INI SERABI AROMA PANDAN, KAWAN

IMPERIUM OF ME



Jumat, 22 Juli 2011

YANG TERHARAMKAN

Pukul tujuh seperempat, sebentar lagi dia akan keluar dari kamarnya untuk memanaskan mesin motornya, lalu dia akan duduk lesehan diteras depan sambil menghisap sebatang rokok sembari ditemani secangkir kopi hitam. Kemudian saat dia melihatku keluar dari kamarku, dia akan tersenyum padaku, hanya tersenyum, huh…padahal aku menginginkan lebih dari itu. Jantungku berdegup, ah…begitu hafalnya aku dengan rutinitas paginya, ah tidak, bukan hanya kebiasaan paginya, tapi kebiasaannya yang lain sedikit tidaknya aku juga hafal.
Kulirik jam di dinding, tujuh dua puluh, tapi kenapa belum terdengar juga suara motornya. Aku mondar mandir dalam ruang petak 4 x 4 ini, meremas jemari tangan untuk menyamarkan gelisah, menarik nafas panjang untuk meredam degup jantung. Aku benci situasi seperti ini, meraba dalam duga, menerka dalam tanya. Apa gerangan yang terjadi, tak dapatkah ia merasakan kerisauan ini, kerisauan yang sering kutiup lirih lewat kelambu jendela dan pintu. Aku terlonjak, saat lamat kudengar suara gerendel pintu terbuka, lalu semenit kemudian disusul deru suara motor. Ahai….si dia rupanya, dengan gemetar kusingkap bibir korden, mengintipnya dalam gelisah yang kian membuncah. “tenang” kuyakinkan diriku sendiri seperti biasanya, menarik dan menghela nafas panjang dalam beberapa hitungan dengan teratur, merapikan ujung kaos dan celana panjangku, menyisir anak-anak rambut dengan ujung jemariku.
Kubuka pintu kamar kos yang kebetulan langsung berhadap-hadapan dengan pintu kamar kosnya, pura – pura meregangkan badan mencoba menarik perhatiannya. Kulirik dia dengan ujung mataku, namun sepertinya ia tak mempedulikanku, atau tepatnya tak mau peduli. Dia begitu asyik dengan rokok dan kopinya, pandangannya kedepan menatap angin. Apa gerangan yang sedang dipikirkan laki-laki itu, tidakkah dia menyadari kehadiranku….gelisah kembali menyergapku, aku harus mencari cara untuk bisa menarik perhatiannya, syukur-syukur bisa bercakap, tidak hanya mendapat suguhan sekelumit senyum datar seperti biasa. Ehem…ehem….aku berdehem ….shit, trik kuno yang kampungan, tidak bisakah aku mencari cara yang lebih elegan dari hanya sekedar berdehem. Namun tak kunyana trik kunoku berhasil. Dia menoleh dan tersenyum padaku, hatiku berdesir, kudukku meremang, kakiku serasa tak berpijak. “pagi dik, aku telat bangun” ujarnya, aku semakin mematung tak percaya, benarkah pendengaranku itu, dia berbicara….ya dia bicara padaku, tidak hanya sekedar tersenyum, aku kian tenggelam dalam keterkejutanku. “Dika, namamu Dika kan???” dia mengulang menyapaku, mungkin dia keheranan demi melihat keadaanku yang seakan terbeku melihat sesuatu. “ha hai…Bram” aku tergagap, Tuhan…sudah sebulan aku menjadi tetangganya, namun dia masih belum yakin akan namaku, sedangkan aku malah sudah tahu akan kebiasaannya, bahkan lebih dari itu, aku juga tahu ukuran sepatu dan warna celana boxer kesukaannya, semua itu kuketahui secara tak sengaja saat aku melihat sepatunya dijemur di kursi plastik kecil yang diletakkan didepan terasnya. Dan tentang celana boxer itu, kuketahui dari hasil intipan yang sengaja, karna sungguh aku sudah tak mampu menahan rasa ingin tahuku akan segala tentangnya. Meski aku tahu balasan yang kudapat hanya ketidak pedulian yang sangat terang benderang. Tapi tak mengapalah, setidaknya pagi ini dia menyapaku, ada kemajuan kecil dari hari-hari sebelumnya. Saat aku berhasil menguasai kegagapanku dan ingin menyapanya lebih jauh, dia sudah menghilang dari hadapanku, tak kusadari motornya sudah berhenti berderu, cangkir kopinya tak lagi ditempatnya, yang tersisa hanya puntung rokok yang masih mengasap dan tergeletak begitu saja dilantai. Aku lunglai, ah mungkin dia harus bersiap diri untuk pergi bekerja, cukuplah untuk hari ini, bukankah akupun harus bersiap untuk bekerja pula, esok hari pasti akan lebih baik dari ini, dan aku kembali menutup pintu kamar dengan meninggalkan ragam rasa dalam hati yang tak lagi samar.
            Malam merenta ketika kutiba, angin malam berhawa hangat meniup ujung cuping telinga. Beberapa penghuni kos masih terjaga, ada yang hanya sekedar duduk di teras sambil merokok, ada yang sedang mengobrol dengan tetangga sebelah, bahkan diteras kamar paling ujung kulihat ada empat atau lima orang sedang bergerombol, ah mungkin sedang berjudi dengan kartu domino seperti biasa. Semua laki-laki, karna memang ini tempat kos yang hanya diperuntukkan untuk laki-laki, dan…bujangan, meski aku tahu tak semua penghuninya adalah bujangan. Kulirik kamar tetangga depanku, lampu kamar masih menyala, lamat kudengar suara riuh  televisi yang rupanya sedang menayangkan acara bola. Hmm…ini sabtu malam, Bram pasti tidak akan melewatkan tayangan olah raga kesukaannya. Dengan rasa penat yang membeban kubuka pintu kamar, dan langsung merobohkan badan diatas peraduan. Hari ini pekerjaan begitu menumpuk, sampai ku tak sadar aku bekerja hingga larut malam. Kulonggarkan dasi, kulepas dan kulempar sepatu sekenanya, memejamkan mata sambil mencoba merilekskan pikiran dan benak, akupun terjatuh dalam pulas.
Aku tersentak dari tidurku, ketika terdengar suara ketukan dari pintu kamar. Kulihat jam dipergelangan, pukul satu dini hari, gila….siapa sih yang tak tahu adat tengah malam begini mengetuk pintu kamar orang. Jangan-jangan joni lagi tetangga sebelah kananku, yang biasanya dengan seenaknya mengetuk pintu kamar orang tak kenal waktu hanya untuk keperluan yang tak penting.  Aku bergegas membuka pintu dengan rasa sebal yang tak terkira. “hai dik, aku boleh numpang nonton bola ga…antena teveku tiba-tiba rusak, kulihat lampu kamarmu masih menyala, jadi aku kesini” dia berdiri tidak sampai sejengkal dariku, hanya mengenakan kaus oblong dan celana pendek. Dia…ya dia….laki-laki yang belakangan ini kerap menghantui siang dan malamku, membuat mandiku tak basah, makanku tak bergairah, tidurku tak lena, hanya demi memikirkan siluet bayangnya saja. Tanpa kata aku mengangguk, mempersilahkan dia masuk. Tanpa sungkan dia menghidupkan sendiri televisiku dan langsung mengambil posisi yang nyaman untuk menonton. Aku tercekat namun tak keberatan, tiba-tiba aku merasa memang seharusnya seperti ini. Kututup pintu kamar perlahan, tak melepas pandangan meski yang kudapat hanya sebuah punggung yang aduhai sungguh bidang, dan aku disergap rasa bimbang. Nafasku sedikit tersengal, degupku tak karuan, keringat dingin meleleh disela kulit kepala untuk kemudian luruh menyingkap leher dan tengkuk. Aku terlempar dalam sebuah angan, bagaimana jika aku duduk disana menemaninya, memeluk sang pemilik punggung dari belakang, dan merebahkan kepala diatas punggung itu, oh….dapat kucium aroma tubuhnya, kusesap perlahan, kubelai punggung bidang itu, lalu aku cumbu dengan sedikit sentuhan…aku terpejam…
“Dika, ngapain kamu?” lamunanku buyar, saking kagetnya tanpa sadar tanganku melibas frame foto diatas meja sampai terjatuh. Kutangkap ada rasa heran dan segurat tanda tanya dari air mukanya.
“ee…Bram, mau kubuatkan minuman” aku mencoba mengalihkan keheranannya, sialan…betapa cerobohnya aku, dengan terang aku tertangkap basah sedang memejamkan mata seperti menahan birahi. Bagaimana jika dia tahu bahwa dialah yang berkecamuk dalam anganku? Ah semoga tidak, aku tak tahu bagaimana menyembunyikan muka menanggung rasa malu, jika dia sampai  tahu.
“Ga usah Dik, kamu lanjutkan saja tidurmu, suara tevenya kukecilkan biar ga ganggu” tolaknya. Ah bagaimana aku bisa melanjutkan tidurku jika dia ada disini, berada dalam satu ruangan sempit…berdua …dimana hatiku menyimpan rasa yang tak biasa. Aku mengganti pakaian kerja ku dengan kaus tanpa lengan dan celana pendek, saking lelahnya tadi aku tidak sempat mengganti pakaian. Aku mengambil tempat duduk dibelakangnya sambil menyandarkan tubuhku dibibir ranjang, aku akan berusaha sebisa mungkin menjaga jarak, karna sungguh malam ini hatiku benar-benar liar dan bergejolak. Dia menoleh sebentar padaku, tersenyum, lalu kembali pada tontonannya. Aku membalas senyumnya tertahan. Malam ini akan menjadi malam yang panjang dan paling menyiksa dalam hidupku, karena lelaki itu begitu terasa dekat dan tak berjarak. Tuhan, aku tahu ini tak boleh, semua ini begitu dosa dan haram, bahkan meski hanya dalam perasaan. Tapi bukankah Engkau yang menciptakan aku seperti ini? Mengapa aku Tuhan? Mengapa kau hadirkan aku dibumi ini tanpa pilihan?, sungguh semua ini telah membuat hidupku sangat frustasi. Aku tak menginginkan hidup seperti ini, terkungkung dan terkucil untuk menyembunyikan jati diri secara rapat, agar tak satupun orang tahu siapa aku sebenarnya, karna dibelahan bumi ini, orang seperti aku tak dikehendaki. Aku adalah lelaki matang dan dewasa, dalam aliran darah dan nadiku tersimpan hormon testoteron yang hanya meletup pada sesama jenisku. Ini tidak normal, tidak wajar, tapi aku sendiripun tak memiliki jawaban. Aku pernah mencoba mengalirkan hormon itu pada seorang wanita untuk beberapa lama, dan untuk kesekiankalinya pun aku gagal. Aku merasa menipu diri, pengecut, tak berani dengan jujur menghadapi kenyataan, dan cepat atau lambat itu hanya akan melukai hati pasanganku. Maka kemudian aku memutuskan untuk tidak lagi bersembunyi, kupongahkan dagu, kutekurkan tengkuk. Inilah aku yang dalam dadaku sudah tersemat kata “GAY”. Aku sadar dunia akan menentangku dengan gemilang, mencemoohku dengan sangat terang. Bahkan dalam kitab sucipun termaktub bahwa orang sepertiku najis dan terlarang. Dan Tuhan, jika Engkau memilihkan aku jalan hidup seperti ini, maka aku tau Engkaupun punya rahasia tersendiri, yang kuyakin bisa kusingkap dikemudian hari.
Maka malam ini, setelah digempur dengan perasaan yang berkecamuk, aku tertidur dalam hati yang  kelelahan, dalam kepenatan rasa yang melinukan. Tertidur bersandar ditepi ranjang, mencoba merangkai mimpi indah yang sudah lama terpendam. Lalu tipis kurasa…diujung kulit tanganku, ada sebuah tangan perlahan menggenggam…….

3 komentar: