Kawan, tak dapat dipungkiri bahwa banyak hal buruk bisa terjadi yang diakibatkan oleh masalah perut dan financial yang mengerut. Ditambah lagi kadar keimanan yang kian menyusut, maka bahkan kekerasanpun bisa melecut. Aku adalah salah satu wanita yang sering terombang ambing dan dipermainkan oleh hal mengerikan diatas, dan aku tak menafikkan itu. Inilah sedikit gambaranku tentang bagaimana mudahnya uang mengkorosi kestabilan emosiku, sehingga membuatku menjadi orang yang lupa akan kata “bersyukur”.
Akhir bulan, saat semuanya terasa menyusut dan mengering. Bermula dari grafik keuangan yang berada di titik mengenaskan yang kemudian akan merembet dan menjalar ke sudut sudut krusial lainnya seperti berkurangnya ketebalan dompet, kekosongan yang nyata melanda ruangan dalam kulkas dan semakin terbatasnya menu masakan yang ada dimeja makan. Tapi kawan, anehnya…dalam situasi yang serba menurun dan memprihatinkan itu, ketidakstabilan emosi dan penyakit darah tinggiku malah berada di puncak popularitas, melesat dan meroket. Maka semua terasa ada yang tak beres dan menjengkelkan dimataku, cucian kotor bisa kurendam sampai tiga hari, aku tak kan menyentuhnya sebelum baunya menyengat dan membuat tersedak penciuman para tetanggaku. Setiap mencuci piring atau gelas kotor, ada saja yang retak bahkan pecah. Semua hal, sekecil apapun itu bisa memicu penyakit hipertensiku kumat. Suamiku tersenyum aku merengut, tetanggaku keramas tiap pagi aku manyun, kucing lagi kawin dan buat keributan diloteng aku marah, ayam numpang tidur diteras sapu melayang, tokoh utama dalam sinetron dianiaya remote kubanting. Huaahhh….atmosphere terasa memanas dan membuat tak nyaman, semua kekacauan itu dikarenakan ketidakmampuanku menghadapi situasi sulit saat sesuatu yang bernama uang perlahan beranjak pergi dari dompetku….hi…(betapa menyedihkannya aku sebagai manusia ya…).
Seperti siang menjelang sore ini, pulang kerja ku longok isi kulkas mencari cari sesuatu yang bisa ku olah jadi masakan. Huft…yang teronggok dalam frezeer hanya balok balok kecil air yang membeku, tiada daging tiada ikan, eh masih ada sosis. Beralih dibagian bawahnya yang kutemukan hanya snack-snack, permen, batang coklat yang tinggal separuh dan makanan ringan lain milik anakku. Dibagian bawahnya lagi, sedikit bernafas lega, ada separuh papan tempe terselip diantara kota-kotak bumbu yang sebagian isinya sudah kering dan mengeriput…hi…, lalu terakhir beralih kebagian paling bawah, sambil harap-harap cemas mudah-mudahan ada sesuatu yang sedikit mencerahkan hatiku. Kubuka satu persatu kresek-kresek kecil yang kujejalkan begitu saja di box sayuran. Kol busuk, wortel keriput dan menyusut, bayam yang meranggas, nasib tauge yang menyedihkan, semua membuat hatiku semakin miris dan meringis. Aha….ada seikat kangkung yang masih segar kutemukan di kresek paling akhir, dua butir telur dan sekerat ikan asin. Kenapa tuh telur ada dalam box sayuran ya, biasanya kutaruh di bagian dinding kulkas, untung tak pecah, ini mungkin akibat dari penyakit pikunku yang akut. Dengan sedikit menggerutu, kukumpulkan semua bahan-bahan itu. Ku jumput pula kotak bumbu, yang isinya pun tak kalah memprihatinkan, dua butir bawang putih, bawang merah tinggal sesiung, tomat busuk, cabe kering….ah…semakin frustasi aku. Maka lihatlah proses pembuatannya, kangkung kupenggal besar-besar, batang tua pun ku sertakan. Tempe ku iris dan hanya kutaburi garam, telur ku kocok dengan sejumput garam juga, aneka bawang hanya kugunakan buat tumis kangkung. Aku mengeluh dalam hati….Tuhan, selalu seperti ini, kenapa hidupku tak pernah lepas dari sesuatu yang bernama kekurangan dan pas pasan? kenapa Tuhan tak berikan aku sedikit kesempatan untuk menyicipi sesuatu yang bernama “kelebihan?”. Kenapa roda nasibku selalu berada dibawah? kenapa takdir hidupku tertulis dalam kitab kemiskinan?. Dengan raut muka ditekuk, bibir maju beberapa senti, pandangan mata memberingas, dada naik turun karena kesal, belum lagi cacing-cacing diperut yang meronta karena dari pagi belum dijamah makanan, aku lalui acara masakku hari itu dengan menyalah nyalahkan nasib, menyumpahi takdir, mengkambing hitamkan Tuhan.
Langit menjadi oranye di ufuk barat, burung-burung terbang hendak kembali ke sarang, angin bersiul menghembuskan udara dingin, Agustus ini, ketika pagi dan sore tiba, udara masih saja tak kunjung hangat. Aku duduk bersila diatas kasur, mataku nanar menyimak sinetron korea di televisi, samar kudengar suara anak-anakku yang sedang bermain dengan anak tetangga sebelah. Perutku sesak setelah kuhantam dengan dua piring nasi tadi…he…, saking asyiknya, aku tak mendengar ucapan salam dari suamiku yang rupanya baru pulang kerja. Aku tersadar saat ada tepukan dipunggung, dengan terburu-buru aku menuju dapur, lalu dengan tergesa kembali lagi dengan membawa segelas kopi buat suamiku. Tanpa bicara ku serahkan saja segelas kopi itu, lalu kembali tenggelam pada acara teveku. Ketika jeda iklan, suamiku menyela.
“bu, masak apa hari ini?” tanyanya
“masak ga enak…”jawabku ketus
“tadi pas lewat, ayah lihat pak heru makan hanya sama sambal dan krupuk…”
Aku reflek menoleh menatap suamiku “kok ayah bisa tahu..?
“la wong dia makannya depan pintu” jawabnya ringan, maka aku segera paham maksud suamiku. Beranjak ku menuju meja makan, kubuka tudung saji, tumis kangkung, tempe goreng, telur dadar, sepotong ikan asin dan sedikit sambal.
“stok mie masih ada kan?” tanyanya kembali
Aku mengangguk, buat anak-anak masih ada sosis dikulkas, jadi biarlah malam nanti santapan yang tersedia mungkin hanya mie rebus. Ku ambil nampan, ku jejalkan semua masakanku tadi diatasnya, lalu bergegas menuju rumah tetanggaku. Benar saja, ku lihat pak heru tetanggaku duduk di depan pintu, tangan kanannya menopang sepiring nasi berlauk sambal dan kerupuk saja, hatiku menyusut, ingatku akan kejadian siang tadi yang secara babi buta, dengan seenaknya menyalahkan Tuhan. Lupaku untuk berkaca bahwa masih banyak yang jauh tidak beruntung dariku, masih banyak yang lebih sengsara dariku, yang untuk makan saja mereka belum tentu ada setiap hari. Sedang aku dengan pongahnya, menuding-nuding nasib mempermainkan hidupku, padahal tak setiap hari aku ditimpa kemalangan. Dengan tak tahu malunya mendemo dan memprotes Tuhan, padahal Tuhan lebih tau apa yang terbaik bagi hambanya. Menyumpahi takdir yang tak tahu permasalahannya. Htiku kecut, aku malu….maluuuuu sekali….
Saat kukembali kerumah, suamiku menatapku, ada kecemasan dimatanya dan berkata “besok masih ada yang bisa dimasak ga?”
Aku tersenyum dan mengedipkan mata “ serahkan saja sama Tuhan…dan…mertua” suamiku tergelak, aku terbahak, dan hatiku ringan, seringan kapas.
pade beih bing mon ta'dik pese muky ngamuk meloloh ateh ta' nyaman ta'iye
BalasHapus