Pagi menapak, bilah bilah cahaya mentari menyeruak di ufuk timur, dan langit belum begitu membiru ketika srindit di rerantingan mulai berkicau merayu. Semilir angin pagi berhembus perlahan, menyapa titik titik embun yang berjingkat-jingkat di pucuk dedadunan, bersenggama diantara hijaunya rerumputan untuk kemudian menguap terhisap hangat sinar mentari.
aku menandaskan tegukan kopi terakhirku, lalu bergegas menuju teras depan untuk memanaskan mesin sepeda motor, aku telah berjanji pada istriku untuk mengantarnya berbelanja ke pasar pagi ini. Kuambil selembar kain lap yang tersampir begitu saja di besi jemuran, lalu kupakai untuk membersihkan badan sepeda motor dari sisa-sisa debu yang menempel, ah…seadanyalah, toh tidak terlalu kotor. Sesekali kuhisap batang rokok yang tinggal separuh dan kini masih tertungging manis dibibir, asapnya mungkin akan sedikit mencemari udara sejuk pagi ini, tapi biarlah, cuek saja lah…bagaimana tidak, aku belum bisa menjauh dari benda satu itu, benda yang dijadikan salah satu nominator dari salah satu penyebab kematian nomer satu di dunia, bahkan ada yang lebih sadis dengan menyebutnya “pembunuh berdarah dingin”. Rokok ibarat istri keduaku, tidak percaya???? Tengoklah raut istriku saat mendapatiku sedang merokok, ada roman muka cemberut nyaris cemburu…hi…atau bisa juga kuibaratkan rokok bagiku adalah seperti Si buta dari gua hantu dengan monyetnya, jika dipisahkan…maka salah satu dari mereka hidupnya akan merana.
Terdengar suara langkah dibelakangku, rupanya istriku sudah siap untuk berangkat. Tak perlu mengenakan helm, karena letak pasar tidak begitu jauh dari tempat tinggalku. Ku bonceng dia menembus tipisnya kabut yang mulai merangkak menuju langit, bersiul sendiri menyusuri jalanan yang sedikit lengang. Disisi kanan kiri jalan, ada dua atau tiga ekor lebah dan kupu-kupu saling menyikut untuk mendului menyesap manisnya putik sari, dan kokok ayam jantan yang bangun kesiangan mengantar laju motorku keluar dari palang pintu perumahan.
Letak pasar berdampingan dengan jalan utama menuju area pusat perkantoran, ramai, riuh, seperti biasanya. Pagi ini jalanan rupanya agak macet, maka suara jeritan klakson kendaraan sahut menyahut memekakkan telinga, mewakili perasaan tak sabar dari sang pengemudinya. Suara-suara klakson itu tumpang tindih dengan lolongan para pedagang yang menawarkan barang jualannya. Dan matahari mulai meninggi, untuk menghindari teriknya aku memilih tempat parkir dibawah pohon perindang. Ah kutunggu saja istriku disini, urusan belanjaan kuserahkan saja pada ahlinya.
Sembari menunggu, kuambil sebatang rokok dari saku baju lalu kusulut. Mengedarkan pandangan, memerhatikan orang-orang hilir mudik, semua bergerak dalam tempo yang serba cepat, seperti ada yang harus lekas dibuat. Lapak-lapak pedagang ramai dengan dialog tawar menawar, menimbang, menakar, membungkus lalu membayar.
Diujung jalan dekat pintu keluar masuk pasar, pandanganku terhenti. Sepelemparan batu jaraknya dari tempatku menunggu, ada sesuatu (tepatnya, seseorang) yang menggelitik perhatianku. Seorang lelaki tua, kukisar usianya beranjak 70an, bungkuk dan renta. Duduk menepi di salah satu anak tangga bangunan pasar. Berkacamata tebal, mengenakan kaos lusuh yang berlubang dibeberapa bagiannya, dipadu dengan celana panjang rombeng yang tak kalah kusamnya, dan lihatlah kakinya hanya beralaskan sandal jepit yang juga tak kurang tipisnya dengan kulitnya sendiri. Dibawah kakinya seekor kucing kurus kurapan berbulu kelabu meringkuk, mengeong, sambil sesekali menjulurkan kepalanya dan menggesek-gesekkannya ke ujung jari kaki si kakek berharap dibagi sedikit makanan oleh sang tuan. Kakek tua itu sedang asyik menekuri sarapan paginya, yang baru dibelinya disebuah warung yang tak jauh dari tempatnya duduk kini. Sekepal nasi yang dibungkus daun pisang dan hanya berlaukkan sayur lodeh dan kerupuk. Mulutnya rupanya bekerja keras untuk mengunyah dan melumat makanannya, karna mulut itu telah dikhianati oleh gigi-giginya sendiri, tandas tak bersisa, yang tertinggal hanyalah sepotong lidah yang tergopoh-gopoh dan kesulitan mencerna makanan yang masuk. Disampingnya segelas teh (entah tawar, entah manis) menemani, bersiap dan bersedia jika tenggorokannyapun tak kuasa menelan makanan yang tak terkunyah secara sempurna Aku terenyuh dan miris melihatnya. Haruskah aku menghampirinya dan membelikan makanan yang layak buatnya? Bagaimana kalau dia menampik? Bagaimana jika dia menyalah artikan kebaikanku dan tak ingin dikasihani?, tanpa berkedip aku terus memperhatikan lelaki tua itu sampai dia menandaskan makanannya. Lalu aku dibuatnya tersentak, saat kulihat dia menyisakan makanannya untuk si kucing kurapan, sekepal nasi yang dari aromanya saja aku bisa menakar bahwa itu tak kan mampu mengenyangkan perutnya sendiri, tapi dengan lapangnya dia membaginya untuk si kucing. Sekecil kebaikan langka yang sudah sangat susah ditemukan di nusantara ini. Dengan tersenyum melihat si kucing kegirangan dia berlalu, menuju tumpukan karung yang penuh sayuran, langkahnya sedikit tertatih, letih, namun tetap tegar ketika karung itu terpanggul dipundaknya. Terseok-seok menahan muatan beban yang sudah tak mampu lagi dia taklukan. Ah, orang setua itu, serenta itu, masih gigih bekerja menjadi kuli panggul, demi sekepal nasi dan nasib yang masygul. Kubaca sebuah ironi ditengah negeri dimana pemimpinnya selalu berkoar tentang kemakmuran dan kesejahteraan, dimana nun jauh disana di sebuah gedung tempat para dewan berdasi dan merasa terhormat, justru menghamburkan dan memperlakukan uang secara tak terhormat.
Aku resah, resah demi melihat keadaannya dan ketuaannya, dengan melihatnya, ada sesuatu yang serasa mencubit hati, ada beberapa gambaran berkelebat dalam benak. Tiba-tiba aku seperti melihat pantulan diriku sendiri, bagaimana jika aku yang disana, bagaimana ketika sesuatu yang bernama tua telah memakan usia, saat tulang punggungku sudah tak mampu lagi berdiri tegak, ketika kulit mulai mengeriput dan meretak, mata tak lagi awas, urat-urat tangan dan kaki mulai gemetaran, uban berjejalan, mulut tak lagi bergigi, dan yang lebih menakutkan lagi…bagaimana jika sampai masa itu tiba, aku belum mampu juga menghargai apa yang ada, apakah aku akan menjadi tua dalam sia-sia. Lalu bagaimana jika nasibku pun seperti kakek itu, tetap bergumul dengan peluh hingga tua dan terlunta-lunta, tanpa sanak, tiada keluarga, ah bisa kurasakan betapa nestapanya. Aku bergidik memikirkannya. Lalu pantulan itu berubah, berbelah menjadi bayang ayahku, lelaki tua nun jauh disana, sekejap pula aku merindukan laki-laki itu, merindukan tawanya saat bercengkrama, merindukan tatapan matanya saat berbicara, merindukan segala hal tentang dia. Aku jadi teringat akan salah satu baris sajak dari Hasan Aspahani, dalam buku “telimpuh” nya.
Ada yang mesti lekas kau buat tuntas
Sebelum tanganmu tak lagi tangkas
Sebelum langkah tinggal kulai
Sebelum nafas sisa sengal
Ada yang harus segera kau bikin selesai
Sebelum waktu habis mengukur umur
Yah…banyak hal yang harus lekas kubuat tuntas, membenahi remah lalai yang masih berserakan, menyeka alpha yang kerap menggenang, membasuh khilaf yang tak jua insyaf, dan mulai menata apa yang belum tertata. Semua harus lekas dan tuntas, sebelum usiaku mengentas. Dan aku beranjak, saat kulihat istriku sudah melambai diujung jalan…….
NOTE: based on true story of mbah joyo sokromo nyruput kopi

aku menandaskan tegukan kopi terakhirku, lalu bergegas menuju teras depan untuk memanaskan mesin sepeda motor, aku telah berjanji pada istriku untuk mengantarnya berbelanja ke pasar pagi ini. Kuambil selembar kain lap yang tersampir begitu saja di besi jemuran, lalu kupakai untuk membersihkan badan sepeda motor dari sisa-sisa debu yang menempel, ah…seadanyalah, toh tidak terlalu kotor. Sesekali kuhisap batang rokok yang tinggal separuh dan kini masih tertungging manis dibibir, asapnya mungkin akan sedikit mencemari udara sejuk pagi ini, tapi biarlah, cuek saja lah…bagaimana tidak, aku belum bisa menjauh dari benda satu itu, benda yang dijadikan salah satu nominator dari salah satu penyebab kematian nomer satu di dunia, bahkan ada yang lebih sadis dengan menyebutnya “pembunuh berdarah dingin”. Rokok ibarat istri keduaku, tidak percaya???? Tengoklah raut istriku saat mendapatiku sedang merokok, ada roman muka cemberut nyaris cemburu…hi…atau bisa juga kuibaratkan rokok bagiku adalah seperti Si buta dari gua hantu dengan monyetnya, jika dipisahkan…maka salah satu dari mereka hidupnya akan merana.
Terdengar suara langkah dibelakangku, rupanya istriku sudah siap untuk berangkat. Tak perlu mengenakan helm, karena letak pasar tidak begitu jauh dari tempat tinggalku. Ku bonceng dia menembus tipisnya kabut yang mulai merangkak menuju langit, bersiul sendiri menyusuri jalanan yang sedikit lengang. Disisi kanan kiri jalan, ada dua atau tiga ekor lebah dan kupu-kupu saling menyikut untuk mendului menyesap manisnya putik sari, dan kokok ayam jantan yang bangun kesiangan mengantar laju motorku keluar dari palang pintu perumahan.
Letak pasar berdampingan dengan jalan utama menuju area pusat perkantoran, ramai, riuh, seperti biasanya. Pagi ini jalanan rupanya agak macet, maka suara jeritan klakson kendaraan sahut menyahut memekakkan telinga, mewakili perasaan tak sabar dari sang pengemudinya. Suara-suara klakson itu tumpang tindih dengan lolongan para pedagang yang menawarkan barang jualannya. Dan matahari mulai meninggi, untuk menghindari teriknya aku memilih tempat parkir dibawah pohon perindang. Ah kutunggu saja istriku disini, urusan belanjaan kuserahkan saja pada ahlinya.
Sembari menunggu, kuambil sebatang rokok dari saku baju lalu kusulut. Mengedarkan pandangan, memerhatikan orang-orang hilir mudik, semua bergerak dalam tempo yang serba cepat, seperti ada yang harus lekas dibuat. Lapak-lapak pedagang ramai dengan dialog tawar menawar, menimbang, menakar, membungkus lalu membayar.
Diujung jalan dekat pintu keluar masuk pasar, pandanganku terhenti. Sepelemparan batu jaraknya dari tempatku menunggu, ada sesuatu (tepatnya, seseorang) yang menggelitik perhatianku. Seorang lelaki tua, kukisar usianya beranjak 70an, bungkuk dan renta. Duduk menepi di salah satu anak tangga bangunan pasar. Berkacamata tebal, mengenakan kaos lusuh yang berlubang dibeberapa bagiannya, dipadu dengan celana panjang rombeng yang tak kalah kusamnya, dan lihatlah kakinya hanya beralaskan sandal jepit yang juga tak kurang tipisnya dengan kulitnya sendiri. Dibawah kakinya seekor kucing kurus kurapan berbulu kelabu meringkuk, mengeong, sambil sesekali menjulurkan kepalanya dan menggesek-gesekkannya ke ujung jari kaki si kakek berharap dibagi sedikit makanan oleh sang tuan. Kakek tua itu sedang asyik menekuri sarapan paginya, yang baru dibelinya disebuah warung yang tak jauh dari tempatnya duduk kini. Sekepal nasi yang dibungkus daun pisang dan hanya berlaukkan sayur lodeh dan kerupuk. Mulutnya rupanya bekerja keras untuk mengunyah dan melumat makanannya, karna mulut itu telah dikhianati oleh gigi-giginya sendiri, tandas tak bersisa, yang tertinggal hanyalah sepotong lidah yang tergopoh-gopoh dan kesulitan mencerna makanan yang masuk. Disampingnya segelas teh (entah tawar, entah manis) menemani, bersiap dan bersedia jika tenggorokannyapun tak kuasa menelan makanan yang tak terkunyah secara sempurna Aku terenyuh dan miris melihatnya. Haruskah aku menghampirinya dan membelikan makanan yang layak buatnya? Bagaimana kalau dia menampik? Bagaimana jika dia menyalah artikan kebaikanku dan tak ingin dikasihani?, tanpa berkedip aku terus memperhatikan lelaki tua itu sampai dia menandaskan makanannya. Lalu aku dibuatnya tersentak, saat kulihat dia menyisakan makanannya untuk si kucing kurapan, sekepal nasi yang dari aromanya saja aku bisa menakar bahwa itu tak kan mampu mengenyangkan perutnya sendiri, tapi dengan lapangnya dia membaginya untuk si kucing. Sekecil kebaikan langka yang sudah sangat susah ditemukan di nusantara ini. Dengan tersenyum melihat si kucing kegirangan dia berlalu, menuju tumpukan karung yang penuh sayuran, langkahnya sedikit tertatih, letih, namun tetap tegar ketika karung itu terpanggul dipundaknya. Terseok-seok menahan muatan beban yang sudah tak mampu lagi dia taklukan. Ah, orang setua itu, serenta itu, masih gigih bekerja menjadi kuli panggul, demi sekepal nasi dan nasib yang masygul. Kubaca sebuah ironi ditengah negeri dimana pemimpinnya selalu berkoar tentang kemakmuran dan kesejahteraan, dimana nun jauh disana di sebuah gedung tempat para dewan berdasi dan merasa terhormat, justru menghamburkan dan memperlakukan uang secara tak terhormat.
Aku resah, resah demi melihat keadaannya dan ketuaannya, dengan melihatnya, ada sesuatu yang serasa mencubit hati, ada beberapa gambaran berkelebat dalam benak. Tiba-tiba aku seperti melihat pantulan diriku sendiri, bagaimana jika aku yang disana, bagaimana ketika sesuatu yang bernama tua telah memakan usia, saat tulang punggungku sudah tak mampu lagi berdiri tegak, ketika kulit mulai mengeriput dan meretak, mata tak lagi awas, urat-urat tangan dan kaki mulai gemetaran, uban berjejalan, mulut tak lagi bergigi, dan yang lebih menakutkan lagi…bagaimana jika sampai masa itu tiba, aku belum mampu juga menghargai apa yang ada, apakah aku akan menjadi tua dalam sia-sia. Lalu bagaimana jika nasibku pun seperti kakek itu, tetap bergumul dengan peluh hingga tua dan terlunta-lunta, tanpa sanak, tiada keluarga, ah bisa kurasakan betapa nestapanya. Aku bergidik memikirkannya. Lalu pantulan itu berubah, berbelah menjadi bayang ayahku, lelaki tua nun jauh disana, sekejap pula aku merindukan laki-laki itu, merindukan tawanya saat bercengkrama, merindukan tatapan matanya saat berbicara, merindukan segala hal tentang dia. Aku jadi teringat akan salah satu baris sajak dari Hasan Aspahani, dalam buku “telimpuh” nya.
Ada yang mesti lekas kau buat tuntas
Sebelum tanganmu tak lagi tangkas
Sebelum langkah tinggal kulai
Sebelum nafas sisa sengal
Ada yang harus segera kau bikin selesai
Sebelum waktu habis mengukur umur
Yah…banyak hal yang harus lekas kubuat tuntas, membenahi remah lalai yang masih berserakan, menyeka alpha yang kerap menggenang, membasuh khilaf yang tak jua insyaf, dan mulai menata apa yang belum tertata. Semua harus lekas dan tuntas, sebelum usiaku mengentas. Dan aku beranjak, saat kulihat istriku sudah melambai diujung jalan…….
NOTE: based on true story of mbah joyo sokromo nyruput kopi
realita kehidupan....dikemas dalam bahasa yang apik......
BalasHapussueeer tulisane keren sekali, banyak kata indah bertaburan disana-sini...
BalasHapusindah pengenduweanakseket gitu lohhhhhhhh......
BalasHapuspesan moralnya kena banget.....
BalasHapusiki mergo enek kucinge mbak.....
BalasHapus