INI SERABI AROMA PANDAN, KAWAN

IMPERIUM OF ME



Jumat, 22 Juli 2011

CATATAN YANG HAMPIR DIBUANG

Nama aseli ku Siti Rohima, tapi aku lebih suka dipanggil Rahma, lebih keren dan “ngota”. Pekerjaan tetap dan terakhirku adalah tukang pijat “plus-plus” di sebuah tempat yang berkedok salon kecantikan, sebelumnya aku pernah mencoba berbagai macam pekerjaan, mulai dari pegawai lepas tukang sapu jalanan, sales minuman berenergi yang biasa mangkal di terminal, pelabuhan, atau dari spbu ke spbu lain, karyawan disumah makan padang sampai buruh cuci mingguan. Tak banyak pilihan pekerjaan yang bisa ku dapatkan apalagi hanya berbekal ijazah SMP, sulit dan mengenaskan, segala sesuatu yang berhubungan dengan kata “keberuntungan” sepertinya tak pernah berpihak padaku. Sampai entah bagaimana ceritanya, nasib yang mempermainkan hidupku, akhirnya aku terdampar di rumah border terselubung ini. Pekerjaan yang sangat menyenangkan, tak perlu kepanasan terpanggang teriknya matahari, tak perlu susah payah bergumul dengan peluh, dan yang penting uang mudah mengalir, bisa sepuluh kali lipat dari gajiku sebagai tukang sapu jalanan.
Awal mulanya sangat tak nyaman, risih, pertarungan hati yang begitu sengit, terjebak dalam dilemma pilihan antara dosa dan kebutuhan akan materi, namun waktu mulai membiasa dan lambat laun menjadi rutinitas. Semua kulakukan karna aku ingin mendapatkan uang yang banyak secara instant, terus terang aku lelah dan jenuh bekerja keras, banting tulang dari pagi sampai sore bahkan sampai malam, tapi uang yang dihasilkan tak cukup memenuhi makan satu bulan. Aku tak mau munafik, tidak mau ikut-ikutan membuat alas an standard an klasik hanya untuk membenarkan dan menutupi kelakuan bejatku, biasanya teman seprofesiku memakai alasan2 murahan agar orang memaklumi pekerjaan yang dipilihnya, misalnya: kecewa karena disakiti laki-laki, produk broken home dan lainnya, aku tak mau seperti itu, aku sangat jujur dengan hatiku, toh ini pilihanku dan aku sendiri yang akan menanggung konsekuensinya.
Hidup adalah ketentuan, menjadikan hidup itu baik atau buruk itu adalah sebuah pilihan, itu yang kubaca dari sebuah buku, dan aku menjatuhkan pilihan hidupku pada hal yang terakhir. Gunjingan dan cemooh dari orang lain yang awalnya sangat meremukkan hati, kini seperti angina lalu saja bagiku, sudah kubilang ini adalah pilihan hidupku, aku yang menjalani dan aku sendiri yang akan menanggung karmanya, ini pergulatanku dengan Tuhan.
Dosa???? Aku tau ini dosa, dosa sangat besar, kelak di akhirat MUNGKIN Tuhan akan menempatkan aku di kerak neraka yang paling dasar, hah…. MUNGKIN….pede banget aku, kenapa aku tak memakai kata PASTI, karma aku tak mau melangkahi Tuhan, hanya Tuhan yang berhak menilai dan menghakimiku bukan manusia. Meskipun aku bejat, tapi aku tak pernah menyalahkan Tuhan atas apapun yang berlaku dan terjadi pada hidupku, jadi untuk area spiritual cukuplah aku dan Empunya jiwaku saja yang tahu.

Yang berkunjung ke salon tempatku bekerja berasal dari beragam latar belakang dan profesi, dan yang pasti kebanyakan adalah para pria hidung belang dengan membawa beragam alas an murahan lainnya, aku tak pernah peduli jika mereka menceritakan kenapa mereka akhirnya memilih rumah bordir untuk memenuhi hasrat seksualnya, sebagai pelacur seperti aku, hanya dua hal saja yang kupedulikan, aku melakukan pekerjaanku dan mereka membayarku, beres urusan. Yang penting mereka sanggup membayarku dan uang dengan mudah tergenggam, aku tidak melacurkan diriku pada birahi atau seks, aku melacurkan diriku pada yang namanya uang, asal tahu saja….aku mati rasa pada yang namanya kelamin dan perbuatannya. Jika aku sedang melayani tamu, aku berpura-pura menikmati permainan, padahal sesungguhnya aku muak dan mau muntah, tapi itulah tuntutan profesiku.

Ah…entahlah sampai kapan akan kujalani pekerjaan nista ini, tapi sungguh jauh dilubuk hati ada niatan tuk kembali kejalan Ilahi, tak pernah surut, aku percaya seburuk apapun, sebejat apapun seseorang, pasti ada setitik niatan untuk kembali berbuat benar, dan aku yakin Tuhan maha pengampun bagi hamba-hambanya yang tersesat. Saat ini aku masih belum bisa meninggalkan surga dunia ini, aku hanya bisa berharap, semoga kelak, sebelum ajal menjemputku, aku masih punya waktu untuk bertaubat.

3 komentar:

  1. salon opo jenenge pengen iruh aku...hi..hi
    salon opo jenenge pengen iruh aku...hi..hi

    BalasHapus
  2. sek tak takoni, koyoke cedak prapatan batubulan....

    BalasHapus
  3. prapatan dimananya tuh ???

    BalasHapus