Senja yang gemetar dibalik jendela, kutatap awan yang kian beranjak petang, adakah Jibril mengawang memandu barisan? Aku menciut dingin dalam kesadaran. Senja ini gerimis turun rintik, menjentik kemarau panjang yang melinukan, dedaunan sumringah, putik sari bergairah, bumi sejenak meregang melepas lelah, dan mungkin dibalik awan yang mulai memetang ada kendali Mikail dan Ar-Ra’d tersamar.
Disinilah aku meringkuk dan menekur, sendiri menghitung umur. Umur yang banyak tersia, dengan sgala pongah tak berguna. Tiba-tiba aku ditubi begitu banyak ketakutan, ketakutan akan segala pertanggungjawaban yang pasti dipintakan. Bagaimana jika Izroil menghampiri, namun aku masih tetap dalam kelenaan? Bagaimana jika Isrofil seketika muncul dalam tiga kali tiupan, dan aku masih saja berkubang dalam kenistaan? Sungguh… betapa aku terperangkap dalam kerugian.
Gerimis ini mulai menderas, ribuan ujungnya menghantam genting lalu membias, sesekali langit bicara lewat cahaya, disusul gemuruh bak menuduh. Aku kian mengerut dibawah jendela serasa diintai selaksa Zabaniah. Terpejam, gemetar, menyusutkan ego manusiaku. Lalu terngiang….”dan bukankah kamu diciptakan dengan akal untuk bisa menentukan pilihan ?….dan bukankah selalu ada celah untuk menghindari kemungkaran?….namun kamu tak sedikitpun memetik pelajaran, kerap lalai dan mencari pembenaran”. Lengang …. Tak ada jawaban, bisu dan kelu.
Dan ketika saat itu tiba, saat tubuh tak lagi bernyawa, sesal tak lagi berguna, semua yang dibanggakanpun tak berdaya. Bisakah aku mendongakkan kepala dihadapan Munkar – Nakir, menjawab semua pertanyaan tentang masa, waktu yang dipercayakan…..berlinangku dalam kengerian, membayangkan mata, mulut, telinga, tangan, kaki saling berebut mengadukan kedzaliman yang tak kan mampu kusangkal. Lumpuh sendiku disergap hawa panas yang menguap meremukkan tulang, lecutan cambuk api serasa menikam. Aku tau Ridwan tak kan sudi membukakan pintu untukku, dan digerbang Malik-lah aku akan terdampar.
Terguncangku bersama isakan, ciut dan merapuhkan. Inilah aku, dalam separuh perjalanan yang terbuang sia-sia. Hujan ini meniupkan bisikan dihati....segeralah....segeralah....selagi masih diberi kesempatan untuk berbenah......
mrinding akumrinding aku
BalasHapus