INI SERABI AROMA PANDAN, KAWAN

IMPERIUM OF ME



Kamis, 01 Maret 2012

KETIKA WAKTU MENGGENANG

Ada suara jerejak seperti pelepah dan ranting pohon yang diseret, ada derit suara timba yang ditarik diperigi. Kelopak mataku bergerak-gerak hendak menuruti telinga yang lebih dulu terjaga....lalu sunyi.....seorang laki-laki bertelanjang dada, dengan caping bambu dikepalanya sedang duduk menepi disebuah dangau ditepi sawah, sebelah tangannya menarik-narik seutas tali yang rupanya terhubung pada orang-orangan sawah yang terbuat dari gumpalan jerami yang dibentuk, sebelah tangannya lagi memegang sebuah buku yang sedang terbuka. Sesekali ada suara seperti siulan yang kasar, desahan serampangan yang keluar dari mulutnya sejalan dengan orang-orangan sawah yang bergerak-gerak, membuat takut segerombolan burung emprit yang berpijak pada pucuk-pucuk padi yang mencari celah untuk mencuri bulirnya. Namun mata lelaki itu, tekun tertuju pada buku ditangan satunya. Tiba-tiba....ia menoleh kepadaku lalu tersenyum.....kelopak mataku kembali bergerak-gerak, kali ini dibarengi kepalaku yang mencoba menjejak dan menerobos batas jagaku. Lalu kembali ada suara seperti air yang dijerang, ditingkahi suara desau angin yang membuat gemerisik rumpun bambu. Aku seperti mendapati tubuhku berbaring diranjang empuk kesayanganku di Surabaya, kuraba ruang kosong disampingku yang harusnya ada sepotong tubuh suamiku disana....namun tak kudapati....sunyi.....sekejap kudapati tubuhku terpental-pental dikursi penumpang kereta jurusan Surabaya-Jember, didepanku duduk seorang laki-laki yang rupanya serupa dengan lelaki yang kujumpai di dangau....dia tersenyum padaku....
Aku tersentak...nafasku berkejaran tak teratur, mengedarkan pandangan, mengumpulkan kesadaran....ini bukan ranjangku, bukan kamarku....aku melenguh seperti kerbau, menggeliatkan tubuh untuk mengendorkan urat yang tegang. Suara air terjerang, kusangka pasti dari dapur, aku menuju....seorang perempuan tua duduk pada sebuah dingklik kayu kecil, didepan sebuah tungku yang menyala, ia membelakangiku. Aku menyentuh bahunya dari belakang.
“eh, sudah bangun kau mar....sholatlah segera, sebentar lagi matahari mengintip”
Aku mengangguk, bergegas menuju perigi disamping rumah. Huh...airnya sedingin es, tak seperti air dirumah, yang selalu hangat setiap waktu, mau pagi buta, mau malam, tetap saja terasa hangat.
                Seusai sholat, sholat yang terlambat....aku duduk dikursi pentil yang ada diberanda. Ah...kokoh nian ini kursi, dari aku kecil sampai sekarang, tak reot rangkanya, hanya warnanya yang tentu saja memudar, dan kulit besinya sudah banyak yang mengelupas, seingatku dulu kursi ini berwarna biru, namun sekarang berubah menjadi putih bening. Aku memandang kosong ke jalan aspal kecil yang membujur dihadapanku, tak banyak kendaraan maupun orang berlalu lalang. Tak seriuh dan tak sepadat di Surabaya, tentu saja...ini hanyalah sebuah kampung yang masih merangkak-rangkak mengejar segala ketertinggalan, ketertinggalan yang diam-diam aku syukuri dikarenakan rasa bosanku pada gedung-gedung pencakar langit yang berhimpitan dan udara yang selalu saja kelabu. Malah dalam hati, aku berharap kampungku tetaplah menjadi sebuah kampung yang jika pagi tiba, aroma tanah yang segar dan embun-embun yang merambati pucuk dedaunan menyebarkan aroma kesegaran yang melonggarkan setiap rongga tubuh. Yang jika senja datang, langit dipadati serombongan burung plekok yang membentuk formasi V terbang berjejer untuk kembali pulang kesarang. Yang jika malam tiba, suara orang mengaji di surau timbul tenggelam bersahutan lirih, dan kunang-kunang bisa dijumpai dengan mudah menyembul riang diantara kelopak-kelopak bunga sepatu. Aku tak berharap kampungku cepat bertransformasi menjadi sebuah perkotaan dengan segala kegaduhannya.
Aku menyesap secangkir kopi hitam, merasakan aromanya, lalu kehangatan yang mulai merambat dalam rongga dada. Suara kliningan kalung sapi menarik perhatianku, kudapati sebuah gerobak yang dihela seekor sapi melintas, diatas gerobak seorang lelaki paruh baya sehitam arang menjadi saisnya. Gerobak itu meninggalkan setumpuk tahi sapi yang jatuh berceceran seakan memberi jejak. Tak lama... kumbang tahi dan lalat hijau berebut tempat mengerubuti tumpukan tahi itu. aku mengalihkan pandangan untuk mengalihkan rasa jijik, karna tak terbiasa. Seorang perempuan sedikit muda, bersarung dan berkaus biru memanggul sekeranjang sayuran dikepalanya, ia menoleh dan mengangguk kepadaku....amiittt.....aku membalasnya dengan anggukan dan senyuman. Keramahan khas kampung yang tak lekang, adab yang mengajarkan untuk sekedar menyapa atau mengangguk jika melintas didepan rumah orang. Sejurus kemudian sebuah pick up hitam merayap dengan kecepatan sedang, didalamnya duduk dua orang... laki-perempuan...tanpa obrolan. Si lelaki yang duduk dibelakang kemudi, ketika tepat berada didepan rumah...menoleh....aku terkesiap, sepertinya tak asing dimataku, tatapan mata yang sangat familiar. Kurasa dia pun merasakan yang sama, dahinya mengerut, ujung alisnya beradu, sampai pick up nya menjauh tak lepas tatapannya ke arahku, perempuan disampingnya tak mengetahuinya, ia tetap duduk kaku menatap kedepan. Pick up itupun menghilang dibalik pepohonan perindang dilajur jalan....menyisakan degup yang muncul tiba-tiba.
“wak....”
“hmmm....”
“apa kabar si Yusuf..???” sunyi...tak ada jawaban, lalu derap langkah kaki perlahan mendekat. Perempuan pemilik kaki rapuh itu menjejalkan pantatnya di kursi pentil yang berada disebelahku.
“ku kira kau tak akan menanyakannya....enggan mungkin...”
“tadi kulihat laki-laki serupa dengan dia...”
“pakai motor, apa pick up?”
“pick up....”
“hitam...?”
Aku mengangguk, kujumput sepotong ubi jalar rebus yang masih mengepulkan asap disebuah piring seng yang terdapat di meja kecil disampingku. Uwak memang merebuskannya untukku, katanya mencabut dari kebun yang ada dibelakang rumah. Aroma ubi itu khas, dan rasanya sangat manis.
“anaknya sudah tiga sekarang Mar, sukses dia sekarang. Sawahnya banyak, belum lagi dua buah toko kelontong di pasar semanding...”
“kau ingat Haji saleh...juragan gabah di kampung krajan?? Dialah mertua Yusuf. Kau ingat pula Zubaidah, anak keenamnya, yang dulu kalau sekolah tak pernah bersisir rambutnya, dan kau bilang baunya seperti terasi dibakar....” aku dan uwak tergelak pelan.
“itulah istri Yusuf, Mar....” uwak menarik nafas panjang, dijumputnya selembar sirih yang lalu diatasnya ditaruh sejumput kapur sirih, pecahan biji pinang dan sedikit taburan cengkeh, digulungnya dengan sedemikian rupa lalu dijejalkannya kedalam mulutnya, suara kunyahan parau terdengar.
“meski tak kerap, sesekali Yusuf menengokku Mar.....kedatangannya selalu membawa buah tangan, tak enak hati aku jadinya. Sebagai imbalan, aku kerap menceritakan perihalmu Mar, meski tak sekalipun ia menanyakan...”. uwak menyemburkan cairan dari ludahnya, berwarna merah menyala.
“sebagai orang tua yang telah banyak menyesap ragam kehidupan, aku tahu Mar...sangat tahu...Yusuf tak pernah menyisihkanmu dalam hatinya”
“ah....sudahlah wak....masa lalu...”
“bagaimana dengan istrinya wak....pernahkah Yusuf membawanya kemari, untuk sekedar dikenalkan??”. Uwak menggelengkan kepalanya.
“kudengar, tiga tahun yang lalu Yusuf hendak menceraikan istrinya...” aku menoleh ke arah uwak yang tatapannya justru tertumpu pada setumpuk kayu kering yang tersusun rapi di para-para. Sejurus kemudian uwak menyemburkan cairan berwarna merah, meludahkannya tandas, membuat cipratan-cipratan merah ditanah. Lalu kembali menjejalkan segulung kecil tembakau kedalam mulutnya, digosok-gosokkanya tembakau itu keseluruh permukaan giginya.
“aku maklum....orang kampungpun maklum....tabiat istrinya seburuk rupanya. Aku tak habis pikir, apa yang Yusuf lihat dari wanita itu, padahal sedari muda sudah terang benar tabiatnya. Kusangka....dulu Yusuf menikahinya karena melarikan diri dari sesuatu, tapi entah apa....”. keriuhan menyela, keokan ayam betina yang terbirit-birit dikejar ayam jantan yang menanggung birahi, mengalihkan percakapan. Ayam betina itu memberontak ketika paruh ayam jantan mematuk kepalanya. Si betina meloncat dan terbang keatas tumpukan kayu dipara-para, sang jantan tak menyerah, disusulnya si betina...si betina tersudut lalu tak dapat berkutik ketika beban tubuh sang jantan menindih kuat tubuhnya.
“sudahlah wak.....tak baik membicarakan rumah tangga orang lain...”
“astaghfirullaahhh.....kau ni yang cari gara-gara, kenapa pula kau menanyakan Yusuf yang membuatku akhirnya tak dapat menjaga lidahku” uwak melemparkan kesalahan padaku, aku tergelak pelan.
“tandaskan kopimu, segeralah ke makam, tuntaskan keinginanmu menyesap kampung ini, sebelum kepulanganmu ke kota esok....” aku mengiyakan perkataan uwak, menyisakan cangkir dengan ampas kopi, lalu beranjak meninggalkan perempuan tua itu.
**********
                Bukit hijau kecil itu masih menggunduk dibalik persawahan dan rimbunan pohon asam yang banyak tercecer di sepanjang jalan. Meski kudapati tak seterjal dulu, tapi keindahannya tetaplah tak dapat dipudarkan usia dan waktu. Dikaki bukit itulah kedua orang tuaku terbaring, bersama tubuh-tubuh tak bernyawa lainnya yang namanya hanya dikenali lewat batu-batu nisan yang telah lumutan.Tiga hari yang lalu orang tuaku menyambangiku lewat mimpi, meski hanya menyodorkan senyuman, namun ada semacam pertanda dengan makna tersembunyi yang kutangkap. Ada rasa bersalah yang lambat kusadari, bahwa sudah tiga tahun lebih aku tak menjenguk makam orang tuaku. Maka keesokan harinya aku cudak dari kantor dan pamit pada suamiku untuk pulang kampung dua hari saja, dengan tujuan menengok makam kedua orang tuaku.
Disinilah aku sekarang, setelah menaburkan irisan daun pandan bercampur dengan bunga kenanga, bunga gemitir dan bunga kantil diatas kedua pusara, aku takzim menundukkan kepala, memanjatkan doa kepada sang pencipta agar arwah kedua orang tuaku ditempatkan ditempat yang layak. Selesai berdoa, kuusap perlahan nisan putih yang memudar, mengharu biru dalam pendar sketsa wajah kedua orang tuaku. Tiba-tiba dari kejauhan kudengar suara deru sepeda motor melaju, suaranya mendekat, semakin mendekat, mendekat, lalu berhenti seperti tepat dibelakangku, terdengar suara motor dimatikan. Aku palingkan wajah mencari asal sumber suara, didepan pintu makam yang letaknya hanya sepelemparan batu dari tempatku jongkok, berdiri seorang laki-laki tegap dengan bertopi hitam. Aku tak mengenalnya, namun tatapan mata lelaki itu mengarah kepadaku....ya kepadaku, karena kulihat sekeliling tak tampak keberadaan orang lain di area pemakaman selain aku. Dan ketika lelaki itu membuka topinya....teranglah penglihatanku....darahku berdesir perlahan, dan aku sedikit mengumpat dalam hati. Kuhampiri laki-laki itu yang kini tengah bersandar pada sepeda motornya.
“kau kah itu Yusuf..???”
“apa kabar Mar....” suaranya tersangkut ditenggorokan, tingkahnya secanggung anak Tk yang baru pertama kali tampil kedepan, tangannya memilin-milin topi hitamnya. Aku tersenyum....sama kikuknya.
“tadi pagi waktu hendak kepasar, saat melintas didepan rumah uwak....kusangka ada yang silap pada penglihatanku, hatiku tak tenang ingin memastikan. Aku kembali ke rumah uwak kemudian untuk bertanya, dan uwak membenarkan bahwa pandanganku tak salah. Dan kesinilah aku menyusulmu....”.
Disisi kiri dekat pintu makam, ada sebuah tempat duduk semen setinggi lutut, yang sengaja dibuat untuk para peziarah yang ingin menikmati panorama bukit atau hamparan sawah yang menghijau seusai ziarah kubur. Panjang tempat duduk itu cukup untuk diduduki tiga atau empat orang, mirip halte namun tak beratap, dibawahnya...tepatnya disisi belakangnya, melajur selokan kecil yang airnya tak menutupi isi dan dasar selokan, seperti aquarium sehabis dibersihkan. Disanalah kami duduk, sedikit membuat jarak, sehasta mungkin....
“kira-kira 20 tahun ya suf....??” laki-laki itu tak menjawabku, kucuri pandang lewat ekor mataku, tak banyak perubahan yang kudapat, mungkin sedikit lemak yang menggantung di pipi dan perutnya, namun justru itu membuatnya kelihatan lebih segar daripada yang kujumpai dalam mimpi.
“berapa anakmu sekarang, Mar?”
“dua...”
“kenapa tak kau ajak anak dan suamimu ?...aku ingin mengenalnya..”
“aku hanya sekejap, esok pagi sudah balik lagi...”. lelaki itu memandangku, mengerjap...lalu bangkit.
“aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, mumpung kau disini....mumpung kita diberi kesempatan untuk bertemu, yang mungkin tak kan pernah lagi”. ia meraih tanganku, sedikit menyeretku untuk mengikutinya. Aku menepis genggamannya perlahan...mata kami saling beradu....diam...lalu ia meneruskan langkahnya, dan aku mengekor dibelakangnya. Kami melewati beberapa pematang sawah yang arahnya ketimur, sedikit berbelok untuk melingkari bukit. Setiba dibawah pohon asam yang besarnya dua kali lipat pelukan orang dewasa, ada bayangan dua remaja tanggung...laki perempuan....duduk bertumpu pada akarnya yang mencuat keluar. Si lelaki menyelipkan setangkai bunga bakung pada lipatan rambut sebelah kiri wanitanya....wajah lelaki remaja itu serupa Yusuf, dan wanitanya serupa denganku. Lalu kemudian bayangan remaja itu bias dan pecah, terberai oleh hembusan angin yang tiba-tiba berdesir menerpa wajahku. Ku terka Yusuf pun melihat bayangan yang sama, ada helaan nafas yang berat tersendat-sendat dari rongga hidungnya. Yusuf tak bersuara....aku menelan ludahku perlahan.
Kami terus melanjutkan perjalanan ke arah timur, dalam diam. Kira-kira lima puluh langkah, tibalah kami pada tanah lapang yang ketika kuperhatikan letaknya berada diantara bukit dan jalan raya.
“Masih ingat tempat ini Mar..?”
“ya....tempat kita dulu kerap menghabiskan waktu seusai Madrasah. Benteng-bentengan, sodor pasang, kasti....” aku tergelak mengingat semua.
“sekarang ini tanahku Mar....”
“sukses kau sekarang Suf....”
“tidak....aku terpuruk, pengecut, pecundang...”Yusuf menghentak sebatang rumput dengan kasar, meremasnya, lalu membuang mukanya dariku.
“ketika kau tak lagi membalas surat-suratku Mar, aku bertekad selepas SMA akan menyusulmu kekota. Namun tak kudapati kau disana, kata tetanggamu yang berwajah bulat itu, kau telah pindah. Aku kebingungan, tersesat dalam rimba kota yang sama sekali tak pernah kukenal. Berbekal ijasah SMA ku, aku mencoba bertahan dikota, mengais pekerjaan sambil berharap jejakmu dapat kutemukan. Namun kau seperti menghilang ditelan bumi, dan kota tak memperlakukanku dengan baik. Aku frustasi Mar....ke-tidakramahan kota masih bisa kutanggung, namun menyadari kehilanganmu untuk selamanya membuatku merasa terdepak dan tak diinginkan oleh dunia...”
Aku hanya mampu diam, tak dapat kujelaskan bagaimana dulu kudapati kedua orang tuaku menyita dan membakar surat-surat yang Yusuf kirimkan.
“aku kembali kekampung Mar, kuyu seperti seorang panglima yang kehilangan panji dan dipermalukan diarena pertempuran. Di kampung aku mengolah sebidang tanah warisan emak yang tak seberapa, merintis usaha kelontong kecil-kecilan. Lalu ada seorang Haji kaya raya yang mencari lelaki untuk dijadikan menantunya, untuk menutup aib yang dicorengkan anak perempuannya didahinya. Aku terima Mar, karena bagiku hidupku adalah kehampaan, dan jiwaku sudah lama mati...”. suara Yusuf bergetar....ada setitik air disudut mataku yang kutahan agar tak tumpah. Yusuf meraih pundakku, saling berhadapan, saling menatap lekat.....
“aku membeli tanah ini Mar, semata untuk mengekalkan kenangan akan kamu yang masih tersisa. Karna sampai saat inipun tak beres-beres ingatanku untuk menghapusmu. Ditanah ini aku berencana membangun sekolah Taman kanak-kanak, menampung bocah tak berpunya, tanpa memungut iuran wajib. Seperti cita-citamu dulu Mar.....”. bulir-bulir air itu tak mampu kutahan lagi, ia luruh perlahan menelanjangi perasaanku yang kututup-tutupi. Ibu jari dari sebuah tangan kasar menghapusnya....sunyi....aku tak ingin memperpanjangnya.
Ketika senja hampir usai, aku beranjak meninggalkan Yusuf, laki-laki itu terjejer dibelakangku dengan segala diamnya, sepanjang jalan pulang tak ada percakapan, seakan tak ada udara yang dihirup dan dilepas. Jika sesekali kakiku terpeleset ketika melintasi pematang, tangan Yusuf menyanggaku...sesaat, kami saling menepis....diam....
Sesampai didepan pintu pemakaman, dimana motor Yusuf terparkir semula. Aku hanya bisa menyeru namanya perlahan...
“Suf....ak...” sebuah bibir melumat ujung bibirku lembut, menghentikan kata yang ingin kuujar. Untuk sesaat jantungku serasa berhenti berdetak.
“tak usah kau katakan apa-apa Mar....aku tahu semua adalah masa lalu, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku tak pernah berhenti mencintaimu, sampai saat ini’
“maaf Mar, aku tak bisa mengantarmu pulang....aku tak ingin orang kampung mendapat bahan obrolan untuk mereka gunjingkan, tahu sendiri tabiat mereka. Salam ya buat uwak.....salam juga buat keluargamu dikota”. Kami berpisah....dalam ketercanggungan....sama seperti tadi ketika kami kembali bertemu. Motornya menjauh meninggalkanku.
                Keesokan paginya, sebuah becak mengantarku ke terminal. Ketika melintas didepan sebuah toko kelontong yang besar, ditengah riuhnya suasana pasar. Seorang laki-laki memanggul bocah perempuan kecil dipundaknya. Laki-laki itu melambai dan tersenyum padaku....aku membalasnya, lalu membuang pandangan kedepan dan tak lagi menoleh kebelakang. Suara derit becak terngiang-ngiang ditelingaku, berkejaran dengan deru nafas  sang pengayuh yang tersendat-sendat karena beban muatan.

Rabu, 30 November 2011

SELINGKUH MALAM


SELINGKUH MALAM

Boleh jadi malam melebam
Karena mendung menghisap gemintang
Boleh jadi langit memeluk durja
Karena rembulan tak lagi tertawa
Lalu, masihkah kau tampak elok
Wahai malam...?
Kala bulan dan gemintang kehilangan benderang
Lalu, masihkah kau tampil rupawan
Wahai pekat....?
Dipeluk langit memar yang liat
Angin lincah menderas
Menggiring hawa dingin yang membilas
Semakin malam tampaklah mencekam
Namun tiba-tiba, barisan kafilah kunang-kunang
Mencoba menyapa
Maka sambutlah mereka tanpa prasangka
Biarkan pendar cahayanya memerca
Menikam kemurungan malam yang gulita.

Selasa, 29 November 2011

....KEMARAU....


Kemarau garang dipenghujung musim,
Musim yang mulai bingung dan gusar
Kapan harus singgah, kapan harus berlayar

Kemarau musim ini, memedihkan dan lalim
Meretakkan tanah,
Meranggaskan tumbuhan,
Menandaskan air kali,
Menyusutkan isi perigi,
Ikan megap-megap sekarat, tak satupun selamat
Ular tanah meninggalkan liang tanpa bimbang
Ranting-ranting saling sikut terbakar sinar matahari
Memercikkan bunga api yang membelati
Dan petani, kelu tercekik. Menatap sawah dan ladang
Kehilangan harapan

Kemarau nan bengis
Separuh isi bumi dibuatnya menangis
Inikah yang disebut aroma neraka?
Aroma pengikis kerak dosa dosa

Tuhan, mohon luruhkan hujan
Lumatkan dahaga di tenggorokan
Tuhan singgahkan gerimis
Untuk memecah kemarau agar tak kian kalis

Dan kemarau yang galau,
Sudilah kiranya kau pergi merantau
Pergilah jauh, dimana tak ada satupun
Yang kau buat risau




Sabtu, 15 Oktober 2011

CERBER: STDTK (PART V)

FIRST KISS, FIRST LOVE

Kisah kali ini akan khusus membahas soal asmara atau cinta, all about love, aku dan sedikit kesintinganku, cekidot....
Ini ciuman pertama yang kudapat dari seorang laki-laki diluar anggota keluargaku, ayah, kakek atau paman. Ciuman pra akil balik, dari seorang laki-laki yang tak pernah sedetikpun terpikir olehku. Jangan kalian sangka ciuman itu ciuman yang panas, menggelora, basah maupun mendesah-desah. Buang pikiran seperti itu kawan, karena ciuman ini jauh dari sesuatu yang bernama birahi atau sejenisnya. Namun ciuman hasil kenakalan dan kejahilan dari seorang bocah laki-laki yang ingin menunjukkan eksistensinya.
Aku lupa tepatnya, kelas 3 atau 4 SD (jika itu berhubungan dengan ingatan, apalagi perkara angka, aku adalah pengingat yang buruk). Selepas istirahat pertama, aku menekuri pelajaran menggambarku dibangkuku, aku duduk di deretan tengah dibangku ketiga. Aku juga lupa sedang menggambar apa, yang masih terekam dengan jelas adalah ketika kusadari tiba-tiba disampingku berdiri sesosok tubuh menghalangi cahaya yang masuk lewat jendela, dan aku merasa tergaanggu, aku mendongak....dia nyengir, “opo???” tanyaku dengan nada tak senang, tanpa menjawab pertanyaanku dia mengambil penghapus dari mejaku, kubiarkan saja, karena ku tahu dia mungkin hanya meminjamnya sebentar. Bocah laki-laki itu berlalu dan aku meneruskan pekerjaan menggambarku. Tak ada guru yang mengawasi kala itu, guru menggambar kami sedang mengajar dikelas sebelah, maklum sekolah kampung kawan, satu guru bisa merangkap mengajar dua atau tiga kelas sekaligus. Tak beberapa lama, kembali sebuah bayangan tergambar dimejaku terbias cahaya, aku kembali mendongak....ah, bocah yang sama dengan cengiran yang sama pula, dia meletakkan kembali penghapusku yang ia pinjam tadi, aku tak mengacuhkannya karena terlalu sibuk dengan gambarku. Namun, setelah dia meletakkan penghapus itu, ia tak jua pergi, bocah lelaki itu masih berdiri disampingku, sekali lagi aku mendengus kesal merasa terganggu.
“minggir, ra ketok...(minggir, ga kelihatan)”, aku menatapnya tajam, dan dia makin nyengir tak beringsut, aku kian kesal, kudorong tubuhnya dia kembali, kudorong kembali dia kian keukeuh merapat. Aku jengah dan merasa sangat terganggu, dengan rasa marah aku berdiri, berkacak pinggang dan memelototinya. Sejarah ciuman pertamaku diawali kawan, dengan refleks, jitu, cepat dan tepat, bocah laki-laki itu menciumku. Secepat kilat, secepat angin, serangan mendadak itu tak bisa kuantisipasi karena sungguh tak kukira sebelumnya, aku tergagap, terkejut lalu berteriak. Dan sejurus kemudian aku menangis namun tersipu malu, karena seisi kelas menyoraki dan menggodaku. Bocah laki-laki itu tertawa penuh kemenangan, kemudian secara kalap dan membabi buta mengejar dan menciumi anak-anak perempuan dikelasku satu persatu. Kehebohan dan kegaduhanpun tak dapat dihindari, anak perempuan yang kena cium menangis sambil memegangi pipinya, namun ada rona merah yang tersemburat sesudahnya, yang belum kena cium berlarian menghindari kejaran sambil menjerit histeris seperti dikejar anjing gila. Anak lelaki lainnya bersorak memberi semangat, bahkan membantu menangkap korban yang kalah cepat untuk kemudian disosor, dan dicium sesuka hatinya, Sadis dan brutal. Para guru di kelas sebelah berlarian demi mendengar kegaduhan dikelas kami, namun setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, mereka hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Dan bocah lelaki pembuat onar itu hanya dijatuhi hukuman menyanyikan tiga buah lagu nasional didepan kelas. Hukuman yang bagiku sungguh tidak adil. Bagaimana tidak, karena kemudian, setelah peristiwa yang menjatuhkan harkat dan martabatku sebagai seorang bocah perempuan ting ting....he....sampai aku duduk ditingkat akhir, namanya disematkan didadaku oleh teman-teman bahkan oleh seluruh penjuru sekolah sebagai pacarku. Akibat dari penyematan gelar yang sepihak itu, sampai tingkat akhir, sampai menjelang kelulusan, tak ada satupun anak laki-laki yang mendekatiku. Padahal kawan, bukan hanya aku saja yang mendapatkan ciuman itu, hampir separuh isi kelas yang berjenis kelamin perempuan juga mendapatkannya. Ibarat konser tunggal kawan, aku adalah artis pembukanya saja. Jadi hukuman itu sungguh tak berperikewajaran. Dan terlebih lagi, aku tak menyukai bocah laki-laki itu, mengapa? Mari kuberitahu.....
Nama bocah laki-laki itu Nana, aku lupa nama panjangnya. Dilihat dari postur, wajah dan penampilan, memang dia terlihat menonjol diantara pria-pria kecil lain dikelasku, bahkan bisa dibilang seluruh warga dikelasku. Mari kugambarkan dengan gamblang mayoritas sosok yang mendiami ruang kelasku dulu, termasuk aku tentunya kawan…hi…penampilan kami kumal, dekil, wajah standard orang pribumi, rambut gimbal, kaku seperti ijuk dan bahkan tak jarang ada hiasan kutu beserta telur-telurnya. Warna kulit coklat mendekati kehitaman, entah apa memang warna kulit asli atau lapisan daki dikarenakan jarang mandi, aku curiga pada opsi yang terakhir kawan….he…kulit-kulit itupun banyak yang tak rata, bertaburan aneka hiasan dari penyakit kulit yang umum menggejala pada orang yang jarang mandi, tak usahlah kusebutkan, itu aib kawan, tak baik jika diungkapkan… he…, ditambah lagi penampilan yang amburadul dan bahkan tak lengkap. Maksudku amburadul dan tak lengkap itu kawan, kebanyakan baju seragam yang kami kenakan kumal, warna baju tak jelas, antara putih mendekati kecoklatan, belum lagi hiasan tambalan atau bekas jahitan disana sini, emblem yang tinggal separuh atau bahkan tak ada. Untuk bawahan pun tak jauh beda dan tak kalah mengenaskannya, rombeng, pinggiran yang lepas jahitannya, sabuk kadang ada, kadang diikat begitu saja dengan tali rafia. Sepatu sesukanya, yang punya ya pakai, yang ga punya sandalpun jadilah.
Sebaliknya Nana ibarat butiran emas yang tertimbun dalam tumpukan pasir kawan, kulit tubuhnya kuning langsat, mulus, tak ada secuil pun koreng, kurap, panu, kadas, borok maupun penyakit kulit lainnya yang banyak menjangkiti penghuni kelasku ( yang ini terpaksa ku klarifikasi untuk menghindari protes para penyakit kulit lain yang tidak ingin disamaratakan dan tak ikut berperan serta…ups…). Wajahnya tirus, hidung sedikit mancung, bibir kecil merah jambu, rambut sedikit klimis. Penampilan bersih, rapi  dan wangi. Tak ada seorangpun dari kami yang iri maupun cemburu atas ke “ke-menonjolan” sosoknya kawan, maklumlah ayah Nana seorang pegawai negeri sipil di salah satu kantor pemerintahan di kota, sedang ayah-ayah kami kebanyakan hanyalah seorang petani lahan garapan, kusir delman, pencari kodok atau ular, penjual krupuk keliling, penjual tikar pandan dan aneka pekerjaan tidak keren lainnya, yang jangankan untuk membeli sabun, membeli lauk sekeratpun kembang kempis. Tapi jangan salah kawan, meski tak keren, kami tetap bangga dan cinta pada ayah kami masing-masing (ya iyalah…masak sama ayah orang).
Meski Nana memiliki kriteria dan masuk kedalam kategori bocah laki-laki yang manis, cute dan menggemaskan, tapi…sungguh aku tak menyukainya, tak menyukai bukan berarti aku membencinya, hanya saja….ada sesuatu darinya yang tak kusukai. Padahal teman perempuanku yang lain sering bertingkah aneh-aneh hanya untuk menarik perhatiannya. Terkadang kutangkap ada seringai culas dari sorot mata bocah laki-laki itu, dan mungkin ini hanya terdeteksi oleh indera ke 6 ku saja…hi…..pokoknya tak ada SESUATU gituhh…..
Ternyata dalam hal selera , aku ini sudah payah dari dulu kawan, bahkan mungkin pembawaan dari lahir. Mari kusingkap tabir rahasia ini. Jika teman teman sebayaku waktu itu demam film kartun kura-kura ninja, aku masih saja menonton Si Unyil kucing. Jika teman-temanku histeris dengan serial Little Missy yang tayang tiap hari minggu di TVRI, aku masih saja terkesima oleh kedahsyatan film G 30 S PKI. Soal pilihan lagupun aku tak kalah payahnya, aku masih ingat waktu itu anak-anak perempuan baik di lingkungan rumah maupun sekolah tak henti-henti menyenandungkan lagu “mimpi” nya Aggun C Sasmi, lagu itu memang sangat Booming, istilahnya jaman sekarang, bahkan pada setiap buku tulis teman-temanku selalu terselip lirik lagunya. Namun aku kawan….jadi malu nih ngebahasnya, soalnya hanya akan menjatuhkan nilaiku sendiri….tapi demi tegaknya sebuah sejarah, dan terciptanya kejujuran yang adil dan beradab…hehehe, baiklah akan kubuka kemaluanku sendiri…ups….
Jadi begini kawan, disaat Anggun C Sasmi mampu membius  setiap gendang telinga teman-temanku, aku malah asyik sendiri meringkuk disudut kelas menyanyikan lagu “Gelas-gelas kaca” nya Nia Daniati, ataupun “Hati Terluka” nya Betharia Sonata, sedih, mengharu biru dan berkaca-kaca. Menyendiri demi sebuah penghayatan dan menghindari resiko ketahuan, takut diolok-olok dan dicemooh seluruh warga kelas.
                Maka tak perlulah kalian heran dan terkesima jika dalam hal selera pemilihan lawan jenispun, aku tak kalah kampungan dan mengenaskan, kata orang sono seleraku “out of date”, kadaluwarsa rek…hi…mengapa tidak, sudah jelas-jelas ditaksir cowok paling cute dikelas, aku malah terkagum-kagum dan mengidolakan bocah laki-laki lain yang duduk dideretan terdepan di kelas, jarak duduknya hanya sepelemparan penghapus dari tempat dudukku. Bocah itu dilihat dari sudut manapun, diteliti dengan menggunakan aneka ragam kaca pembesar model apapun, tetap saja jauh dan tidak bisa digolongkan kedalam golongan pria idaman wanita. Tak ada satupun bocah wanita dikelasku yang memperhatikannya, melirikpun tidak. Hanya pada saat ujian tengah atau akhir semester dia menjadi pusat perhatian, diluar itu...jangankan manusia, lalatpun enggan hinggap (kalo yang lain sering dirubung lalat....he...). hanya aku seorang, yang selalu mengaguminya siang maupun malam, dalam keadaan susah maupun senang, dalam keadaan penampilan yang buruk maupun sangat buruk...lebayyy...Mari kudeskripsikan sosok bocah lelaki pujaan hatiku kawan, simaklah.
Tinggi badannya rata-rata bagi anak usia 9 atau 10 tahun seumurannya, rambutnya hitam legam dengan model poni kedepan, model potongan rambut ini dikemudian hari dikenal dengan nama model “batok kelapa”. Warna kulitnya coklat tua, sangat tua, hidungnya setengah setengah, maksudnya tak mancung namun tak bisa dikatan pesek pula, bentuk wajahnya bulat, dan dari segi penampilan sangat tidak bisa dikatakan keren, apalagi cute, jauuhhh deh….namanya pun kawan, tidak “ngota” standar nama kampung “Imam wahyudi”, namun kawan, dari semua ketidak-keren-nan dan ketidak”kotaan” itu, ada sesuatu darinya yang mampu memikat hatiku, membuatku “Kuch kuch hota hai”. Hasil dari investigasi sulur-sulur indera keenamku, dia memiliki daya tarik yang tak dimiliki bocah laki-laki lain dikelasku, yaitu dia memiliki otak se-encer air, IQ se-cermelang bintang, peringkat dikelas? Tak usahlah kujelaskan, kalian bisa tebak sendiri, semua mata pelajaran dengan sangat mudah ia libas, tak perlu lirik sana sini, sekali dijelaskan oleh guru langsung mengangguk mantap. Sangat berbeda dengan kami, aku apalagi yang selalu tergagap dan terbirit-birit pada semua mata pelajaran, terutama mata pelajaran yang berhubungan dengan rumus maupun angka, jangan ditanya kawan, baru melihat sampul bukunya saja aku sudah mual-mual.
Namun kawan, cintaku bertepuk sebelah tangan. Imam pujaan hatiku tak pernah menghiraukanku, tak sedetikpun dia peduli pada perasaanku, mungkin tidak peka tepatnya. Beberapa cara kucoba menarik perhatiannya, namun dia tak tanggap-tanggap jua. Aku pura-pura pinjam pensil, dia malah berkata “Nana tuh punya banyak, pinjem aja ke dia”. Aku pura-pura pinjam penghapus, dia malah memberiku gelang karet “ini aja, penghapusku masih baru, sayang” katanya. Aku membelikannya es serut, dia hanya memandangku, kulihat ada cairan warna hijau maju mundur dari kedua lubang hidungnya, aku paham. Aku menyanyikan lagu Obbie messakh untuknya, dia malah menarik kuncir rambutku “syarap” ujarnya. Aku patah hati kawan, dan aku mulai berhenti bersikap aneh. Ternyata petuah dari nenek moyang dulu bahwa “cinta dan gila tipis bedanya” ada benarnya juga, buktinya setelah aku menyadari cintaku tak berbalas, dan memutuskan mundur, aku kembali menjadi makhluk yang normal.
                Sekarang, akan kubahas kisah asmaraku selanjutnya. Aku duduk di kelas enam sekolah dasar waktu itu, menjelang Agustusan, lomba antar sekolah digelar. Dan aku hanya jadi penonton saja, dari begitu banyak lomba yang diadakan, tak ada satupun yang masuk kualifikasiku, tepatnya aku yang tidak memiliki kompeten untuk megikuti lomba-lomba itu...hi.....
Aku duduk bersandar dibawah salah satu pohon perindang di halaman sekolah, menghindari terik, karena panas begitu menyengat. Semua orang memenuhi lapangan, bersorak sorai menyaksikan pertandingan voli, pertandingan antara tim sekolahku dan tim sekolah kampung sebelah. Aku terkejut saat sebuah batu kerikil kecil mengenai tubuhku, aku tolah toleh mencari asal si pelempar jahil itu, tak kutemukan tersangka. Lemparan kedua mengenai bahuku, aku kesal. Malas meladeni, aku putuskan masuk kelas saja, duduk dibangkuku dan merebahkan kepala diatas meja kayu, udara berhembus melalui kisi-kisi jendela, sejuk dan nyaman, aku terkantuk-kantuk dalam kesendirian, karena memang saat itu kelas kosong, semua terpusat dan berkumpul dilapangan. Ketika aku hampir tertidur, telingaku lamat-lamat menangkap suara keributan kecil diluar kelas, kasak kusuk yang tak jelas. Aku beringsut mendekati jendela, lalu mengintip keluar. Kulihat ada dua bocah laki-laki saling dorong didepan pintu kelasku, aku tak mengenalnya, jangan- jangan hendak berbuat tak baik, nyolong misalnya. Aku bergegas menuju pintu kelas, lalu sambil melipat tangan didada berdiri bersandar di bibir pintu. Dua anak laki-laki itu terperanjat, tak menyangka akan sambutanku. Sambil menaikkan sebelah alis, aku bertanya curiga.
“arep lapo (mo ngapain)?”
“Wahid pengen kenalan...” jawab salah satu anak laki-laki itu, aku menduga yang namanya Wahid adalah bocah kedua, berambut ikal dan berwajah bulat yang tersipu malu-malu bersembunyi dibalik bahu anak laki-laki yang menjawabku tadi. Bukannya merasa tersanjung, aku makin menaikkan alisku, roman wajah sengaja kusangarkan
“dari sekolah mana kalian?” selidikku
“Karang semanding” yang kusangka namanya Wahid memberanikan diri menjawabku sambil malu-malu.
“naik apa kesini?”
“truk...”
Aku balik badan, menutup pintu kelas, lalu beranjak kembali kebangkuku dan melanjutkan tidurku. Kedua bocah itu berloncatan dibalik jendela, saling bersahutan menanyakan namaku. Letak jendela kelasku memang agak tinggi bagi ukuran anak kecil, untuk melihat kedalam kelas harus sedikit meloncat. Karena aku tak jua menghiraukannya, akhirnya kedua anak laki-laki itu berlalu.
Seminggu berlalu sejak peristiwa itu, aku bahkan tak menganggapnya ada. Suatu hari, pada jam mata pelajaran terakhir, kurang lebih lima belas menit menuju jam pulang.  Tiba-tiba ada suara bel sepeda yang menarik perhatian kami seisi kelas, karena suara bel itu beruntun dan makin lama makin keras. Semua kepala menoleh dan tertuju kejendela, bahkan guruku. Aku tak mau kalah, bersama beberapa temanku naik ke atas kursi demi melihat suara bel sepeda siapakah gerangan yang menghebohkan itu. Tiba-tiba diantara ributnya suara bel itu ada suara yang memanggil-manggil namaku, aku kian menjulurkan leher dan beberapa pasang mata mulai melihat padaku, aku mengedikkan bahuku.
Dan disanalah dia, ditengah jalan raya yang lengang, seorang bocah kecil terpental pental diatas sepeda kumbang tua yang karatan, ukuran sepeda itu lebih besar dari ukuran tubuh pemiliknya. Aku menyipitkan mata dan mengerutkan dahi, hei....bukankah itu bocah laki-laki yang seminggu kemarin saling bersikutan didepan kelasku. Otakku mulai bekerja dan memahami. Bocah laki-laki itu melajukan sepedanya dengan kencang, sambil tak henti-henti membunyikan bel dan meneriakkan namaku, tepat didepan sekolahku. Lalu ia berputar kembali dengan cara yang sama. Teman-teman mulai bergunjing dan mengolokku, Nana memandangku tajam, Imam kian tak mengacuhkanku, aku pun tak ambil pusing. Tahu tidak kawan, bocah laki-laki berambut ikal dan berwajah bulat asli pribumi itu, ternyata memiliki karakter kesintingan yang tingkatannya hampir menyamaiku. Mengapa tidak? Beberapa hari berikutnya suara bel dan teriakannya semakin rutin terdengar di depan sekolahku, apa menariknya?????, tentu saja ada yang menarik kawan, karena untuk bisa mencapai sekolahku, dia harus mengayuh sepedanya sekitar 15 km hanya untuk melakukan ritual pemanggilan nama yang hanya sepersekian detik itu lalu pulang kembali. Kampung bocah itu lumayan jauh dari kampungku, namun demi sebuah cinta dia rela lintang pukang, terpental-pental, berpeluh keringat dengan sepeda tuanya. Manis kawan, sangat manis. Karena kegigihannya itu, aku mulai tersenyum dan bahkan selanjutnya selalu merindukan suara bel sepedanya jika dia absen datang. Ritual itu berlangsung sampai aku kemudian lulus sekolah dasar, dan kemudian aku tak lagi mendengar suara bel sepeda itu, pun kabar beritanya, karena aku hengkang dari kampungku, ikut orang tua ke kota. Sekali pernah kuberpikir, apakah dia mencari-cari keberadaanku? Patah hatikah dia? Aku hanya tersenyum simpul jika mengenangnya.
Kemudian hari, ketika aku mulai beranjak remaja dan dewasa, pilihanku terhadap lawan jenis tetaplah laki-laki biasa, sangat biasa, namun memiliki sesuatu yang tak banyak dimiliki oleh para pria tampan. Setiap kesintingan, ketidakwajaran, karakter yang kuat, selalu saja kutemukan pada pria-pria yang berpenampilan dan berwajah biasa, sangat biasa, bahkan buruk rupa. Dan aku mengumpat diriku sendiri karena selalu saja terkagum-kagum pada semua ciri dan sifat-sifat tersebut. Bukannya aku tak suka terhadap para pria ganteng atau tampan, aku tak munafik, aku suka mereka, namun masalah utamanya adalah, para pria tampan itu tak menyukaiku...hi...
Begini kawan, memiliki wajah tampan itu adalah sebuah keberuntungan, dan harus pandai-pandai memanfaatkan keberuntungan itu. memiliki wajah tanggung (tak jelek tapi juga tak tampan) adalah sebuah pilihan, jika kamu pintar menyiasati wajah tanggungmu, maka kamu akan terlihat tampan, namun jika tidak, maka yang menonjol adalah wajah biasamu. Tapi memiliki wajah jelek kawan, adalah sebuah suratan yang tak bisa ditolak, untuk menutupi dan menyamarkan kejelekan itu potongan rambut model apapun tetap tak cocok diaplikasikan, mau pake poni, belah tengah, belah samping, cepak, model artis malaysia, gundul apalagi, tetap saja kelihatan jelek, jadi sudahlah terima saja nasibmu...hi....
Satu sifat positif yang paling menonjol yang kebanyakan dimiliki oleh pria-pria jelek, yaitu tangguh dan tahan gempuran, karena selalu mendapat cibiran dari para wanita, mereka jadi tahan banting bila diejek, sifat ini perlahan membentuk rasa “e ge pe” yang membentengi diri sehingga tak mudah jatuh atau down bila menerima ejekan ataupun kritikan, karena sudah terbiasa.
Bravo buat para pria-pria biasa, paspasan, tanggung dan jelek.
Love you, doaku menyertai kalian.........