
Keesokan harinya Ipung ke rumah, hatinya masih dongkol dan belum plong tentang kejadian semalam, ditambah lagi ia merasa aku tak berada dipihaknya. Pelan dan dengan menggunakan bahasa yang mudah ia mengerti, sedikit dibumbui sanjungan, ia mulai manggut-manggut, entah mengerti atau bosan mendengar petuahku. Ku alihkan topik pembicaraan, kuungkit sedikit program pacarannya.
“nama pacarmu siapa? “
“kasih…” jawabnya cepat dan penuh semangat
“kemaren kemana aja” aku nyinyir sedikit mengorek.
“muter-muter, trus duduk-duduk dilapangan”
“trus, pacarmu ga kamu ajak makan? Traktir sesuatu gitu…!!” ini semacam interogasi kawan.
“enggak, Cuma beli Aqua sebotol aja…” eh dia nyengir kuda….
Aku mendelik menatapnya “whatttt……kamu ajak anak orang dari jam 4 sore, hanya kamu beliin minuman sebotol?”
“la wong aku Cuma bawa uang 10 ribu” jawabnya ringan, enteng. Aku menggeram seperti anjing, ingin rasanya kuterkam dan ku jambak rambutnya, kubelah kepalanya, kucuci otaknya, dan akan kubersihkan panel-panel yang tersumbat agar hilang lemotnya.
“kamu tuh laki-laki, bersikaplah selayaknya laki-laki, pacaran tuh harus modal, berani ngajak anak gadis orang, berarti berani mengeluarkan uang, dengar pung….” Aku muntab.
“masak anak orang kamu biarkan kelaparan, lima jam lebih diajak keluar cuma dibeliin sebotol minuman. Penilaiannya akan buruk sama kamu, kamu ga akan punya nilai lebih dimatanya..” dadaku naik turun, emosi meletup dibuatnya.
“kalau dia minta dibeliin makan, kan berarti dia wanita matre…” sanggahnya tenang, rautnya datar, tak beriak tak bermimik.
“bukan begitu…..” aku tercekat, habis kataku dibuatnya, hilang kesabaranku dibikinnya, aku bingung harus mulai dari mana untuk menjelaskan kata “matre” yang kutaksir ia mengerti artinya hanya sepotong. Aku mengurut dada, mengelus-elus hipertensi agar tak kumat, pikirannya masih kanak-kanak bathinku menenangkan hati.
Beberapa purnama berlalu, belum ada cerita terbaru tentang Ipung yang kudengar. Aku berharap jalinan asmaranya lancar dan mulus-mulus saja. Jujur ada sedikit ketakutan dalam hatiku, dengan kondisi dirinya yang “istimewa” dan serba terbatas, aku takut ia jatuh pada perempuan yang tak tepat, dan memanfaatkan kelemahannya. Meski untuk hal semacam itu “menikah”, kami sekeluarga masih belum mau memikirkan, masih terlalu jauh, sangat jauh bagi ipung kami yang sederhana.
Lalu suatu hari, ia tiba-tiba muncul kembali ke rumah, diiringi ucapan salam singkat, ia ngeloyor langsung menuju dapur. “laperrrr” katanya sambil cengengesan seperti biasa, ia mengambil dua bungkus mie goreng instant dan sebutir telur. Menjerang air, dan dengan cekatan tangannya merobek bumbu yang tersedia. Aku bersandar pada palang pintu dapur, memperhatikannya. Sambil mengunyah “marning” camilan jagung, aku mengajaknya bicara.
“apa kabar Kasih..?”
“udah putus kemaren.…”
“loh kok..!!!”
“gara-gara ibu tuh….setiap aku janjian mo ketemuan, selalu saja diminta untuk nganter-nganter, ke pasar lah, ke rumah tante lah….udah, Kasih marah, dibilang aku tak menepati janji dan aku diputusin…” tanpa beban dia menceritakannya padaku, wajahnya tak menampakkan kesedihan seperti orang yang sedang patah hati, tangannya sibuk mengaduk-aduk mie dalam panci kecil.
“tapi tenang….” Sambungnya, “ aku mau dikenalin ke cewek sama temenku, do’ain aja…. “ alisnya naik turun, senyumnya mengembang, tak kusangka tak kuduga playboy juga nih orang. Aku pun tersenyum, mengangkat bahu, sudah kuduga bagaimana akhirnya. Namun yang tak kusangka, perlakuaanya terhadap cinta bisa begitu mudah, ringan dan ga pake ribet. Rupanya aku harus banyak belajar tentang manajemen hati padanya, bagaimana menguasai rasa terluka karena cinta, betapa rasa sakit karena cinta itu tak mampu membuatnya terhempas. Jika banyak orang yang merana dan terluka karena cinta, itu tak berlaku pada adikku. Jika cinta dengan mudah mempermainkan hati seseorang, maka Ipung malah dengan sesuka hati memainkan cinta.

Ipung adalah sosok yang penuh dengan kejutan dan kontroversi, seperti tak pernah habis episode menggelikan dibuatnya. Ipung remaja bukannya tambah dewasa dalam berpikir, namun kian memusingkan kepala ayah ibu. Sehabis menutup bab sebelumnya, maka dibukalah bab selanjutnya, kali ini sampai membuat kalang kabut ayah dan ibu.
Ibu menelponku panik, “Ipung udah seminggu ga pulang, ngambek!”
“emang ada apa ? “ tanyaku, terbersit kekhawatiran juga dlm hati, ini baru pertama kali terjadi.
“minta kawin…” aku tersedak kopi, terbatuk-batuk karena terkejut. Ibu memintaku untuk menasehati Ipung jika kerumah, karena hanya aku yang mampu menjinakkannya. Tapi sayangnya Ipung tak muncul-muncul jua, kuhubungi handphonenya tidak aktif. Aku tak kehabisan akal, aku menghubungi tempatnya bekerja, meminta mengirim satu tabung elpiji, kebetulas gas di rumah juga hampir habis, dan aku meminta supaya Ipung yang mengantarnya, tidak boleh yang lain.
Maka datanglah ia, suara motornya menderu, tanpa mengucapkan salam ia langsung nyelonong ke dapur. Kubiarkan saja, kuperhatikan ia sibuk membongkar pasang tabung gasku. Ku Tanya apa ia sudah makan, ia menjawabnya hanya dengan anggukan. Aku tak boleh hilang kesempatan, momen ini memang kutunggu, agar aku bisa tahu apa yang sebenarnya terjadi. Menghela nafas sebentar, lalu ku mulai dialogku.
“mas pung katanya mau kawin ya…?” sengaja kutambahkan kata “mas” agar terkesan lebih indah dan menghargai, panggilan itu “mas” sebenarnya adalah panggilan anak-anakku kepadanya.
“iya…tapi dilarang sama ayah dan ibu, mau kawin kok dilarang..” gerutunya, bibirnya manyun, air mukanya cemberut, terlihat sekali ia sedang kesal.
Aku terdiam sejenak, mencari-cari kata yang tepat untuk mengorek informasi.
“anak mana? Sudah berapa lama pacaran?”
Ia melirikku sejenak “anak jawa, Balung (nama kota), pacarannya sudah sebulan ini”
Aku mencium bau ketidak beresan dalam otaknya, “terus kapan ketemunya? Kamu sudah tahu rumahnya gak? Pacarannya gimana?
“ketemunya pas waktu ke jawa kemarin, aku sudah diajak kerumahnya kok, pacarannya ya lewat telpon dan sms aja lah…”
“berapa kali kamu kerumahnya…?”
“satu kali…”, betul kan kawan, ada ketidakberesan pada panel otak adikku, aku mencium bau gosong karena konsleting.
“mas pung….kamu baru sebulan pacaran, baru sekali kerumahnya, ayah sama ibu belum tau seperti apa pacarmu, kok sudah minta kawin sih…” aku berkacak pinggang, ya Tuhan apalagi yang tersangkut dalam otak adikku ini.
“dia yang minta diikat, lagian kan mumpung ada yang mau sama aku mbak….?” Gdubrak…klontang…klontang, ooohhh….rupanya alasan ini “mumpung ada yang mau” yang membuat ia kebelet kawin, yang membuat ia minggat dari rumah, aku benar-benar tak bisa bicara. Kupandangi ia, lama….ia hanya menunduk, lihatlah wajah polos kekanakannya itu, wajah innocent yang terperangkap dalam tubuh yang besar, perut tambun, kulit sedikit hitam karena sering terpanggang sinar matahari, rambut acak-acakan dengan bertaburan ketombe, bau badan yang masam, kecut dan campuran aroma lainnya, ditambah rasa malas merawat diri. Maka wajarlah ia jika merasa kehilangan kepercayaan diri, dan ketika ada celah, kesempatan yang menghampirinya…tanpa berpikir panjang ia menyambut, menangkap, dan hendak menggenggamnya erat.
“mas pung….perkawinan itu ga main-main, akan dibawa seumur hidup, kalau kamu memang serius, setidaknya kenalin dulu pacarmu sama ayah dan ibu, biar mereka tau seperti apa calonmu…” aku berkata selembut mungkin, rasa marah yang tadi hampir memuncak, mereda, menguap oleh kesadaranku sendiri akan keadaannya yang “istimewa”.
“kata ayah ibu disuruh kenalin pas lebaran nanti, lebaran kan masih lama mbak…!!” katanya sambil mengerjapkan mata, aku menarik nafas panjang, panjaaaang sekali.
“sudahlah, kalau dia jodohmu pasti nanti bisa kawin, kalau bukan….kamu ga usah khawatir, ibu bilang sama mbak, nanti kamu mau dicariin jodoh, anak saudara-saudara ibu kan banyak yang cantik-cantik, kamu tinggal pilih saja….” Aku membesarkan hatinya, memberikan sedikit harapan agar ia tak terlalu khawatir takut tak laku.
“ bener ya….cariin aku jodoh…” ia kembali menuntut penegasan
“iya…iya, tenang aja….ingat ntar habis kerja kamu pulang, biar ayah ibu ga khawatir “
“okey….pacarku tak putusin ah…kan nanti bisa kenalan sama anak saudaranya ibu…” aku terperanjat, terkejut oleh perubahan yang sangat drastis itu. Lihatlah ia…..betapa semena menanya, betapa kurang ajarnya memperlakukan cinta dan asmara. Seminggu kabur dari rumah demi mempertahankan cinta, berani berseteru dengan ayah ibu demi cinta, bahkan sepuluh menit yang lalu bersikukuh dengan alasannya mengapa ia harus segera kawin, namun tak ada semenit kemudian ia begitu mudahnya mencampakkan cinta itu, seperti membuang kulit pisang ke tong sampah saja…..
Kawan, sungguh aku tak mampu berkata-kata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar