Apakah setiap malam melulu kelam, hitam dan mencekam? Aku meragu…maka kuintip atap jagad raya dari balik bingkai jendela, jawabannya adalah ketidakpastian. Pada buram malam, pijar cahaya berkejaran, meletup bergantian lalu membentuk siluet-siluet dan rasi yang sebagian tak kumengerti, tak kupahami dan aku tak peduli. Yang kutahu malam ini menyempurna dalam pelukan tingkap-tingkap kecil para galaksi.
Maka malam ini aku memutuskan untuk meletakkan pensil dan pena, menanggalkan khayalan beserta kata yang menjejal di kepala, melucuti gundah dan onak yang menikam benak. Akan kunikmati malam sempurna ini dengan membaca, hanya dengan membaca…..membaca dalam hingar. Apa yang hingar? Kerinduanku akan kamu yang terlalu bingar, saling sahut menyahut menciptakan echo yang memekakkan, membentuk stalaktit dan stalakmit yang mengendapkan, aku jenuh, aku muak pada kerinduan yang mulai melilit dan enggan bersahabat ini, sebab kau bagiku tetap sesuatu yang tak tersentuh, tak terpeta, tak terurai, tak terbasuh.
Maka malam ini biarlah kuadukan dukaku pada buku, kudesaukan risauku pada secangkir kopi, sebagian hatiku membenarkan, sebagian lagi mencari alibi atas nama simpati “mengapa harus dienyahkan jika tak ingin mengenyahkan” lalu debat yang membosankan dan tak berkesudahan timbul tenggelam kembali, mulai bersahut-sahutan. Dan membacapun hanya menjadi semacam pelarian.
Jika dengan membaca tak mampu jua terpecahkan, lalu apa lagi? Maka kusesap kembali secangkir kopi panas itu….perlahan….sembari menyelipkan sedikit harapan tentang kebebasan, malam ini ingin kupupus rautmu sejenak, ingin kubredel segala sesak, lalu kan kupanggil kunang-kunang untuk membawanya terbang ke belantara, “bawalah sejauh mungkin” bisikku, bawa pergi sajalah menembus langit, hingga tak terlihat mataku, tak terdengar telingaku, tak terjangkau rabaku, tak terkecap rasaku….pergi, pergilah sejenak dalam diam. Ijinkan aku menikmati malam ini dengan kebebasan, ditemani aroma kopi yang berloncatan……hanya malam ini, cukuplah semalam ini.
Pintaku pada malam, bantu aku untuk menceraikan tentangmu dari hatiku, hingga ku puas, hingga ku jatuh dalam lena yang pulas. Namun aku kembali meragu, bisakah malam membiusku dan melontarkanku ke ngarai yang sunyi dimana yang kudengar hanya semilir angin dan gemericik air? Mampukah ia menghantam ingatanku, lalu mencampakkanku ke pantai dimana hanya debur ombak dan butiran pasir yang menyisir?. Tak ada jawaban dari malam, aku menunggu….dan menunggu…tetap saja malam bisu dalam diam. Maka akupun menutup buku, menandaskan ampas kopi, sedang kamu tetap berjelaga dalam hati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar