Senja meniti, beranjak ku ke dangau menyapa sepi. Menggeliat dan meronta dalam sendiri. Aku duduk melipat dagu, meraut Tanya agar tak keliru. Apakah dalam setiap guna tubuhku, mesti harus kamu yang memandu.
***
Karna dalam kedipku ada kebimbangan yang nyata. Dalam helaan nafasku ada gundah tak terbaca. Maka kulempar sgala risau ke ngarai, kubuang segenap lara kehutan, kularung seluruh nyeri ke pantai. Namun tetap saja aku meragu dan merindu.
***
Aduh, ada duri tertancap diujung jari kaki. Aduh, ada sirip ikan tersangkut ditenggorokan. Ku bekap bibir agar tak mengaduh, ku pinta ludah berhenti mengeluh. Koyaklah bila ingin, cabiklah bila mungkin. Biarkan rasa perih tergenapi. Biarkan pedih terpenuhi. Aku hanya akan menyesap tak peduli.
***
Buku ini pemberianmu. Kusibak, mengais kata, lalu luka. “bacalah” katamu, setiap bait akan kau jumpai aku, maka kamu tak kan lagi mendekap sembilu. Aku tersenyum dalam getir, meremas bukumu yang berbau anyir, setiap huruf dan kata menebar luka. Bagaimana aku bisa lari dari gulana. Demi setiap nektar dalam hatiku, semua kularung menuju pintumu. Bukalah jika ingin kau buka. Tepiskan bila tak ingin ditampa
aku pengen rujak cingur.....
BalasHapus