INI SERABI AROMA PANDAN, KAWAN

IMPERIUM OF ME



Jumat, 15 Juli 2011

KESETRUM

Kawan, pernahkah kamu kesetrum? Jika pernah maka tak perlu lagi kujelaskan bagaimana rasanya ketika ada sensasi sakit luar biasa saat ada aliran kekuatan besar menghantam tubuh sehingga mampu melemaskan seluruh persendian tubuh kita.
Ya sedikit tidaknya gambaran sensasi sakit seperti itu yang kutrima siang ini, semua berawal dari kesombonganku yang ternyata tak siap menerima konsekuensi dari ulahku sendiri, dibawah pohon yang buahnya kusebut buah singapur (entahlah apa nama resmi dan latinnya), aku dan temanku duduk mengobrol sambil menikmati segelas es kelapa muda, topic yg dibahas beragam dan campur2 mulai dari rutinitas yang menjemukan sampai acara pernikahan KD dan raul lemos, hmmm…sangat melenceng jauh dan keluar garis, tapi itulah yang disebut obrolan ngalor ngidul. Lalu entah bagaimana mulanya tiba-tiba aku membuat api dan menyulut petasan bagi diriku sendiri, seingatku aku hanya meminta temanku untuk menilai pribadiku secara jujur dan menanggalkan semua rasa sungkan karna rasa pertemanan, lalu mengalirlah kalimat-kalimat penilaian yang sensasi dahsyatnya seperti sensasi kesetrum tadi, menyakitkan memang tapi sekaligus mencerahkan. Aku terpaku mendengarnya, speechless…kurasakan keringat dingin menetes dipunggungku, demi melihat keadaanku, temanku meraih tanganku dan menanyakan apakah aku baik-baik saja, aku tahu dia merasa tidak enak padaku karena penilaiannya tentang aku terlalu jujur dan lugas, tapi begitulah seharusnya seorang teman, aku tersenyum dan berkata “yes, I am oke”.
Namun kawan, kritikan-kritikan pedas itu masih terngiang sampai jauh malam, aku terbaring dan tak bisa memejamkan mata, kutatap langit-langit kamar dan berusaha kembali mencerna kata-kata temanku tadi siang. Aku tidak anti kritikan pedas, hanya saja tak kukira sepedas ini, kejujuran terkadang menyakitkan, tapi setidaknya aku jadi tahu penilain orang lain yg sebenarnya akan diriku. Temanku bilang aku adalah orang yang sembrono dan loss, terkadang tak bisa menempatkan diri dan terlalu across the limit dalam pergaulan terutama over keramahan terhadap lawan jenis, yang memungkinkan adanya peluang negative yang mengesankan aku terlalu gampangan, sehingga secara tak langsung menjatuhkan nilaiku sendiri (bahasa kasarnya “aku mengobral diri terhadap laki-laki”). Begitukah aku???? Mungkin iya, kalau tidak temanku tak kan mengatakannya, entahlah…yang aku tahu aku pribadi yang mudah akrab dengan orang lain yang bisa saja baru kukenal, lelaki atau perempuan (tapi memang pada kenyataannya temanku kebanyakan dari kaum adam), sungguh aku tak pernah punya niatan sedikitpun untuk menonjolkan diriku sendiri, yang sayangnya kesupelanku terkesan menggoda dan bisa saja ada salah satu dari mereka mengintrepetasikan keramahanku berbeda, “RAMBU” itu yang harus kuperhatikan.
Aku tidak marah, tidak sakit hati atau merasa terhina atas kritikan itu, justru aku sangat malu menerima kenyataan bahwa ternyata aku selama ini tanpa sadar menguliti ketelanjanganku sendiri sampai-sampai mungkin bisa kehilangan respect dari orang lain, bahwa ternyata selama ini aku menilai diriku sendiri over value, bahwa apa yang kupikirkan dan kulakukan tak pernah mengindahkan atau mempertimbangkan dampak buruk yang pasti tidak akan menyenangkan bagi diriku atau bahkan orang lain.
Kawan…..bukankah memang hanya orang-orang disekeliling kita yang bisa menilai kita secara terbuka dan jujur, bukan diri kita sendiri, terkadang juga mereka yang pertama menyalakan alarm untuk memberi peringatan saat kita mulai melewati batas, bukankah teman yang baik adalah teman yang mampu menilai kebaikan dan keburukan kita secara transparan……
Aku menangis, malu dan bahagia…..malu akan penilaiannya dan bahagia memiliki teman yang menyayangiku apa adanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar