INI SERABI AROMA PANDAN, KAWAN

IMPERIUM OF ME



Rabu, 10 Agustus 2011

ANTARA IPUNG, MAKANAN DAN PESANTREN

Kawan, masih ingat akan ceritaku tentang adikku ipung yang “istimewa” itu ? kali ini aku akan menecritakan sedikit lagi tentangnya, tentang betapa sangat dekatnya hubungan ia dengan sesuatu yang bernama “makanan”, dan betapa jauh niannya dengan sesuatu yang bernama “pelajaran”.
Sedari kecil ipung sangat gemar makan, makanan apapun itu pasti akan disantapnya, ia tak kan berhenti menggiling sebelum kantung perutnya berontak karena terlalu penuh dijejali makanan. Dan sangat wajar jika tubuhnya menjadi lekas besar melebihi aku kakaknya. Dalam hal makanan, seluruh syaraf pengecap dan radar perasa yang dimilikinya hanya akan menangkap dua hal dan membaca dua sinyal saja, yaitu “enak dan enak sekali”. Lidahnya tidak mengenal kata “tidak enak”, kalaupun ia tidak berselera pada suatu makanan, itu bukan karena ia tidak menyukainya, melainkan karena perutnya sudah tak mampu lagi menampung makanan yang masuk. Kalian kira makanan itu akan diacuhkannya atau bahkan akan ditolaknya? Jangan salah…ia akan menyimpan makanan itu, sambil menunggu sedikit celah agar ia bisa memakannya. Dan kalau sudah begitu, maka moment yang paling ia tunggu adalah sakit perut karena ingin buang air besar, sebab itu berarti muatan dalam perutnya akan berkurang, dan ia akan punya alasan untuk mengisinya kembali.
Ibu adalah sosok yang sangat keras dan otoriter dalam beberapa hal, kami anak-anaknya tidak ada yang berani membantah setiap kata yang keluar dari mulutnya. Maka demi melihat perilaku yang tidak wajar pada anak laki-lakinya terhadap makanan, ibu menerapkan satu kebijakan yang sangat tidak boleh ditolak oleh adikku. Kebijakan itu adalah setiap porsi nasi yang ibu sajikan, adikku harus menghabiskannya tanpa sisa. Padahal tahu tidak kawan, seberapa banyak porsi yang disuguhkan ?…menggunung dan padat….kurasa itu porsi cocok untuk kuli bangunan yang bekerja keras dan sudah dua hari tidak makan. Aku sering bergidik melihatnya. Dan, kebijakan itu membawa petaka bagi adikku, sekuat apapun ia berusaha menjejalkan nasi itu kedalam perutnya, namun tetap saja ruang dalam perutnya tidak cukup besar untuk menampungnya. Sering kulihat ia tersengal-sengal sehabis makan, wajahnya memerah dan matanya berair. Dan jangan coba-coba untuk menyisakan makanan itu, bola mata ibu melotot seperti hendak keluar saja, mulutnya merepet tak karuan, jika ia masih melihat ada sebutir saja nasi yang tertinggal. Adikku meringkuk menopang perutnya yang sakit karena kekenyangan, aku meringis iba karena tidak bisa menolongnya dan ayah hanya menggeleng-gelengkan kepala. Jika ada satu patah kata pembelaan yang keluar dari mulutku atau ayahku untuk adik, maka tak segan-segan ibu akan meledak seperti dinamit, ribut bak petasan, dan kami memilih jalan aman yaitu diam. Sejak saat itu, jam makan adalah jam paling mengerikan namun tak mampu dihindari olehnya, terkadang saat ibu lengah, saat adikku berbisik seperti meringkik “mbak…aku ga kuat!!”, aku memindahkan nasi itu kepiringku, lalu pura-pura kebelakang mengambil sesuatu, padahal nasi itu kucampakkan kesaluran air pembuangan, kusiram dengan air sebanyak mungkin agar tak meninggalkan jejak, walau sebutirpun. Terkadang aku berpikir, ini bukan keberkahan namun kekejaman, meski aku tahu semua itu didasari oleh kasih sayang ibuku yang sangat besar pada adik laki-lakiku itu.
Menginjak Sekolah Menengah Pertama (SMP), ayah memutuskan untuk mengirim ipung ke sebuah Pondok Pesantren di sebuah kota kecil di Banyuwangi, itu artinya kita akan berpisah dalam waktu yang cukup lama. Ibu merana membayangkan akan ditinggal anak lelaki kesayangannya. Ayahku berat hati, penuh harapan dan sedikit lega. Berat hati karena akan tinggal berjauhan dengan putra mahkotanya, penuh harapan untuk mengenalkan dan mengajarkan pada anak lelakinya bagaimana kehidupan diluar agar ia bisa mandiri, sambil berharap waktu akan menempa dan mengikis sifat kekanak-kanakannya, dan ayah sedikit lega hatinya karena itu berarti uang jatah belanja buat ibu bisa berkurang, sebab ditinggal satu anggota keluarga….hi…
Liburan semester pertama, ibuku menangis meraung-raung ketika melihat anak lelakinya pulang dengan tubuh kurus, wajah tirus, kaki dan tangan penuh dengan koreng dan bau badan seperti lem kaleng. Adikku mengerjap-ngerjapkan mata sambil tersenyum “ kalau ga korengan bukan santri namanya” katanya enteng, aku mendengus “dasar jorok” dia tergelak. Bagaimana tidak gatal-gatal dan korengan, kalau tempat mandi untuk ratusan santri, ponpes hanya memiliki kamar mandi yang terbatas dan satu kolam besar pemandian yang tidak memiliki sistem saluran pembuangan yang layak, walhasil tuh kolam airnya bisa sangat kecoklatan bahkan hampir menghitam tercemari daki ratusan santri, dan hanya sebulan sekali dikuras, itupun secara manual. Ayahku tersenyum simpul, memandang putra kesayangannya yang kelihatan sedikit dewasa, sedikit berwibawa, meskipun memang terlihat kurus. Disimaknya adikku dari ujung kepala sampai kaki, peci hitam beludru, kemeja lengan panjang yang sedikit lecak, sarung putih tergulung rapi. Demi melihat sebuah buku bersampul kuning, yang rupanya sebuah kitab kecil tergenggam dalam selipan jemarinya, hati ayah membuncah, bahagia meletupkan dadanya, ada pancaran kebanggan dalam sorot matanya, ah…tak sia-sia aku mengirim anakku jauh-jauh untuk menuntut ilmu, begitulah suara bathinnya. Maka digamitlah tangan adikku, direngkuh pundaknya dan diajaknya duduk bersama.
“kitab apa tuh pung…coba tunjukkan, ayah pengen liat”
“kitab kuning yah…” maka kian bersinarlah mata ayahku saat melihat deretan huruf arab gundul centang berenang dalam lembarannya, wah hebat nian anakku nih, baru semester pertama sudah bisa baca huruf arab gundul.
“coba baca pung…ayah ingin tahu”, wajah adikku pias, matanya mengerjap-ngerjap.
“a a aku ga bisa yah, la wong ini nemu dekat mesjid pondok…he…” ayah lesu kecewa namun tetap tersenyum, adikku nyengir menahan malu. Kawan, kami (terutama ibu) sangat memahami bagaimana lemotnya sulur-sulur panel di otak ipung dalam menangkap sinyal pengetahuan, maka harusnya ayah menyadari dari awal, bahwa ada ketidakberesan pada kitab kuning yang tergenggam dijemarinya, namun euforia kebahagian rupanya terlebih dulu membutakannya…siapa tahu…kata ayah sambil mengedikkan bahu.
Selama menimba ilmu di pondok pesantren, ada banyak harapan dan juga pesimisme yang ayah ibu kembangkan, namun apapun hasilnya kami tidak ingin mendahului rencana Tuhan, hanya satu harapan ayah ibu, adikku mampu jadi orang yang bermanfaat, setidaknya bagi dirinya sendiri.
Tiap dua bulan sekali ayah mengunjungi pondok untuk menjenguk adik. Dan setiap pulang selalu saja ada cerita yang membuat kami tersenyum dan geleng-geleng kepala.
“Ipung tuh bikin pusing aja, habis kataku dibuatnya”, ayah bercerita sambil mengelus dada, bahwa di pondok ipung tak mau ikut kegiatan ekstra kurikuler apapun, kegiatannya diluar kelas dan kegiatan pondok hanya makan dan tidur. Jika teman-temanya menghabiskan waktu dengan bermain sepak bola, voli atau kegiatan lainnya, adikku lebih memilih mendengkur di sudut masjid, terlentang dengan baju digulung sampai kedada hingga terhamparlah perutnya. Jika temannya membelanjakan uang sakunya untuk membeli baju atau perlengkapan sekolah lainnya, adikku lebih memilih membelanjakannya di warung yang terletak agak jauh dari pondok, yang menyediakan menu lebih bervariasi daripada menu diasrama. Jika adzan subuh bertalu, semua berbondong ke mesjid untuk menunaikan sholat, namun adikku kepergok sedang pulas dekat ruang kelas kosong oleh penjaga asrama, maka kena hukumlah ia.
Ketika awal semester kedua ada kompetisi pidato antar kelas, tiap kelas mengutus dua orator untuk jadi wakilnya, entah karena tak ada yang berani atau memang terpaksa tak punya pilihan lagi, adikku terpilih menjadi salah satu orator. Adikku menyanggupi, karena merasa tersanjung diberi kepercayaan, ia berlatih dengan giat, siang dan malam mencoba belajar berpidato dan menyamarkan aksen gagapnya. Teman-temannya mulai optimis, mulai merasa tak salah menjatuhkan pilihan, dan adikku kian bangga dan sedikit membusungkan dada karena yakin akan hasil yang akan dicapai. Namun kawan, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih....saat hari kompetisi tiba, bencana melanda. Acara dimulai dari jam 9 pagi, begitu banyak peserta, begitu beragam cerita. Ketika matahari tepat diatas ubun-ubun, ketika keringat dan rasa kelelahan bercampur kecemasan mulai melanda para peserta, ketika itulah giliran adikku tiba. Host acara memanggil nama adikku dengan lantang, adikku tak tampak, panggilan kedua, teman-temannya celingukan mencari-cari adikku, adikku tak diketemukan. Panggilan ketiga dan terakhir, teman-temannya panik, adikku raib. Dan karena tak memenuhi panggilan ketiga, maka didiskualifikasilah adikku dari kompetisi, teman-temannya lemah dan lesu.
Tahukah kalian kawan kemanakah adikku menghilang? Disana, disudut mesjid, tempat persinggahan rutinnya, disanalah ia mendengkur, lupa akan kompetisi, lupa akan draft pidato yang dihafalkannya siang dan malam, lupa akan yel yel semangat dari teman-temannya dan lupa dari jam berapa ia terlentang disana dengan baju tergulung sampai di dada, seperti biasa. Itulah adikku kawan, sosok yang tak mudah diterka, tak mudah diraba.
Selama tiga tahun menimba ilmu di pesantren, kurasa tak banyak ilmu pengetahuan yang mampu diserapnya, tak banyak ilmu agama yang mampu dicernanya. Ayah pusing tujuh keliling, ibu mengurut dada namun tersenyum mengerling, berharap anak lelaki kesayangannya segera dipulangkan. Dan akhir ajaran kelas tiga, lulus dengan nilai yang sangat paspasan, ayahku memutuskan untuk membawanya pulang. “Biarlah ia sekolah dekat sini saja, biar lebih mudah dipantau” kata ayah pasrah….dan kawan, bukan ipung namanya jika tak membuat masalah. Ketika ayah mengurus ijazah sekolahnya, pegawai bagian administrasi menyodorkan kartu SPP yang menunggak selama 5 bulan, ayah berkilah bahwa ia selalu rajin mengirim uang sekolah pada adikku. Petugas administrasi tersenyum sambil berkata “coba bapak tanya sama Ipung pak, kemana uangnya…kalau saya tak salah lihat, dia sering berkunjung di warung makan diluar sana”. Ayahku mencoba tersenyum menahan marah, giginya gemerutuk menahan emosi “ awas kau pung, bikin malu ayah saja”

3 komentar: