Awan mengandung mendung, padat dan likat, mungkin sebentar lagi akan melahirkan hujan. Dia mempercepat laju motornya, dan aku kian mengencangkan cengkraman diujung kemejanya.
“ sebentar lagi kita sampai, sudah dekat kok” suaranya timbul tenggelam ditingkahi suara angin dan deru motor. Namun rupanya langit sudah tak mampu menahan kemih, hujan tiba-tiba mengguyur deras, lebat sekali, membuat kita berdua basah kuyup.
Tiba disebuah ruangan persegi kecil, dia merogoh-rogoh saku celananya, mencari-cari sebuah kunci, aku menggigil kedinginan tertiup angin.
“masuklah!” ujarnya, aku mengekor saja dibelakangnya.
Sampai didalam ruangan persegi itu, kuedarkan pandangan keseliling, minimal dan khas kamar laki-laki. Sebuah televise, lemari kecil, home theater kecil, selembar kasur ukuran kecil, tepat diujung kamar ada gitar listrik warna hitam tergantung, lalu dibawah rak teve ada sepasang barbel, stik game, bola basket dan beberapa disk film dan lagu berserakan. Dia rupanya membaca pikiranku, “bujangan” katanya sambil tersenyum, lalu dia mengangsurkan sepotong handuk kering padaku. Aku kuyup, basah seluruh tubuh, kurasa sampai ke pakaian dalamku, duh…bagaimana ini, dimana kudapatkan baju ganti!!!. Dia menatapku sejenak, lalu membuka lemari kecilnya, mengambil sebuah baju dan celana pendek. “pakailah punyaku dulu, itu kamar mandinya dibalik lorong”, aku menurut. Kukeringkan rambut dan badanku, kulucuti semua pakaian yang membungkus tubuhku, aku terdiam sejenak…aku telanjang…begitu dekat dengannya, hanya dibatasi oleh sebuah tembok. Ada aroma nakal dan liar yang tersembul malu-malu menggodaku, aku bergidik, lalu kupecahkan balon-balon kenakalan yang sempat melambung dikepala, dan buru-buru ku bungkus kembali badanku dengan pakaian kering miliknya.
Keluar dari kamar mandi, aku tertegun, tenggorokanku tercekat melihatnya, dia berdiri didepanku bertelanjang dada, hanya mengenakan celana boxer biru bergaris. Aku menelan ludah, karena tak pernah merasa sedekat ini, tak pernah berada disituasi seterang dan sejujur ini. Lihatlah dada telanjang itu, begitu laki-laki dan bidang, bagaimana jika kuletakkan tanganku disana, menelusuri tiap lekuknya dengan lembut. Nafasku tertahan, beratus kunang-kunang terbang mengelilingi kepalaku, ada apa ini, mengapa hanya membayangkannya saja sudah membuatku pening….
Lalu aku tersadar dari lamunan saat kulihat dia juga terpana menatapku, ada yang salahkah???? Sejurus kemudian aku merasa darahku berdesir, degupku seakan terhenti, ketika kusadar akan ketelanjanganku sendiri. Dibalik baju yang kukenakan, tak selembarpun pakaian dalam menangkup bagian kewanitaanku, maka dua tonjolan di dada itu tak dapat disamarkan hanya oleh selembar pakaian. Aku wanita dewasa, dia lelaki dewasa, kita saling mencintai, kini berada dalam satu ruangan kotak persegi, masing-masing terhimpit oleh ketelanjangan yang disamarkan, maka atmosphere birahi itu sulit untuk ditutupi dan dihindarkan.
Dia mulai menghampiriku tanpa kata, akupun mematung dalam gemetar yang tak terbaca, mata kami saling bertaut, berpandangan lekat, ditingkahi deru yang tak menentu. Ah…semoga ini hanya mimpi, semoga ini hanya sebuah ilusi yang menggelembung dalam pundi-pundi otakku saja. Namun….ketika ada sentuhan lembut melumat bibirku, maka tersentakku bahwa ini semua nyata. Dia merengkuh pinggangku, membawaku dalam dekapan yang hangat, mengulum bibirku dengan lembut dan perlahan. Ada naluri yang menuntun tanganku untuk merangkul lehernya, ada desakan yang membisikiku untuk meraba dada bidangnya dan membalas setiap lumatan bibirnya. Lalu ciuman lembut itu berbalas dan berubah menjadi ciuman panas yang liar, saling memagut, mengulum, membelesakkan lidah, menyusupi setiap guratan birahi hingga tuntas. Kami terengah-engah dalam panas yang membakar tubuh.
Hujan tak jua reda, angin dingin berembus melewati kisi-kisi jendela dan pintu, tapi didalam ruang kotak ini, dua insan diselimuti hawa panas yang tak biasa. Kami masih saling berciuman, namun kini tak lagi berdiri, tiba-tiba saja tubuhku sudah berbaring diatas kasur, menahan berat tubuhnya yang menindihku. Kewanitaanku berdenyut dan terasa panas saat jemarinya mulai meremas buah dadaku yang mengeras. Aku menggeliat dibawah himpitan tubuhnya, meliuk mengikuti alur birahi yang menghanyutkan. Aku tersentak sejenak, saat kurasakan kejantanannya mengeras menindihku, ada kepanikan menjalariku, namun sungguh aku tak bisa keluar dari situasi ini (tepatnya tak ingin keluar). Nafasku…nafasnya…memburu. Aku terpejam saat dia mulai menanggalkan pakaianku dan pakaiannya dengan gemetar. Ini ketelanjangan yang sempurna dan sangat memalukan, namun semua terasa sah dan benar saat dilakukan atas nama sebuah kata yang paling absurd didunia, yaitu cinta.
Aku terkesiap dan menggelinjang saat dia menghujani tubuhku dengan ciuman-ciuman kecil, mengecap cuping telingaku, menyesap buliran keringat dileherku, menjelujuri buah dadaku, sampai ke area perutku dengan lidahnya. Aku mengerang, terpekik tertahan sambil mencengkram punggung telanjangnya yang basah oleh peluh, bergumul diantara suara gerimis yang merintik. Dan aku kian menancapkan kuku jemariku dipunggungnya saat kurasakan kejantanannya menusuk kewanitaanku, dia membungkam lenguhanku dengan melumat kembali bibirku, mengajakku bermain mengikuti irama, perlahan meniti tapak-tapak anak tangga birahi, berdansa, meliuk mencengkram dalam deru desahan dan gigitan, kadang cepat, kadang perlahan.
Semua terasa basah saat tempo irama kian cepat, ada gejolak yang meletup-letup serasa ingin meledakkan tubuh, kejantananya menghunjam kian cepat dan dalam, pekikan kecil tertahan silih berganti bersahutan. Dan dunia serasa berpusat hanya pada satu titik saja, terjepit diantara kedua paha. Lalu sejurus kemudian….dipusat titik itulah semua terbakar dan bermuara, meledak, meletup, membakar semua urat nadi, dan… nafas terhenti tersengal, erangan mereda, peluh menyusut, cengkraman meninggalkan bekas, dan birahipun terlampiaskan sudah. Aku…dia….berpelukan dalam kelelahan yang basah dan gelisah. Dan lihatlah diluar…hujanpun genap sudah.

“ sebentar lagi kita sampai, sudah dekat kok” suaranya timbul tenggelam ditingkahi suara angin dan deru motor. Namun rupanya langit sudah tak mampu menahan kemih, hujan tiba-tiba mengguyur deras, lebat sekali, membuat kita berdua basah kuyup.
Tiba disebuah ruangan persegi kecil, dia merogoh-rogoh saku celananya, mencari-cari sebuah kunci, aku menggigil kedinginan tertiup angin.
“masuklah!” ujarnya, aku mengekor saja dibelakangnya.
Sampai didalam ruangan persegi itu, kuedarkan pandangan keseliling, minimal dan khas kamar laki-laki. Sebuah televise, lemari kecil, home theater kecil, selembar kasur ukuran kecil, tepat diujung kamar ada gitar listrik warna hitam tergantung, lalu dibawah rak teve ada sepasang barbel, stik game, bola basket dan beberapa disk film dan lagu berserakan. Dia rupanya membaca pikiranku, “bujangan” katanya sambil tersenyum, lalu dia mengangsurkan sepotong handuk kering padaku. Aku kuyup, basah seluruh tubuh, kurasa sampai ke pakaian dalamku, duh…bagaimana ini, dimana kudapatkan baju ganti!!!. Dia menatapku sejenak, lalu membuka lemari kecilnya, mengambil sebuah baju dan celana pendek. “pakailah punyaku dulu, itu kamar mandinya dibalik lorong”, aku menurut. Kukeringkan rambut dan badanku, kulucuti semua pakaian yang membungkus tubuhku, aku terdiam sejenak…aku telanjang…begitu dekat dengannya, hanya dibatasi oleh sebuah tembok. Ada aroma nakal dan liar yang tersembul malu-malu menggodaku, aku bergidik, lalu kupecahkan balon-balon kenakalan yang sempat melambung dikepala, dan buru-buru ku bungkus kembali badanku dengan pakaian kering miliknya.
Keluar dari kamar mandi, aku tertegun, tenggorokanku tercekat melihatnya, dia berdiri didepanku bertelanjang dada, hanya mengenakan celana boxer biru bergaris. Aku menelan ludah, karena tak pernah merasa sedekat ini, tak pernah berada disituasi seterang dan sejujur ini. Lihatlah dada telanjang itu, begitu laki-laki dan bidang, bagaimana jika kuletakkan tanganku disana, menelusuri tiap lekuknya dengan lembut. Nafasku tertahan, beratus kunang-kunang terbang mengelilingi kepalaku, ada apa ini, mengapa hanya membayangkannya saja sudah membuatku pening….
Lalu aku tersadar dari lamunan saat kulihat dia juga terpana menatapku, ada yang salahkah???? Sejurus kemudian aku merasa darahku berdesir, degupku seakan terhenti, ketika kusadar akan ketelanjanganku sendiri. Dibalik baju yang kukenakan, tak selembarpun pakaian dalam menangkup bagian kewanitaanku, maka dua tonjolan di dada itu tak dapat disamarkan hanya oleh selembar pakaian. Aku wanita dewasa, dia lelaki dewasa, kita saling mencintai, kini berada dalam satu ruangan kotak persegi, masing-masing terhimpit oleh ketelanjangan yang disamarkan, maka atmosphere birahi itu sulit untuk ditutupi dan dihindarkan.
Dia mulai menghampiriku tanpa kata, akupun mematung dalam gemetar yang tak terbaca, mata kami saling bertaut, berpandangan lekat, ditingkahi deru yang tak menentu. Ah…semoga ini hanya mimpi, semoga ini hanya sebuah ilusi yang menggelembung dalam pundi-pundi otakku saja. Namun….ketika ada sentuhan lembut melumat bibirku, maka tersentakku bahwa ini semua nyata. Dia merengkuh pinggangku, membawaku dalam dekapan yang hangat, mengulum bibirku dengan lembut dan perlahan. Ada naluri yang menuntun tanganku untuk merangkul lehernya, ada desakan yang membisikiku untuk meraba dada bidangnya dan membalas setiap lumatan bibirnya. Lalu ciuman lembut itu berbalas dan berubah menjadi ciuman panas yang liar, saling memagut, mengulum, membelesakkan lidah, menyusupi setiap guratan birahi hingga tuntas. Kami terengah-engah dalam panas yang membakar tubuh.
Hujan tak jua reda, angin dingin berembus melewati kisi-kisi jendela dan pintu, tapi didalam ruang kotak ini, dua insan diselimuti hawa panas yang tak biasa. Kami masih saling berciuman, namun kini tak lagi berdiri, tiba-tiba saja tubuhku sudah berbaring diatas kasur, menahan berat tubuhnya yang menindihku. Kewanitaanku berdenyut dan terasa panas saat jemarinya mulai meremas buah dadaku yang mengeras. Aku menggeliat dibawah himpitan tubuhnya, meliuk mengikuti alur birahi yang menghanyutkan. Aku tersentak sejenak, saat kurasakan kejantanannya mengeras menindihku, ada kepanikan menjalariku, namun sungguh aku tak bisa keluar dari situasi ini (tepatnya tak ingin keluar). Nafasku…nafasnya…memburu. Aku terpejam saat dia mulai menanggalkan pakaianku dan pakaiannya dengan gemetar. Ini ketelanjangan yang sempurna dan sangat memalukan, namun semua terasa sah dan benar saat dilakukan atas nama sebuah kata yang paling absurd didunia, yaitu cinta.
Aku terkesiap dan menggelinjang saat dia menghujani tubuhku dengan ciuman-ciuman kecil, mengecap cuping telingaku, menyesap buliran keringat dileherku, menjelujuri buah dadaku, sampai ke area perutku dengan lidahnya. Aku mengerang, terpekik tertahan sambil mencengkram punggung telanjangnya yang basah oleh peluh, bergumul diantara suara gerimis yang merintik. Dan aku kian menancapkan kuku jemariku dipunggungnya saat kurasakan kejantanannya menusuk kewanitaanku, dia membungkam lenguhanku dengan melumat kembali bibirku, mengajakku bermain mengikuti irama, perlahan meniti tapak-tapak anak tangga birahi, berdansa, meliuk mencengkram dalam deru desahan dan gigitan, kadang cepat, kadang perlahan.
Semua terasa basah saat tempo irama kian cepat, ada gejolak yang meletup-letup serasa ingin meledakkan tubuh, kejantananya menghunjam kian cepat dan dalam, pekikan kecil tertahan silih berganti bersahutan. Dan dunia serasa berpusat hanya pada satu titik saja, terjepit diantara kedua paha. Lalu sejurus kemudian….dipusat titik itulah semua terbakar dan bermuara, meledak, meletup, membakar semua urat nadi, dan… nafas terhenti tersengal, erangan mereda, peluh menyusut, cengkraman meninggalkan bekas, dan birahipun terlampiaskan sudah. Aku…dia….berpelukan dalam kelelahan yang basah dan gelisah. Dan lihatlah diluar…hujanpun genap sudah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar