INI SERABI AROMA PANDAN, KAWAN

IMPERIUM OF ME



Jumat, 15 Juli 2011

REMAH PERTEMUAN

Awan putih berarak perlahan, seumpama gumpalan-gumpalan kapas yang mendekap birunya langit, diufuk barat rona jingga menyembul tersipu dan sesekali dua tiga atau lebih burung melintas berpasangan maupun berkelompok. Dan sudah satu jam aku duduk disini, dibangku kayu tua dibawah rindangnya pohon Angsana yang sama tuanya. 25 November, aku mulai gelisah, ku edarkan pandangan kesegala sudut berharap ada sosok yang akan muncul, menanti sebuah bayangan yang sudah 25 tahun ini membayangi dalam tiap tidurku dan bangunku.
Kurapatkan syal yang melilit leherku saat angin meniupkan udara dingin dan mempermainkan anak rambutku yang memutih, desaunya membelai kulit wajahku yang tak lagi kencang, usia telah mendekapku dan mengeriputkan seluruh kulit tubuh, tak ada satupun manusia di dunia ini yang mampu lari dari sesuatu yang bernama TUA. Kulirik kembali jam ditangan, kegelisahanku menjadi, detak jantung berderap, kecemasan mulai mendekap dan beribu tanya membuncah dalam dada. Akankah dia mengingatnya? Akankah dia menepati janjinya? Akankah dia datang? Atau mungkinkah ada halangan yang tidak memungkinkannya untuk datang?.....tapi bukankah janji telah tersepakati bahwa apapun yang terjadi, aral apapun yang menghadang, masing-masing harus tetap mengusahakan agar pertemuan tetap terjadi. Ini semua bukan semata demi sebuah romansa, tapi demi kenangan yang pernah tercipta dan dilalui bersama, demi semua keindahan, kepahitan, kebahagiaan, kekecewaan, keceriaan dan kegetiran yang pernah ada.
25 tahun yang lalu, dia perempuan masa laluku, perempuan rahasiaku, perempuan terlarangku. Dia adalah kesalahan paling indah yang pernah singgah dalam hidupku. Jika sore ini aku duduk disini menantinya, bukan berarti aku ingin menyambung kembali cerita yang sudah lama terputus, bukan berarti aku ingin mengais kembali sisa romansa yang pernah pupus. Tapi sekali lagi, ini demi sebuah janji, penghargaan dan kenangan yang secara jujur kuakui masih tetap membekas meski sudah 25 tahun tak bertemu. Demi sebuah ikrar yang telah tersepakati bahwa kelak kita akan bertemu kembali pada masa, tempat dan keadaan yang diketahui berdua saja, agar rahasia akan tetap menjadi sebuah tabir yang tak akan terungkap.
Satu setengah jam sudah berlalu, tapi anginpun belum memberi tanda-tanda akan kehadirannya. Aku sudah tak lagi muda, tubuh rentaku tak mampu lagi menopang waktu dalam rentang yg cukup lama. Namun kerinduanku, keingintahuanku, rasa penasaranku pada perempuan itu memaksaku untuk bertahan menunggu. Ku genggam erat tongkatku, kegelisahanku terbaca oleh rerumputan hijau yang terhampar disekitarku, degup jantungku menjadi gunjingan burung2 yang hinggap dipucuk-pucuk angsana. Semangatku naik turun seiring kian dekatnya sang raja siang menuju peraduannya.
Huh….kegelisahanku benar-benar memuncak dan perlahan berubah menjadi kekecewaan yang menyesakkan, mengapa dia tak datang? Sengajakah? Lupakah?....tak tahukah dia bahwa pertemuan ini begitu berarti buatku (begitu jugakah dengannya?)….harusnya kusadar perpisahan sudah membuatku tak lagi mampu membaca hatinya, kuyakin dia juga…jadi apa aku terlalu naif untuk semua ini?......
Dua jam berlalu sia-sia, ini memalukan dan entah mengapa aku merasa tercampakkan dan terkhianati. Aku menyerah…..aku bangun dari dudukku, kujentikkan selembar daun angsana berwarna kuning yang luruh dipangkuanku, ku gapai tongkatku dan kueratkan kembali pelukan syal dileherku, perlahan kulangkahkan kaki meninggalkan bangku tua dan pohon angsana yang menyaksikan kenaifanku, kemahatololanku dan betapa mudahnya aku tertipu oleh sesuatu yang bernama kenangan. Hatiku hancur, rasa yang sudah lama tak pernah kurasakan mulai timbul kembali satu persatu, dan itu memerihkan. Namun, pada hitungan langkah kesepuluh….tiba-tiba angin berdesir dan mendesau dibelakangku, langkahku terhenti, dengan ragu kubalikkan tubuh…..dan disanalah dia berdiri, dibawah angsana…. perempuan masa laluku…sama tuanya….dia datang dan tersenyum kepadaku, lalu ada sesuatu dihatiku yang tak mampu kujelaskan dengan kata……

3 komentar: