Kujelajahi perempuan didepanku dgn sudut mataku, dia berdiri memunggungiku, rambut panjangnya di ikat sekenanya, dan lihatlah, daster yang dikenakannya, lusuh, warnanya sudah tidak jelas, antara kuning atau krem terang. Kutelusuri kembali cuping telinga dan guratan lehernya, tdk ada satupun yang menggelayut diantaranya, kosong, jangankan logam mulia seperti emas, plastik murahanpun seperti tak sudi singgah. Dadaku sesak melihatnya, ku hirup kopi pahit yang disuguhkannya beberapa saat yg lalu dan kujumput sepotong singkong rebus yang masih mengepul dimeja, ku tiup lalu kukunyah perlahan. Kulayangkan kembali pandanganku ke perempuan tadi, tangannya sibuk mengerat tempe menjadi irisan kecil. Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan, ingin kutahu sebabnya, tapi selalu saja aku tak punya keberanian untuk menanyakannya, bukan takut utk mengatakannya, tapi takut mendengar jawaban yang akan ku terima, aku ngeri, malu, sebab akan terbongkar semua ketidakmampuanku sebagai seorang laki2. Tapi sungguh pertanyaan2 itu menggelitikku setiap saat sampai tak melenakan tidurku, sudah dua minggu ini aku memikirkannya. Dan sepertinya sekarang waktu yg tepat, tapi aku bingung harus memulai dari mana.
"ehem...ehem" prolog, tapi dia masih sibuk dgn tempe yang sekarang sudah akan digorengnya, kuhela nafas panjang
"bu..." akhirnya keluar juga kata pertamaku
"ya.." dia menjawab, tapi tidak menoleh
"sudah berapa lama kita menikah?" dia menoleh sekilas, ada kerutan dikeningnya, lalu kembali meneruskan pekerjaannya
"seingatku 25 tahun, kenapa?"
"pernahkah ibu merasa jemu dengan perkawinan kita?'
"sebagai istri atau sebagai wanita?" dia balik bertanya
"dua duanya" sahutku, ku hisap dalam2 rokok lintingku
"sebagai wanita aku terkadang jemu, jemu sekali, tapi sebagai istri, aku tau tak berhak mengeluh, karna ayahpun punya jawaban yg sama "keadaan"...dia menekankan kata terakhirnya. Asap mengepul dari mulutku, aku mengangguk angguk kecil
"menurut ibu, ayah ganteng apa jelek?" kulihat sekilas ada sedikit senyuman di sudut bibirnya
"jelek...." singkat, jelas, padat
"jelek dan miskin" gumamku, beretorika
"memang..." hmmm, ringan sekali dia menjawabnya, hatiku mulai melorot
"saking miskinnya sampai2 tidak bisa membahagiakan istrinya, tdk bisa membelikan ibu pakaian baru, bedak, gincu, apalagi perhiasan, padahal sebagai seorang wanita, ayah tau ibu menginginkannya"
"bukan ingin lagi, sangaatttt ingin" dari melorot, hatiku langsung nyungsep
"ayah juga payah, tidak mampu membelikan lauk yg pantas dan enak buat keluarga, masak tiap hari tempeee melulu" suaraku kian serak
"bu.....dari semua alasan diatas yang makin menggaris bawahi ketidakmampuan dan kekurangan ayah sebagai laki2, kenapa ibu masih mau mendampingiku?"
"karna ibu mencintai ayah" jawaban yg tdk memuaskanku
"cinta karna apanya?" penasaran
"ya ga tau, cinta aja"
"harus ada alasannya donk bu!!!" mulai gregetan
dia membalikkan badan dan menatapku lekat2, sejurus dia diam, lalu meluncurlah kata2 terindah yang pernah ku dengar
"untuk mencintai ayah, aku tak perlu alasan apapun, karna cinta bagiku adalah rasa, bukan materi dunia"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar